Sometimes it’s easier done than thought

Semua bermula pada awal tahun 2013, ketika saya hendak meninggalkan Jepang. Ada sesuatu di negeri ini yang membuat saya jatuh cinta. Saya jatuh cinta pada diri saya yang sangat menikmati Jepang. Perasaan menjadi anonym, karena hampir semua orang tidak mengerti bahasa Inggris, dan kamupun tidak mengerti kanji-kanji yang rumit. Perasaan menjadi anonym membuat saya lebih mudah dekat dengan diri saya sendiri, dan hal itu membuat saya semakin mengenal diri saya sendiri.

Di penghujung minggu terakhir saya di Jepang, ada sedikit keinginan yang terbersit, bahwa saya ingin meneruskan S-2 saya di Negara ini, dan pilihannya adalah Todai atau Negara lain. Saya yakin apabila saya masih menjaga keinginan saya ini, saya bisa merealisasikannya. And somehow I had the premonition that I’ll be back anytime soon. Dan saya memutuskan untuk tidak menarik semua uang saya dari bank Jepang saya. Itu menjadi semacam permainan dan perjudian, apakah saya akan bisa menariknya lagi dengan kembali ke sini atau tidak hehe.

Dan setahun setelahnya, saya tahu saya akan kembali lagi. Saya diterima di Todai, seperti rencana semula. Saya awalnya agak ragu antara melanjutkan sekolah kembali ke Todai atau LSE di London, namun di detik-detik terakhir deadline, saya tahu hati saya sebenarnya memilih Tokyo. After all, Todai is really not that bad. Alasan saya selain karena Todai merupakan salah satu kampus terbaik di dunia adalah karena, untuk belajar public policy, Todai yang juga memiliki perspektif Asia memiliki nilai plus. Selain itu, saya suka Jepang!

Perjalanan ke Todai mungkin tidak mudah, namun juga tidak sesulit itu. Yang penting adalah kita tahu bagaimana cara untuk meraihnya. Saya kira ini adalah tips yang penting. Setelah kamu tahu apa yang kamu mau, PR selanjutnya adalah tahu bagaimana cara mendapatkannya. Sebenarnya setelah diterima dan melihat teman-teman sekelas saya, saya cukup penasaran apa alasan mereka menerima saya. Saat itu saya tidak memiliki pengalaman kerja apapun, dan saya hanyalah lulusan UGM yang kurang fancy apabila dibandingkan dengan kampus lainnya. Saya juga tidak memiliki IP 3.75 ke atas, dan IELTS saya hanya 7 –nilai minimal sekali. Saya akan share tips yang menurut saya membantu saya dalam hal ini, dan semoga bisa membantu kalian juga.

1. Surat motivasi: kenapa kamu orang yang tepat untuk program ini?

Butuh dua bulanan bagi saya untuk menyimpan essay dengan judul MotivLetterFinalTodai.docx, slash butuh waktu dua bulan bagi saya untuk menyelesaikan essay. Dalam satu lembaran surat motivasi itu, saya memutuskan untuk bercerita. Saya tahu bahwa saya harus membuat tulisan yang tidak membosankan, dan hidup. Dan beruntungnya, bercerita adalah salah satu hal yang saya kuasai.

Kreatiflah dalam menjawab pertanyaan utama dari essay motivasi: kenapa kamu orang yang tepat untuk program ini? Ada banyak essay-essay kreatif, dan saya teringat ada satu essay dari applicant Harvard yang menceritakan banyak kelemahannya hingga dia ingin belajar di Harvard. Saya pernah memakai tips itu untuk salah satu essay saya, dan berhasil juga hehe.

Intinya, be creative in answering that particular question. Show off penting dalam essay ini, tapi jangan mengisi selembaran dengan full pamer kalian sudah ngapain apa. Berceritalah mengapa kalian orang yang paling tepat untuk program ini. Dalam surat motivasi saya, saya ceritakan masa kecil saya dan salah satu kejadian remeh di masa kecil yang membuat saya tertarik dengan ketimpangan sosial dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Lalu rangkailah dengan beberapa bukti bahwa apa yang kalian ceritakan itu benar (bukti bisa berupa award yang pernah kalian terima, atau kegiatan yang kalian lakukan). Terakhir, saya meminta teman bule saya untuk mengoreksi dan mengedit essay saya.

Anyway, saya dengan senang hati mau membantu kalian dalam menulis surat motivasi kalian 🙂

2. Surat rekomendasi: kamu dari perspektif orang ketiga

Ketika saya memikirkannya lagi, saya yakin surat rekomendasi saya cukup kuat dan itu adalah salah satu faktor yang mengantarkan saya ke sini. Saya mendapatkan surat rekomendasi dari salah seorang mantan menteri di Indonesia, dan seorang professor di Jepang yang juga merupakan alumni Todai. Proses meminta surat rekomendasi menurut saya adalah bukti nyata bahwa your network is your net worth. Pelajaran penting di sini adalah pintar saja tidak cukup, kita harus memiliki kemampuan interpersonal yang juga baik.

Ketika saya membaca surat rekomendasi dari keduanya, saya tahu saya memilih orang yang tepat untuk membuatkan surat rekomendasi untuk saya. Mereka benar-benar mengenal saya, dan tahu visi-misi saya. Professor saya di Jepang dulu bahkan menulis 3 lembar penuh surat rekomendasi dalam bahasa Jepang (yang kemudian karena sangat penasaran, saya meminta bantuan salah seorang teman saya untuk menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia). Beliau memberikan contoh-contoh kecil yang membuat saya juga terkejut bahwa hal-hal kecil yang saya lakukan dulu di kelas ternyata beliau perhatikan. That was one of the most beautiful recommendation letters I have ever read.

Penting untuk memilih orang yang kenal dekat dengan kamu untuk menuliskan surat rekomendasi yang personal dan bagus, dan adalah ekstra bonus apabila orang tersebut juga memiliki nama (dengar-dengar banyak institusi yang googling nama pemberi rekomendasi hehe, apabila banyak results yang muncul, artinya lumayan kredible kan).

3. Interview: be your own unique self 

Interview adalah bagian yang paling saya suka dari proses seleksi –entah itu interview kerja atau kuliah, hehe. Entah kenapa, mungkin karena saya sangat suka dengan bercerita. Saya suka ngobrol dengan orang tentang mimpi dan hal-hal semacamnya.

Ketika saya lolos seleksi pertama, maka tahapan kedua yang harus saya lakukan adalah interview. Karena saya tidak bisa ke Jepang, maka interview via skype. Interview berjalan lebih lama dari waktu yang ditentukan, dan saya merasa cukup percaya diri dengan hasilnya.

Tips interview adalah: be yourself. Tunggu, jangan muntah dulu karena tipsnya sangat klise (I know). Tapi memang itu tipsnya. Interview akan susah apabila kamu tidak begitu mengenal diri kamu, karena kebanyakan yang ditanyakan adalah seputar dirimu! Tapi mengenal dirimu sendiri tidak bisa dilakukan dalam waktu semalam. Jadi apabila kamu masih bingung, coba breakdown hal-hal seperti ini:

  • What is your strength and weakness?
  • What do you want in life? Where do you see yourself in the next 5-10 years?
  • Why should I accept you?
  • What is you passion?

At least hal-hal itulah yang seringkali ditanyakan. Hobi saya menonton film juga kadang-kadang membantu hahahaha. Saya ingat ketika interview pekerjaan saya di bulan November tahun lalu, calon boss saya bertanya:

D: Apa yang membuat saya harus menerima kamu? Ada dua orang yang menginginkan posisi yang sama, dan mereka lebih berpengalaman dan sudah menempuh pendidikan S-2.

F: I don’t know… but I think the most suitable answer for your question is because I do know that I always seem to surprise myself and if you give me the chance, I am pretty sure I’ll surprise you, too [and then I told them about some fun-facts and evidence, it was a coincidence because I often surprise myself ;)].

Sejujurnya, saat itu saya hampir saya melontarkan jawaban klise yang show-off dengan terang-terangan. Tapi kemudian, sepersekian detik sebelum menjawab pertanyaan itu, saya teringat quote dari film Marley and Me ketika Luke Wilson ditanya boss-nya apa yang membuatku harus menerimamu, dan more or less, itulah jawaban Mr. Wilson 😀 😀 😀

Anyway. To take everything into account, know what you want in life is one thing. The next thing is to know how to achieve it. Knowing your strength will surely help you to achieve whatever your dreams are. Yeah I know it is easier said than done. But trust me, since I’ve been there and done that, sometimes it’s easier done than thought. So just do it 😉

Advertisements

2 thoughts on “Sometimes it’s easier done than thought

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s