In Between

Sebelumnya saya selalu bersikap terbuka dengan gay & lesbian, apalagi biseksual itu hal yang biasa. Saya punya banyak sekali teman yang tidak hetero, dan saya menerima juga tidak mencela. Tapi kebanyakan dari mereka adalah bule slash foreigners. Saya bisa memahami pilihan mereka.

Hingga kemudian, salah seorang sahabat saya yang orang Indonesia bertanya sekitar sebulan yang lalu. Saya tahu dia berada di tengah-tengah sejak entah kapan, mungkin SMA. Tapi setahu saya, dia selalu berada di tengah-tengah. Hingga kemudian sekitar satu bulan lalu dia memberi tahu saya, bahwa dia merasa sudah tidak berada di tengah-tengah lagi. Dia lebih cenderung menyukai sesama jenis, dan ingin mulai menekuni orientasi yang baru. Somehow saya nggak bisa begitu saja menerima kondisinya. Bukan karena menjadi tidak hetero itu salah, karena ya, saya nggak bisa saja bilang itu salah.

Saya bilang padanya don’t do that because there’s no way back. Dia bertanya kenapa, dan saya bilang karena itu terlalu beresiko. Iya, saya memang penakut dan sekali lagi penakut. Bagaimana kalau kemudian kamu lebih nyaman dengan kamu yang sekarang dan nggak ingin kembali lagi sebagai hetero? It’s honestly too scary for me. Karena kondisi kita sekarang yang hidup di lingkungan yang seperti ini. IMHO, we may love everyone but we shouldn’t hurt anyone. Kamu boleh nggak peduli dengan society, dan mungkin teman kamu bisa menerima. But what about your family? Your mother, father, and siblings? 

There’s no way back, and it’s just way too risky. I know right, I’m such a pussy. 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s