Crazy people are happier

Hari ini adalah seminggu sebelum Foni, Cora dan Katharina datang ke Freiburg. Artinya sudah 5 hari saya di sini. Tahu nggak, sudah sejak dulu sekali saya ingin ke Paris dan Jerman. Apalagi sepupu-sepupu saya dulu tumbuh dan lahir di sini, setiap mereka pulang ke Indonesia dan bawa segudang cerita saya tanpa sadar jadi ingin juga. Tapi pertama kali akhirnya sampai ke Frankfurt, dan melihat Jerman dalam kemacetan Frankfurt-Freiburg sampai akhirnya keliling Freiburg juga… saya rasanya nggak se-excited itu. Membuat saya berpikir kadang bagian dari meraih mimpi yang paling menyenangkan ialah proses bermimpi dan meraihnya, bukan ketika kamu sudah mendapatkannya.

Satu-satunya hal yang awalnya membuat saya super senang di hari pertama adalah karena saya tahu di sini saya akan bertemu Foni dan Pasqui, my persons.

Yet fortunately I’m that kind of those lucky bastards who’ll get what they want easily. Flat yang superenak di daerah yang katanya kayak Kemang-nya Freiburg (dan cuma satu blok dari flatnya si Pasqui) dengan decent internet connection dan host yang nyambung dan lucu. Dan partner yang rasanya cocok dan lengkap banget.

Pertama saat tahu si partner ini ngerokok juga, rasanya seneng pakai banget dan langsung saja saya kasih sepack walaupun stock yang saya bawa dari Indonesia juga sebenarnya cuma sedikit. Smoker are always the nicest (mengutip salah satu temenannya). Rutinitas kalau ngopi kita sekarang nih, dia selalu ngelintingin buat saya. Kita selalu bercanda nih, nggak ngerti it’s a gift or disaster that we’re partners. Secara sebelumnya dari 20 cigarettes yang saya bawa rencana cuma saya pakai satu dan yang lainnya dikasihin ke Kimi yang jauh-jauh dateng dari Denmark nanti.

Pagi kedua saya di Jerman, dan merupakan pagi pertama saya di Freiburg ini dibuka dengan minum kopi di pinggir jalan bersama si partner. Ada satu kafe, namanya Sedan, yang dia bilang his favorite here in Freiburg. Ini semacam kedai kopi berdiri gitu. Tapi, dia kemudian duduk di pinggir jalan. Like literally duduk, di pinggir jalan, di atas jalanan tempat orang lewat. Saya langsung suka dia saat itu juga. Apalagi saat kemudian dia nanya saya punya lighter atau nggak. Dan juga, apalagi saat saya notice dia always barefoot. Dan juga, apalagi saat dia bisa nebak arti nama saya pada pertemuan pertama -lalu setelahnya dia bilang akhirnya belajar di kelas filsafat terpakai juga ilmunya di dunia nyata, sarkasme yang membuat kami ngakak berjam-jam. Extraordinary people are always that interesting for me because they offer such different perspectives on life.

Saya nggak salah nebak, karena 4 hari saya di sini, rasanya yah… nggak cuma manis saja. Menyenangkan dan membuat kamu ketagihan. Seperti duduk di tengah keramaian, mencopot sepatu dan masukin kaki di semacam parit tapi berisi air bersih (fyi, parit ini mengalir di hampir seluruh kota Freiburg. Ukurannya less than 1m kayaknya, dan ada mitos apabila kamu jatuh di parit accidentally maka kamu akan menikahi pria Freiburg. Sounds interesting. Ada yang mau jorokin nggak?). Breakfast with organic stuff di padang rumput hijau. Ke sungai dan main-main air. Ditraktir es krim terus (ini matre sih). Ke Augistinaplatz (semacam bunderan UGM ya kalau di sini) sampai lewat tengah malam. Naik ke Schlossberg tower (semacam hill di sini) dan melihat Freiburg dari atas. Diajakin ke tempat orang-orang minum kalau siang hari. Dan nggak terhitung lagi berapa jam kita ngobrol galau dan berapa kilo meter kita jalan bareng dan berapa makanan-minuman baru yang saya coba atas rekomendasi dia.

Yang menyenangkan ialah, dia tipikal orang yang nggak peduli segila apapun party semalam bisa bangun jam 10 pagi dan siap lagi untuk kerja dengan energi nggak kurang sama sekali. Dia masih bisa mengatur interview dengan orang-orang city council, political parties, parlemen, etcetera etcetera. Padahal saya tahu ‘tembus’ dengan hal-hal yang berkaitan dengan birokrasi bahkan di sini, itu butuh effort lebih. I’m lucky, right?

Nggak peduli definisi merasa beruntung adalah ketika kamu mampu dan mau bersyukur atau nggak, but I know I am lucky. Lebih beruntung lagi karena MINGGU DEPAN FONI KE SINI.

*ps. di perjalanan ketika kami menuju kantor Agenda 21-nya UN yang super panjang, kami bicara panjang lebar soal life is always complicated for those who are unfortunately in between. Lalu dia bilang, orang mabuk selalu ngerasa life is not complicated dan saat dia mabuk dia merasa life is really simple. Percakapan panjang lebar yang ujungnya kami sama-sama bilang, crazy people are the happiest one. Mungkin iya kadang kita perlu menjadi gila dengan tersesat dalam aktivitas yang gila sesaat apabila lupa bagaimana rasa menjadi bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s