Kaya dan Cukup

Saya tidak tahu saya lebih ke ‘suka’ atau ‘eneg’ kalau ngobrol lama dengan ayah saya. Dia selalu mengobrolkan hal-hal yang seringnya saya nggak ngerti tentang apa. Tapi saya menikmati menghabiskan waktu dengannya sih terlepas dari ngerti obrolannya dia atau nggak. Anyway, beberapa hari lalu saat beliau mengantarkan saya ke Jogja, tiba-tiba dia bertanya selepas kuliah saya mau ngapain. Saya bilang saya mau jadi orang kaya raya yang bisa punya jet pribadi. Becanda doang sih sebenarnya, tapi ditanggapin serius dengan beliau. Mungkin takut anaknya cuma pengen jadi orang kaya, dia mulai ngobrol panjang lebar yang saya cuma tanggapin seadanya. Sampai beliau mengatakan kalimat yang (akhirnya) saya ngerti artinya apa, dan seketika saya langsung suka.

Jangan berdo’a menjadi orang kaya, karena kaya itu hakikatnya miskin. Kaya itu masih kurang. Berdo’a menjadi orang yang cukup. Dia yang selalu dicukupkan.

 

Advertisements

2 thoughts on “Kaya dan Cukup

  1. Aku juga cita citanya jadi kaya raya biar hidup enak, tapi liat tulisan ini mungkin akan mulai mengubah doa dan cita cita. Rasanya cukup pun sudah cukup, tidak perlu kaya kaya amat, yang penting bahagia. Money can buy happiness indeed, but can I really buy the feeling of contentment by money? hoho.

    1. Kata ayahku, kalau kamu jadi orang cukup, mau beli kapal pesiar ga tau gimana juga dicukupkan sama yang di atas. Wkwkwk. Kalau kaya kan relatif. Jadi dilihat dari segi manapun mending sekarang berdoa jadi orang cukup sih rin lol.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s