Dalam Memilih

Dari jutaan orang yang pada masa mudanya memilih untuk mengikuti passion-nya, ada berapa persen yang akhirnya berhasil menjadi orang dan sukses? Kita kadang menjadi naive, disengaja demikian atau tidak. Kita hanya mau melihat kisah Bill Gates, atau Steve Jobs, atau David Beckham, atau Ahmad Dhani, atau Dewi Lestari. Saya melihat seorang pekerja seni yang sedang melukis, bagus lukisannya. Tapi masih standar bagus yang bisa ditemui besok juga lusa. Di masa senjanya, dia biasa-biasa saja secara finansial. Saya berpikir, apakah bila dia diberi kesempatan kedua untuk memilih, dia  masih mau menjadi pelukis?

Tapi kemudian kesadaran itu menghantam saya dengan kecepatan cahaya. Saya melihatnya dari perspektif saya. Bagaimana kalau saya mencoba memakai kacamatanya? Mungkin saja dia bahagia dengan hidupnya, karena ada beberapa orang yang memang bisa dibahagiakan dengan cara-cara yang murah dan sederhana. Lagipula alasan bahagiaku berbeda dengan bahagiamu, sehingga berlaku juga sebaliknya. Kalau dia bahagia, lalu apa salahnya mengerjakan sesuatu yang sesuai kesukaannya?

Masalahnya, saya tahu beberapa bagian dari kebahagiaan saya harganya mahal. Jadi saya harus lebih selektif untuk menegosiasikan passion dengan apa yang akan saya pilih untuk menjadi pekerjaan hidup mendatang. Toh, yang namanya orang, biasanya memiliki passion lebih dari satu. Di jurusan saya, Hubungan Internasional, ada teori dari Putnam yang namanya two-level game. Bagaimana seorang aktor, harus bisa memainkan perannya di level domestik dan internasional dengan menyelaraskan kepentingan dua level tadi. Kita bisa pakai teori itu di konteks ini. Katakanlah level domestik itu adalah apa yang kamu inginkan, dan level internasional adalah apa yang kamu butuhkan. Kamu ingin kerja yang nggak ada ngitung-ngitungnya, yang ada travelingnya, yang berhubungan dengan orang, misalkan. Tapi kamu juga butuh untuk nantinya ngasih makan keluarga kamu, nyekolahin anak kamu di sekolahan yang bagus kalau bisa di luar sekalian, bantuin orang lain dan traveling (gila, traveling ini keinginan dan kebutuhan levelnya!). Gimana caranya, pilihan yang kamu ambil harus nggak merugikan sektor ‘yang kamu inginkan’ dan ‘yang kamu  butuhkan’. Susah memang, tapi banyak contohnya yang sudah ada kok, jadi bukan tidak mungkin hehe.

Kesimpulannya, naif boleh, tapi jangan buta. Berani boleh, tapi tetap harus bijaksana. Good luck!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s