Tentang KKN

Oke, saya mendadak teringat KKN. Sebenarnya satu hal yang paling susah, menurut saya, selama KKN ialah tentang toleransi. Bukan kekurangan air, atau kecapekan karena banyak yang harus dilakukan pagi-malam, atau kekurangan hiburan, atau nggak tahan ingin segera makan enak dan minum kopi yang enak. Tapi toleransi.

Fyi, dulu di masa KKN saya, sempat ada konflik panas sepanas api neraka antara beberapa perempuan dan segerombolan lelaki hehe. Saya salah satu yang paling frontal, dan sebagai implikasinya, saat itu menjadi yang paling dimusuhi gerombolan lelaki tadi *asli childish banget nggak sih, ngakak sendiri kalau inget pagi-pagi saya marah-marah ke kormanit like marah-marah pakai kata-kata kasar dan intonasi tinggi. Hal yang mungkin nggak pernah saya lakukan ke orang bukan keluarga selama ini hehe*. Tapi bayangkan, ketika kamu hidup 35 hari bersama orang-orang yang sebelumnya kamu kenal sebagai acquaintances saja. Clash of civilizations, eh salah itu bukunya Huntington ding ya. Konflik karena perbedaan karakter, habit atau kebiasaan itu pasti akan ada.

Saya boleh dibilang nggak bisa mentoleransi ketidakadilan dan pemalas. Saya ketika itu menganggap hal ini benar-benar tidak adil, dan nggak habis pikir mengapa gerombolan lelaki itu males-males banget. Geregetan gitu. Simply put, kita kekurangan air. Dua minggu terakhir para perempuan mencuci baju di sungai, dan bahkan juga mandi di sungai. Iya, sedih ya dan asli nggak gampang banget secara biasanya kita mandi dengan air yang bersih. Definisi bersih menurut buku penjaskes masa SD dulu ialah, tidak berwarna dan tidak ada rasanya *ngelantur*. Dan yang bikin sedih ialah bahwa ini fenomena yang normal saja untuk penduduk sana. Well anyway, beberapa lelaki itu bahkan masih mencuci baju di rumah (karena terpisah rumahnya, jadi semula kita nggak tahu). Iya dong saya langsung marah-marah ke mereka. Itu salah satu contoh kecilnya.

Tapi kemudian ketika program berakhir, saya mendapat banyak pelajaran. Banget banget. Saya tidak menyesal dengan protes-protes saya, etc. Tapi kalau disuruh ngulang lagi, mungkin saya akan merubah dengan pendekatan yang berbeda. Saya belajar untuk lebih mentoleransi orang lain. Kalau ada yang saya sesali, ialah kesalahan saya yang tidak bijak dan menginginkan semuanya ‘segini’. Padahal, orang beda-beda kan? Habit kita beda-beda kan? Nggak semua orang itu workaholic, nggak semua orang itu etc etc. Jadi kita harus bisa mentoleransi. Kadang kita harus menegosiasikan beberapa hal, untuk meraih hal-hal yang lebih menyenangkan. Bukan?

Ending: seperti di cerita-cerita, situasi KKN membaik di hari-hari terakhir. Memang ya, sesuatu baru terasa maknanya kalau akan dan/atau sudah tiada. Dan apabila disuruh milih lagi, saya tetap akan milih KKN di sini kok, dengan paket pahit-manisnya hehehehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s