Tips One Day Trip ke Zurich

Zurich adalah kota termahal yang pernah saya singgahi, terasa lebih mahal daripada Tokyo dan Singapura. Padahal kalau menurut CNN, Tokyo termahal ketiga, Singapura kelima, sedangkan Zurich kedelapan. Baru di Zurich ini, internetan di Starbucks dimenitin. Per 15 menit, maka kamu akan ke-sign out dengan sendirinya. Baru di Zurich juga, saya menemukan ada toilet yang dimenitin. Harus bayar EUR 1 buat pakai toiletnya dan pintunya akan kebuka sendiri setelah menit ke 10 -_-. Jangan tanya harga lunch normal di sini, mahalnya bisa disejajarin dengan harga dinner di mayoritas kota-kota tetangganya di Jerman. Salah satu hal yang biasanya pasti saya beli ketika traveling ialah ‘magnet’ yang ditempelin di kulkas karena Ibu saya memang mengoleksi banyak magnet, dan di Zurich, harga satu Magnet bisa hampir 10-an Euro, sedangkan bahkan di Munich yang notabene-nya kota termahal di Jerman harga magnet hanya 5-an Euro. Harga kartu pos normalnya 50 sen di Freiburg (dan bahkan ada yang 30 sen), dan di Zurich harganya 1,3 Euro!

Jalan-jalan di Zurich ialah pengalaman untuk mencicipi sehari jadi socialite hehehe. Saya dengan Pasqui, teman saya, berjanji 10 tahun lagi bakal mengunjungi Zurich bareng-bareng terus di Bahnhofstrase, akan dengan pede-nya keluar masuk gerai yang tidak bisa kami afford sendiri sekarang. Bicara soal Bahnhoftrasse, ini adalah ruas jalan utama di Zurich, ruas jalan paling mahal untuk bisnis properti di Eropa, dan termahal nomer tiga di dunia. Di kanan kirinya, hanya gerai selevel Giorgio Armani, Tiffany & Co., Prada, LV, Salvatore Ferragamo, Hermes, dan Chanel yang dapat ditemukan. Eh tapi masih ada H&M sih, all hail H&M! At least ada satu gerai yang bisa dimasuki dan ramah di kantong.

Satu hari bisa kok dihabiskan untuk muterin Zurich, saking kecilnya kota ini. Bahkan saya dulu hanya butuh 3 jam untuk keliling Zurich, tapi nggak sampai manjat ke Uetliberg. Semula rencananya akan menghabiskan seharian di Zurich, tapi usut punya usut di malam hari ada acara yang tidak bisa kita tinggalkan. E-mail yang mengabarkan bahwa kita nggak bisa nye-kip lecture ini baru datang saat kita sudah berada dalam bis dari Freiburg menuju Zurich, padahal kita udah beli tiket bis pulang-pergi.

[Oh ya btw, kalau untuk perjalanan singkat di dalam Jerman dan juga lintas  Jerman namun masih dekat (seperti beberapa kota di Swiss dan Prancis), kamu bisa ngecek situs http://meinfernbus.de/. Bis di sana cenderung cepat karena lewat tol, dan jelas lebih murah kalau dibandingkan kereta! Bahkan pesawat kadang-kadang juga lebih murah daripada kereta!. Sebagai contoh, perjalanan Freiburg-Zurich memakai bis hanya 2.15 jam, untuk biaya PP paling mahal (beli hari itu juga) Cuma habis 16 Euro-an.]

Akhirnya, agar bisa sampai di Freiburg sebelum acara mulai slash sebelum jam 7, maka kita terpaksa harus me-re-book tiket kita. Dari sinilah perjalanan ala amazing race kami dimulai. Layanan internet dari provider di Jerman otomatis tidak bekerja di Zurich. Kami langsung menuju Starbucks terdekat untuk wifi-an. Gampang banget, keluar dari terminal Meinfernbus, langsung kelihatan Starbucks. Dan kami kaget kalau ternyata dimenitin, dan Cuma 15 menit per-ronde untuk internetan di Starbucks sana. Berbekal handphone, kami buka situs meinfernbus dan berusaha me-re-book. Tapi sayangnya semua benar-benar full pakai bahasa Jerman. Biasanya walaupun juga pakai Bahasa Jerman kalau book tiket gampang-gampang saja karena begitu masuk situsnya langsung diarahin ke  ‘pembelian tiket’. Nah ini mau re-book tiket. Sayang kalau langsung beli dan tiket yang kemarin hangus kan. Mau nggak mau akhirnya kita translate-in satu-satu dari FAQ ke google translate! Good teamwork, Fikry! Saya browsing pakai handphone saya yang kebetulan layarnya agak gede, dan dia motret pakai kameranya yang canggih, dan kita translate-in deh satu-satu lewat handphone juga. Pas akhirnya sampai ke poin ke berapa FAQ dan membahas soal rebook, kita udah kayak orang menang lotere. Seneng dan puas. Apalagi saat berhasil me-rebook. Nih pelajaran pertama, in German re-book adalah ‘umbuchen’.

…dan kita sudah menghabiskan sekitar 45 menit sendiri di Starbucks untuk urusan beli-membeli tiket…

Setelah semua selesai, akhirnya perjalanan dimulai dong. Kami cukup heran juga saat sadar 3 jam bisa tuh ngelilingin Zurich, bahkan udah ditambah sejam lunch di tepi Danau.

Perjalanan bisa dimulai dari  Zürich Hauptbahnhof, stasiun kereta utama. Keluar dari stasiun kereta, saya dan teman saya menuju Altstadt terlebih dahulu. Orang-orang lokal sana sering menyebut Altstadt-nya dengan nama Dorfli atau the little village. Karena emang seperti pedesaan, layaknya kebanyakan Altstadt di daerah sana. Agak mirip dengan Altstadt-nya Freiburg apabila dibanding-bandingin. Jalanan berpaving batu, gang-gang kecil yang bersih, restauran di kanan-kirinya, butik-butik kecil, toko buku antik, dan kebanyakan car-free. Namun Altstadt di Zurich, jalanannya lebih banyak yang kecil dan nanjak-nanjak.

Masih di daerah Altstadt, kami kemudian ke Lindenhof. Jalan menuju Lindenhof naik-naik terus, menaiki anak tangga kecil-kecil. Dari atas sana, bisa ngelihat Grossmunster Church, City Hall, sungai Limmat etc. Tapi alasan pertama kami ke sini sebenarnya karena penasaran dengan big chess set yang ada di sini. Ada papan catur lumayan gede, dan orang-orang bisa main catur. Lihatnya langsung keinget film Harry Potter, bagian Ron main catur-catur gede hehe.

Habis dari sana kami menuju ujung jalanan untuk makan siang a la piknik di tepi Lake Zurich. Danau ini lumayan terkenal, dan lokasinya gampang sekali ditemukan. Tinggal jalan aja lurus ke arah pemandangan gunung-gunung salju dari Aldtstadt (berlawanan arah dengan stasiun kereta tadi). Perjalanan dari Lindenhof ke sana akan melewati dua gereja paling terkenal di Zurich; Grossmunster dengan Fraumunster. Ada juga pabrik/toko Lindt gede banget. Setelah jalan sampai mentok, sampailah ke Quaibrucke –jembatan terakhir di seberang Danau Zurich. Tinggal nyebrang jalan raya, dan sampai juga ke Lake Zurich. Ini danau ramai sekali saat summer, dan kebetulan kami ke sana pas summer.

Banyak orang yang berenang, juga terjun bebas dari atas jembatan. Duduk-duduk doang di tepi danau sambil ngelihatin orang-orang makan lunchnya di sini ternyata asik juga loh. Seriusan. Banyak karyawan yang during their lunch break makan di sini kan, dan asik aja ngelihatin mereka. Gaya mereka pakai baju beda banget dengan orang-orang Jerman kebanyakan, banyak yang lebih rapi, elegan dan metroseks. Normal sih mengingat kebanyakan dari mereka kerjanya di daerah Bahnhofstrasse yang gila banget… di sana gudangnya kantor-kantor yang berani bayar mahal juga. To mention a few, ada Credit Suisse, UBS, dan Accenture. Di danau ini juga banyak Limmat boats gitu, perahu-perahu yang bisa membawa kalian menyisiri danau. Tapi ya mahal gitu deh kakaaak.

Bosen, kami kemudian memutuskan balik aja. Selama perjalanan menuju stasiun, akhirnya kami melewati the-oh-so-famous­-Bahnhofstrasse lagi. Tinggal jalan lurus aja, dan kemudian sampai lagi deh ke area stasiunnya. Memang jalan ini nembus stasiun. Secara, nama Bahnhofstrasse itu artinya Station Street. Kalau ada banyak waktu, bisa juga mengunjungi Uetliberg. Ini semacam daerah perbukitan gitu. Sebenernya rencana awal kami mau kesana, pengen lihat Zurich dari atas. Tapi sayang nggak cukup waktunya, karena harus balik lagi di Freiburg sebelum petang. Ah! Lain kali kalau ke Swiss lagi harus ke sana, dan juga ke Lucern, dan juga ke Alps, dan ke Jenewa! *banyakmaunya*.

Image

Altstadt

DSC07371Lindenhoff

DSC07381Your future bank, senor

DSC07380Salah satu sudut di Aldtstadt

_MG_5533

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s