Serendipity

Ada banyak cerita di balik pertemuan kamu dengan seseorang. Saya punya teman, yang sejarah pertemanan kami sarat dengan unsur kebetulan sekali. Sehingga kita sering banget ketawa heran kalau beberapa kebetulan di antara kami terjadi lagi.

Ceritanya, kita kenal pertama tahun 2008 dulu. Saya aktif nulis di sebuah surat kabar sehingga kenal sama redakturnya. Nah, suatu hari, saya dikasih tahu kalau ada anak seusia saya yang tulisannya sastra dan bagus banget. Saya bacalah koran edisi hari itu. Dan saya ngerasa ‘gila ini anak keren banget’. Namanya Raisa, dan saya langsung carilah si anak ini via dunia maya. Kenalanlah kita akhirnya, karena bilang tulisannya bagus etc etc. Ternyata dia anak Aceh, yang saat itu sedang AFS-an di Zurich. Hubungan pertemanan kita masih terjalin hingga bertahun-tahun setelahnya via dunia maya.

Hingga suatu hari, dia bilang dia ketrima di UGM juga, jurusan Filsafat. Saat itu saya sudah akan masuk semester tiga, dan karena dia anak AFS, dia jadi adik tingkat saya kan. Kita janjianlah ketemuan saat dia baru registrasi ulang. Nggak beruntung, pertemuan itu gagal terjadi. Kita janjian di perpustakaan, dan batre HP kita sama-sama drained ternyata. Padahal kita sudah sama-sama berada di tempat yang sama.

Lalu hingga setahun berjalan, dan kita sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing hingga nggak sempet dan lupa janjian ketemu lagi. Lucunya, di tahun 2011 sebelum kita ketemu itu, justru kakak-kakak kita yang udah ketemu duluan. Kakak kami ikut training yang sama. Training ini mengharuskan mereka ke Jakarta sekali dalam dua bulan selama dua hari. Nah, di forum pertama dari training tadi, mereka sekamar bareng. Di forum kedua, barulah mereka tahu bahwa si A punya adik saya, dan si B punya adik Raisa. Kita bahkan belum ketemu saat itu. Kejadian kebetulan lainnya, kakak kami sama-sama ikut exchange di program yang sama ke Kanada, pada waktu yang sama. Sekota pula. Nggak lebih aneh apa lagi?!

Hingga suatu hari, saya bikin proyek dengan teman saya. Kami butuh orang yang bisa nulis, dan saya langsung keinget Raisa. Kami akhirnya mengajak si Raisa ini. Saya jadi sering ketemu Raisa sampai proyek berakhir pertengahan 2012. Nah, bahkan setelah proyek berakhir kami bertemu beberapa kali karena kebetulan. Dan juga sebelum berangkat ke Jepang, coincidently ketemu dia juga di rektorat karena dia mau rapat KKN (btw ngiri banget dia KKN di kepulauan Kei dan sempet mampir Banda Neira fcuk!). Nah pasca Jepang dan bahkan Jerman, nggak ketemu-ketemu lagi dengan dia. Sampai akhirnya awal bulan Oktober lalu, kita secara nggak sengaja sering ketemu lagi, kayak biasanya.

Hingga di pertemuan secara nggak sengaja setelah entah berapa kali, kami memutuskan kalau kami harus merencanakan ketemu beneran dan ngobrol. Karena mungkin ada sesuatu yang Tuhan ingin sampaikan. Akhirnya janjianlah kita. Usut punya usut, setelah kami ngopi bareng, ternyata ketahuan kalau kami sedang mengusahakan untuk apply master di universitas yang sama dan fakultas yang sama! Minor-nya saja yang beda. Dia bahkan sudah minta dan akhirnya dikirimin brosur-brosur kampus dari sana. Kita langsung heboh banget saat menemukan fakta tadi. Lalu kita mulai merencanakan untuk rent flat bareng-bareng, etc etc. Antusias dengan imajinasi masing-masing. Gila, semoga pertanda ini menjadi fakta beneran, o Lord!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s