Hello and goodbye

Don’t you think life is like a vicious cycle of hello and goodbye?

To tell you the truth, 7 bulan saya di Jepang adalah 7 bulan paling mengagumkan dalam hidup saya. Ini hanya Jepang, dan hanya belajar di universitas biasa-biasa saja. Tapi saya bertemu banyak orang-orang berarti dalam hidup saya. Hingga sekarang saya masih sangat ingat detail kutipan percakapan dengan mereka, momen-momen yang saya habiskan bersama, rokok yang kami bagi berdua atau bertiga atau bahkan berempat, dinginnya malam-malam Desember atau Januari yang menyelipi atmosfer ketika kami jalan bersama, menyaksikan mereka mabuk karena hanya saya yang tidak minum, dan menjadi saksi ketika mereka mulai ngobrol omong kosong.

Saya juga bertemu teman yang kemudian menjadi yang paling berarti. Yang dengan dia saya selalu merasa harus berkata jujur karena dengan menjadi diri saya sendiripun saya sudah merasa sangat nyaman. I already miss our conversations that were about absolutely nothing but everything. Thanks for being my person, anyway.

Kabar buruknya, kami semua memiliki rumah yang sangat berjauhan. Jutaan blok away. Dengan perbedaan waktu yang kadang membuat stres dan frustasi. Jadi ketika saya kebetulan sekarang berada di Jerman selama sebulan saja, kami telah merencanakan bertemu sejak jauh-jauh bulan sebelumnya. Minggu lalu dua dari mereka datang ke Freiburg. Weekend kemarin kami memutuskan bertemu di Munich, bahkan salah seorang dari kami datang jauh-jauh dari Denmark. Only for another goodbye.

Euforia bahagia dari ‘hello’ hanya bertahan hingga saat malam menjelang. We walked  through the english garden to your place. Kamu menunjukkan your neighborhood, yang sedikit banyak sudah kudengar dari kamu sebelumnya. Rasanya seperti deja vu berjalan di taman ketika kamu ngedate pertama dengan pacar kamu yang sekarang, atau ketika masuk ke flatmu untuk kali pertama dan melihat ruang laundry, kamar kamu bahkan jendelanya. Semua telah kutahu sebelumnya dari cerita-ceritamu.

Kita sadar bahwa waktu terlalu berharga, dan tidak rela ketika harus tidur ketika matahari sudah hampir naik lagi. Dan ketika matahari sudah naik lagi, kita sadar bahwa another goodbye sudah di depan mata lagi. Mengantar Kimi ke airport. Semula setelahnya saya begitu berhasrat ke Allianz arena, tapi setelah salah satu dari kami pergi, rasanya saya tidak ingin melakukan apa-apa lagi selain duduk bersama melingkari meja dan mengobrolkan segala.

Dan ketika waktunya kemudian tiba, kamu bilang sampai jumpa minggu depan. Saya hanya mengangguk dan tertawa. Kita terlalu naive untuk tidak menjadi naive.

I believe a year, two years or three years from now when we’ll meet again and then saying goodbye again, the ‘pain of our farewell’ will always still the same. Will always be painful, we know that. But I don’t mind, and I bet you’re also don’t. I’m still glad that we met in Japan, no matter our friendship will always be that kind of hello-goodbye relationship. And I know, the day when we had to let go of and say goodbye will always be that painful. But as I said before, I don’t mind. Because our friendship is that worth it. You’re my person, that’s why you’re that worth it.

Farewell is necessary before you can meet again, and meeting again after moments is certain for those who are real friends. I will wait for you, and wait for me too. Until we meet again.

DSC07583 DSC07573

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s