Perempuan

Kamu mau apa, sebenarnya? Saya tidak ingin memihak, namun saya akui apabila Tuhan menciptakan perempuan sebagai makhluk yang lebih krusial daripada adam. Saya tidak bahagia dengan fakta ini, mengingat saya juga perempuan. Bukankah yang krusial itu biasanya yang lebih menjadi beban?

Kamu mau apa, sebenarnya? Kamu harus memilih, karena tidak banyak dari kaummu yang beruntung memiliki kekuatan bayangan yang tidak terlihat, yang maha besar. Tidak banyak dari kaummu yang dapat masih hidup saja, setelah membagi perhatian, konsentrasi, tenaga dan waktunya untuk berbagai dimensi kehidupan. Katakanlah yang paling klise dan sering menjadi dilema, karir atau keluarga. Tidak banya yang timbangannya bisa seimbang, tepat berhenti di tengah dan membentuk garis selurus horizon pantai, antara keluargamu dan karirmu.

Kamu mau apa, sebenarnya? Ketika kamu masih semuda dan senaive itu, kamu dengan percaya diri yakin kamu bisa melakukan keduanya. Tapi semakin lama, kamu tahu kehidupan tidak selamanya berbaik itu menyediakan ruang abu-abu. Kamu semakin tahu bahwa kamu harus memilih. Opto, ergo sum.

Kamu mau apa, sebenarnya? Kamu harus tahu apa yang paling membuatmu bahagia. Dan harus tahu apa yang paling membuatmu sengsara. Kamu harus berani memilih. Banyak orang-orang lemah yang tidak sedemikian berani dan akhirnya memilih untuk mengambil keputusan yang egois. Sudah berapa juta anak yang tidak merasa memiliki rumah meski dia pulang ke bangunan yang sama setiap harinya? Anak-anak yang merasa kesepian dan miris karena mereka tahu tidak ada yang memperhatikan. Yang merasa terintimidasi di tengah makan malam karena kamu masih saja sibuk dengan gadget-gadget kamu. Yang merasa kehilangan, malu, sakit hati, terluka, dan lalu pada kulminasinya bisa saja mereka akan membencimu juga. Bukankah egois namanya, apabila dahulu kala kamu ingin mempunyai anak hanya karena kamu takut hidup sendirian di saat-saat senjamu tiba? Pikirkan siapa yang akan paling kamu sakiti. Banyak sekali, dan juga pada akhirnya termasuk kamu sendiri.

Kamu mau apa, sebenarnya? Apabila mimpi utamamu, yang menurutmu paling bisa membuatmu genap sebagai manusia, bukanlah mimpi menjadi ibu rumah tangga atau memiliki anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tua dan/atau membanggakan kamu dan partnermu setidaknya, maka apakah kamu berani mengejarnya? Dengan resiko kamu akan mati pelan-pelan dihisap lumpur kesepian nanti saat hingar bingar musik telah dimatikan.

Aku hanya sedang sedih. Melihat banyaknya perempuan yang egois dan tanpa sadar sedang menciptakan monster-monster kecil yang kelak akan benci juga terhadapnya. Susah ya menjadi kamu. Kamu mau apa, sebenarnya? Aku mempunyai perasaan apabila kamu tahu apa maumu, tapi kalau mayoritas darimu hanya diberi kesempatan untuk memilih satu, sekarangpun aku bisa merasakan juga betapa pusingnya jadi kamu.

Jadi apabila sebenarnya kamu tidak mau, jangan. Bahkan apabila kamu hanya sekedar ragu, jangan. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s