Indonesia Raya

Minggu ini, salah seorang teman saya yang telah lama tinggal di tanah rantau main ke Jogja. Biasalah, seperti halnya banyak orang Indonesia yang lama tinggal di luar, dia banyak komplain. Waktu nyetirin kami, dia tiap setengah jam sekali selalu komplain sama para pengguna motor yang nyelip seenak mereka ataupun mobil-mobil yang ngelanggar marka jalan. Saya masih bisa maklum dengan prilaku mayoritas pengguna jalan yang memang liar, karena well, seperti yang dia bilang ini Indonesia Raya. 

Yang saya benar-benar jadi emosi juga, saat dia cerita pengalamannya ke candi Prambanan sendirian bersama profesornya yang emang orang luar. Mukanya si temen ini emang rada-rada nggak kayak orang Indonesia meskipun dia sangat nasionalis. Jadi dia semula hampir dikenai biaya tiket yang mahal buat non-indonesia, lalu kemudian dia protes sehingga dikasih tiket lokal. Tapi kemudian, saat dia masuk ke Prambanan-nya, bapak-bapak penjaga tiket tidak memasukkan tiket dia ke alat yang buat masukin tiket (entahlah nama alatnya apa). Seharusnya dan peraturannya, untuk masuk ke areal wisatanya tiket turis harus dimasukin ke alat tadi. Untuk mendeteksi berapa jumlah turis yang masuk, dan tiket yang dijual. Nah otomatis apabila tiket nggak dimasukkan, uang tiket yang sudah dibeli nggak bisa dideteksi dong slash masuk ke kantong bapaknya. 

Temen saya yang lihat, langsung protes. Dia bilang, pak dimasukin dong itu tiket saya. Bapaknya bilang sambil senyum-senyum, yang penting mas-nya udah masuk kan ya?. Teman saya nggak terima, dan masih menuntut agar tiketnya dimasukkin, atau kalau bapaknya nggak mau masukin dia mau tiketnya dia dikembalikan ke dia saja sebagai suvenir. Di sisi lain, bapaknya makin ngotot dan mulailah kelihatan bahwa teman-teman dia yang lain juga banyak melakukan hal itu, alias tindakan bapaknya tadi sudah dilihat sebagai fenomena yang normal. Teman saya pasrah saja akhirnya, sambil mbatin, yah Indonesia Raya.

Saya emosi pakai banget waktu dia cerita. Apa ruginya sih dia masukin aja tiketnya? Ya, ruginya mungkin bapak tadi nggak dapet uang sekian puluh ribu sesuai harga tiket masuk. Tapi kan bukan hak dia juga. Tsk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s