September

“We often forget the details of things we don’t want to forget. Which is really really really sad, because we want to remember those details.”

Saya merasa sedih begitu tanpa sadar mengucapkan kalimat tersebut, menimpali omongan teman saya, Ing, sebelumnya. Kami bertiga, diam beberapa saat. Sama-sama tahu bahwa kita tidak dapat mengelak dan sembunyi, dari waktu yang rakus sekali melahap apa saja yang dilewatinya, termasuk kami.

Butuh waktu beberapa detik untuk kami mengingat bagaimana bunyi microwave, sirine di traffic light, bel ketika kereta hendak datang, atau alarm ketika air di bathtub kami sudah siap. Setengah tahun yang lalu, kami tak butuh waktu lama untuk mengingat semua itu. Dan ketika kami tidak bisa mengingat detail akan sesuatu, rasanya cukup sedih. Saya teringat film Before Midnight, all of the sudden. Ingat percakapan di meja makan antara Ethan Hawke, Delpy, dan beberapa orang lainnya? Ketika itu, seorang perempuan tua membuka monolog-nya tentang suaminya yang telah meninggal. Dia bilang, sangat sedih menyadari fakta bahwa dia tidak bisa lagi mengingat beberapa detail yang tak ingin dia lupakan. Karena dia merasa kehilangan beberapa memori tersebut seakan kehilangan suaminya juga. But as she said, life is just passing through after all. We appear, we disappear. We are so important to some, but we are just passing through.

Yang lucu dari memori adalah, bahwa saat proses terbentuknya memori tersebut, kami tidak sadar sama sekali bahwa saat dan momen itu akan memorable nantinya. Saya ingat pernah me-highlight satu paragraf penuh dari Norwegian Wood karena merasa kalimat Murakami itu ngena sekali. Dia bilang, memory is a funny thing;

“Memory is a funny thing. When I was in the scene, I hardly paid it any mind. I never stopped to think of it as something that would make a lasting impression, certainly never imagined that eighteen years later I would recall it in such detail. I didn’t give a damn about the scenery that day. I was thinking about myself.”

Saya masih ingat satu hari di minggu terakhir saya di Fukuoka, ketika saya nonton Grey’s Anatomy dengan Foni yang kemudian saya sadari adalah kali terakhir kami nonton Grey’s bareng. Dan obrolan-obrolan setelahnya, dengan sangat mendetail saya masih ingat. Atau hari pertama ketika saya makan curry di kantin dengan Wakana, lalu pergi ke Daiso, dan pulang jalan kaki. Atau suatu malam ketika angin dingin di pertengahan Februari menerpa wajah saya dan Aya ketika kami jalan kaki 5 jam lamanya dari Tenjin ke dormitory. Atau malam natal yang gila dengan Katharina di Shibuya. Atau suatu hari ketika saya dan Luisa duduk di Fujimoto, dan salju mendadak turun di luar. Saya masih ingat apa saja yang saya lakukan dan dengan siapa saja saya bertemu pada hari pertama juga terakhir saya di Jepang.

Tidak satupun dari semua itu, yang dalam proses kejadiannya, saya sadar bahwa momen itu akan masih akan saya ingat hingga sekarang secara mendetail. Entah sampai kapan saya bisa mengingatnya. Akan ada satu masa di mana butuh waktu lama bagi saya, untuk mengingat wajah roommate saya mungkin. Akan ada satu masa di mana saya akan lupa Foni’s scent, yang mana sekarang pun saya cuma bisa mengingatnya dengan samar.  Akan ada satu masa di mana saya akan lupa bagaimana Mamu selalu menyelipkan ‘you know’ di antara kalimat-kalimatnya dia, dengan caranya yang khas. Akan ada satu masa di mana saya akan lupa bagaimana nada Pugh ketika menceritakan salah satu cuplikan cerita Murakami pada kami.

Makanya mayoritas dari kami benar-benar tidak merasa sia-sia untuk menyisihkan uang mengunjungi satu sama lain. Baru enam bulan sejak kami meninggalkan Jepang, tapi sudah merasa wajib untuk bertemu. For the sake of the old times. Minggu ini Yanti datang jauh-jauh dari Belgia untuk menemui kami di Thailand, dua minggu lalu Kaylie datang ke Jerman, lalu Maria ke Swedia, dan kami sudah merencanakan banyak sekali pertemuan untuk bulan-bulan atau tahun-tahun ke depan.

Saya merasa sangat bahagia. Saya pernah bercerita kepada Fembi tentang fakta bahwa saya bertemu orang-orang unik yang tepat di Jepang, yang kemudian terasa seperti keluarga. I even met my person there. Lalu selayaknya keluarga, kamu harus bertemu lagi dan lagi dan lagi. Kamu ingin pulang. Saya pasti akan pulang sesering yang saya bisa, oleh karenanya saya harus jadi okanemochi slash orang mapan yang bisa traveling kapan saja dia mau sesering apapun tidak jadi soal. Fembi, kemudian bilang bahwa ini adalah alasan yang sangat sederhana tapi somehow powerful.

Kamu akan selalu mencari cara untuk bisa kembali berada di rumah, bukan? 😉

September tahun lalu ketika pesawat saya mendarat kali pertama di Fukuoka, saya tidak menyangka bahwa kota ini dengan orang-orang yang saya temui di sana, akan memberikan perubahan besar dalam hidup saya. Saya bahkan semula agak tidak antusias, karena ini hanya Fukuoka dan bukan Tokyo bahkan salah satu kota di Eropa seperti yang saya inginkan. Tapi Tuhan selalu tahu yang terbaik. Kalau tidak sekarang, maka nanti kamu akan sadar bahwa memang Tuhan selalu tahu yang terbaik.

Advertisements

One thought on “September

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s