Secuil Cerita dari Ijen, Ubud dan Flores

Pada penghujung tahun 2014 kemarin, saya secara impulsif memutuskan untuk pulang ke Indonesia selama spring break dan traveling ke daerah Indonesia Timur. Impulsif, karena dari jauh-jauh hari saya sebenarnya sudah merencanakan untuk pergi mengunjungi Pasqui ke London atau melancong ke daerah yang masih agak dekat-dekat saja dari Tokyo seperti Kathmandu di Nepal atau Ladakh di India. Keputusan yang menurut saya tepat. Karena kepulangan saya kemarin cukup membuat saya ingat beberapa hal krusial yang sempat tidak begitu terpikirkan lagi setelah beberapa bulan menetap di Jakarta dan kemudian Tokyo. Dua kota yang menurut saya penuh dengan ilusi.

Dua rekan saya dan saya sepakat untuk mengunjungi Baluran, Kawah Ijen, Ubud, Labuan Bajo, kepulauan-kepulauan kecil di Flores, dan Waerebo. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan soal Baluran dan Ubud, karena semuanya sesuai ekspektasi. Apa maksudnya tidak sesuai ekspektasi? Bukan, saya bukan membicarakan soal keindahan alamnya karena hal itu sudah mutlak memang indah, tapi saya membicarakan soal orang-orang yang saya temui di sana.

Ketika di Kawah Ijen, saya bertemu puluhan sulfur miner yang mengangkut belerang-belerang itu di pundak mereka dengan bantuan keranjang rotan. Mereka menggunakan boot karet murahan, dan dengan lincah melewati satu-dua bebatuan yang menjorok turun menuju kaldera. Sempat saya bercakap-cakap dengan beberapa pekerja, dan mereka dengan ringan mengaku bisa tiga kali bolak-balik ke kaldera untuk mengangkuti belerang. Asal tahu saja, saya membutuhkan waktu 5 jam perjalanan pulang-pergi untuk mencapai kaldera dari titik awal. Tahu berapa yang mereka hasilkan? Antara 50 ribu hingga 100 ribu rupiah. 50 ribu itu seperti uang makan siang saya di Jakarta atau uang kopi harian saya di Tokyo, yang dikeluarkan dari dompet dengan ringan tanpa merasa bersalah. Mungkin sekarang saya akan lebih berat mengeluarkan uang, menyadari value jumlah uang yang sama bagi mereka sungguh berbeda.

Ketika di Labuan Bajo, saya berkesempatan untuk mengenal baik seorang perempuan lokal bernama Kak Merry. Dia adalah karyawan di hostel tempat kami menginap. Rambutnya ikal kecoklatan, kulitnya legam akibat setiap hari bersentuhan dengan matahari Flores yang menyengat, tapi matanya selalu riang dan bersinar. Membuat saya suka dengannya sejak pertama kali berkenalan. Dari Kak Merry, Kak Kristo (supir kami saat di Flores), penjaga-penjaga hostel lain, juga orang-orang lokal yang kami temui dalam perjalanan, saya merasa agak stress. Saya ingat suatu hari, dengan bercanda saya bilang ke Daniel apabila saya tinggal lebih lama lagi di Flores maka saya bisa benar-benar depresi.

Bagaimana tidak, Flores sungguh kaya. Tidak hanya dengan keindahan pantai, kekayaan makhluk bawah airnya yang menjadi incaran para diver, keberadaan pulau Komodo serta objek-objek turisme ‘mahal’ lainnya, Flores ini juga kaya dengan hasil tambang. Tapi di hari pertama, supir kami si Kak Kristo itu sudah berkata bahwa hampir mayoritas tanah-tanah Labuan Bajo yang terletak di lokasi strategis sudah menjadi miliki para bule. Saya sudah curiga sejak kami turun di bandara karena sepanjang perjalanan ke hostel, beberapa kali saya melihat papan tertanam asal di tanah lapang, bertuliskan ‘Dijual’. Saya semakin merasa aneh karena ketika kami pergi ke Bukit Cinta, seorang penambang menghampiri saya dan Daniel, lalu menawarkan tanah pada kami. Saya tidak tahan lagi untuk tidak bertanya perihal hal ini pada Kak Kristo. Ternyata memang regulasi jual-beli tanah tidak ketat, dan penduduk kurang diberi edukasi soal pentingnya menjaga tanah mereka. Kak Kristo berargumen, mereka ini butuh uang cepat, dan ratusan juta sudah jumlah yang banyak sekali bagi mereka. Padahal, bule-bule itu mungkin juga mau membayar ratusan juta hanya untuk ngontrak tanah mereka. Beberapa hari setelahnya ketika kami hendak ke Waerebo dan menginap di lodge milik Om Martin, si Om bercerita soal pantai pasir putih di dekat area rumahnya yang sudah dibeli orang Prancis hanya dengan 300 juta rupiah saja. Ini pantai ya ampun…

Saya membayangkan nasib mereka lima tahunan lagi, ketika semua kedai-kedai kopi serta makanan dan penginapan sudah menjadi milik asing, lalu mereka hanya akan menjadi babu. Bukannya saya anti-asing karena saya tidak, tapi memikirkannya membuat saya merasa bersalah dan ingin marah, tapi tidak tahu ditujukan untuk siapa.

Kak Merry, penjaga hostel kami, bercerita bahwa dia digaji sangat minim sekali, membuatnya hanya bisa menyewa rumah papan yang bocor setiap hujan turun dan pengap saat matahari mulai tampak. Setelah mendengar ceritanya, setiap kali kami makan di tempat-tempat mahal yang terletak di tepian Labuan Bajo seperti restoran Made in Italy (namanya memang ini hehe, btw, enak lho pizza di sini), saya merasa bersalah. Dan karena nggak mau menanggung rasa bersalah sendirian, saya ceritakan soal ini ke kedua teman saya yang dua-duanya bule. Kita hanya bisa merasa bersalah, dan agak depresi. Karena perbedaannya sungguh kontras sekali, agak berbeda dengan Ubud atau tempat-tempat lain di Tanah Jawa. Kami memandangi jalanan Labuan Bajo dari atas. Orang-orang lokal yang tampak kotor, para backpacker dari belahan dunia, warung kelontong serta restauran lokal yang sederhana, dan kedai-kedai asing yang semuanya tampak indah desainnya.

Di satu senja ketika matahari pelan-pelan tenggelam, dari tempat duduk saya yang nyaman di Paradise Bar, saya melihat kehidupan di bawah kami. Saya berada di dunia saya sendiri, dan tidak menghiraukan seorang bule Amerika yang dengan aksen Amerika kentalnya bercerita soal Ibunya dia ke teman sesama diver-nya. Tidak juga menghiraukan Daniel dan Moe yang sama-sama masih mengagumi langit yang berwarna biru keungu-unguan. Saya diam saja, karena saya dilumuri rasa bersalah.

Tapi semua itu belum mampu membuat saya sampai menangis, hingga siang itu di tengah bis kecil yang sesak sekali. Ceritanya, malam sebelum kepulangan kami dari Labuan Bajo, kami baru akan membeli tiket pulang. Tiket pesawat di kisaran 500-800ribuan, tergantung mau naik Garuda atau tidak. Agak impulsif (lagi), saya bilang ke Daniel dan Moe bahwa saya akan naik bis dan travel sampai Bali. Keputusan yang impulsif, karena harga tiketnya sama saja. Dari Kak Merry, sebelumnya dia sudah memberi informasi apabila harga tiket bis travel Labuan Bajo – Bali adalah 600 ribu, dan perjalanan ditempuh selama dua hari satu malam. Tapi pertemuan dengan orang-orang selama kami berada di Flores membuat saya semakin tertarik untuk menyelami kesedihan saya sendiri. Berbaur dengan orang yang tidak seberuntung saya dan kalian, yang kebetulan tinggal di Jawa.

Siang itu kapal kami merapat di Pelabuhan Sape, setelah 6 jam menyebrangi lautan dari Labuan Bajo. Dari instruksi orang travel sebelumnya, dia bilang sampai di pelabuhan cari saja bis Dunia Mas. Dan saya menemukannya. Kondisinya agak menyedihkan, dan penuh dengan orang. Panas, dan baunya apek, tapi rasanya masih baik-baik saja. Saya duduk di samping Bapak tua berpeci hitam dan berkemeja batik coklat lengan pendek.

“Loh, njenengan ini kan yang kemarin naik travel dari Ruteng ke Labuan Bajo?”

Saya menatapnya lagi, mencoba mencari profilnya yang mungkin tersembunyi di suatu tempat di dalam kepala saya. Kemarin malam memang saya, Daniel dan Moe menggunakan travel untuk kembali ke Labuan Bajo dari Ruteng.

“Saya di sana juga loh, Mbak,” ucapnya dengan bahasa Jawa.

Akhirnya setelah bercakap-cakap, saya tahu apabila dia berasal dari Surabaya dan bekerja sebagai pekerja bangunan (ngelas?) di Ruteng. Beliau terlihat bahagia, meskipun bajunya tidak bagus, meskipun sandalnya sudah terlihat tua dimakan usia, dan saya sempat menemukan tas travel hitamnya yang lusuh sekali, terletak di antara kakinya. Namun Bapak ini terlihat bahagia. Lalu sebelum bis berangkat, ada anak-anak penjual nasi yang menawarkan dagangannya melalui celah kaca bis. Si Bapak ini membeli dua nasi, dan sejumlah jajanan lain.

“Monggo, Mbak, dimakan.”

Dan saya tidak bisa tidak merasa teriris-iris. Beliau terus bercerita, dan saya terus mendengarkan. Meskipun tidak benar-benar mendengarkan. Karena saya sedang marah. Juga merasa sedih dan bersalah. Saya tidak tahu kenapa tiba-tiba merasa begitu emosional.

Saya, entah mengapa, saat menulis ini menjadi ingat perempuan Inggris setengah baya yang saya temui di lobi hotel kami di Ubud. Semula kami membicarakan bagusnya sistem resort yang kami tempati, karena mereka memiliki SMK turisme sendiri, maka karyawan mereka adalah siswa-siswa mereka dulu. Lalu karyawan magang juga siswa-siswa mereka. Dia setengah menerawang berkata seperti ini, “Kenikmatan yang kita peroleh sekarang, itu seringkali di atas penderitaan orang lainnya. Misalkan, di masa penjajahan dulu kami menikmati rempah-rempah yang kami dapat dari kalian –negara yang dijajah. Thus, pay it forward.”

Maka kepada hak-hakmu yang dikhianati, kepada mimpi-mimpimu yang kaupaksa pergi, dan kepada penderitaanmu yang terlupakan di sini; dengan siapa aku bisa mengadu dan membantu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s