Life as a Grad Student

Hari ini tepat satu bulan saya berada di Tokyo untuk belajar lagi. Meski baru satu bulan, namun saya merasa apa yang saya baca dan niat belajar saya di sini sama dengan akumulasi satu semester di S1 dulu. Apabila mau dikalkulasi, maka langkah kaki saya mayoritas menuju kuliah, perpustakaan, kafe, dan rumah. Lalu aktivitas harian saya, adalah repetisi dari membaca, menulis, ngobrol dengan teman, jalan-jalan dan tidur. Bulan pertama ini memang saya masih jarang sekali masak, mengakibatkan tabungan mau tak mau juga ikut terkuras. Berjanji mulai kemarin akan mulai masak, tapi hari ini saja saya sudah dua kali jajan untuk lunch dan dinner šŸ˜¦

Saya menemukan mood membaca saya meningkat sekali. Dalam satu bulan ini, saya sudah me-reread After the Quake Murakami, mengkhatamkan Norwegian Wood setelah sekian lama tertunda, menyelesaikan How Will You Measure Your Life, dan memulai lembar-lembar awal 1984-nya Orwell yang sudah ingin saya baca sejak Agustus lalu. Saya cukup terkejut saat mulai menulis ini, banyak juga buku sampingan yang bisa dikonsumsi di samping aktivitas ‘settling down’ (termasuk ganti flatĀ sekali), jalan-jalan dan tentunya membaca kitab Microeconomy-nya Mankiw yang tiap minggu at least harus khatamĀ 2 chapter, membaca jurnal-jurnal energy security dan membaca slides-slides mata kuliah lain termasuk untuk kelas Statistical Methods yang penuh dengan angka dan formula (!).

Todai cukup keras bung. Mayoritas teman-teman saya sudah berpengalaman bertahun-tahun di ranah kebijakan publik, ada juga yang sebelumnya menjadi dosen dan diplomat. Satu kelas ada sekitar 30-an orang, 50:50 dari Asia dan non-asia. Dari Indonesia sendiri ada tiga orang termasuk saya. Satu teman adalah dosen, dan satu lainnya entrepreneur yang sebelumnya sudah pernah mengambil S2 di Cambridge (!).Ā Profesor saya pintar-pintar, dan ekspert di bidangnya. Saya memutuskan akan mengambil fokus energi. Saya mengambil dua mata kuliah energi semester ini, dan keduanya diampu oleh mantan direktur International Energy Agency. Begitu praktikal dan menyenangkan. Karena Todai cukup keras dan teman-teman saya lebih berpengalaman (dari survey singkat, salah seorang teman saya memberitahu bahwa kemungkinan saya adalah yang termuda di kelas!), maka tidak ada yang bisa saya lakukan selain belajar yang rajin. Dan mood belajar saya sering muncul di sini, mungkin karena atmosfer kampus yang gloomy-gloomy dan penuh hawa edukasi hahaha. Kemarin saya belajar 12 jam di rumah untuk microeconomy, dan hari ini saya sudah berada di perpustakaan selama 5 jam. Saya cukup takjubĀ sendiri saya bisa passionate dengan belajar hahaha.

Tentu, ada waktu-waktu di mana saya nggak mood, dan mood untuk melakukan hal lain seperti menulis cerita. Saya memutuskan sejak awal, bahwa saya akan mencoba lebih fleksibel dan follow the heart. Apabila saya sedang nggak mood, ya udah nggak usah dipaksa belajar šŸ˜‰

photo 1

Life as a grad student part 1. Salah satu tempat favorit di kampus selain perpustakaan.Ā Latte di Starbucks Jepang harus double shot espresso, otherwise rasanya cuma susu.

photo 2

Kalau belajar di rumah. Meja belajarnya edisi super mini. Kamar 6 juta yang kayak kandang kelinci saking kecilnya.

Advertisements

3 thoughts on “Life as a Grad Student

  1. Menarik banget feel! Teman kuliah kamu senior semua ya. Hebat! Semangat belajar di sana ya! šŸ™‚

    Ada foto Christian Chramer juga ya :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s