Glooooooomy Tuesday

Pagi ini, menjadi salah satu pagi termenyedihkan bulan ini. Kelas kanji dan conversation terakhir. Kelas Kaku-sensei (sensei kami) ini sering sekali membuat kami terperangkap dalam deep conversations about life, future plan, etc. Hubungan kami lebih mirip temen, asik banget. Dan lebih seringnya, kami ngomong dalam bahasa Inggris instead of Japanese (jelek nih jangan ditiru lol). But I do love him THIS much. Banget.

Rasanya sedih, pakai banget-banget waktu udah sepuluh menit terakhir kelas. Saya bisa deket banget dengan Foni juga gara-gara kelas bapak satu ini. Jadi ceritanya, ada 4 orang yang kebetulan berada di kelas L1 kanji. Saya, Foni, Anoji dan Sandeepani. Beberapa kali Anoji dan Sandeepani absen, sehingga otomatis di kelas hanya tinggal saya dan Foni berdua. Biasanya kalau sudah kayak gini, kita berdua dan Kaku Sensei akan ngomongin hal-hal yang nggak ada hubungannya sama kanji dan bahasa Jepang haha. Tentang bagaimana kehidupan kampus saya di UGM dan Foni di Munich, tentang calon keluarga ideal impian kami, tentang kamu bahagia atau nggak, tentang relasi dengan teman-teman di sini, tentang comfort zone, etc. Dia juga sering cerita kehidupannya dia di Mongolia dulu (yes, dia asli Mongol yang kemudian jadi Japanese sejak kuliah), tentang kita yang masih muda dan kekuatan yang kita punya ialah waktu, etc.

Saya ingat ketika suatu pagi sebelum kelas dimulai, dia melihat raut capek kami semua. Lalu dia bertanya, kami capek kenapa. Dan kami menjelaskan aktivitas yang memang (seringnya) membuat sesak napas. Then he said, oke bagaimana kalau kita nggak usah punya PR aja? Cuma kalian harus belajar beneran di kelas ya. Wow. Lalu dia juga bilang ‘jangan buang semua waktu cuma untuk belajar aja, sekarang lagi bagus-bagusnya musim (saat itu Oktober) di Jepang loh. Sana main-main.’ Dan tahu nggak sih, karena kita sebegitu sayangnya sama dia, impactnya kita jadi nggak ingin mengecewakan dia karena nilai tes kita jelek.  Saya pikir, yang kayak beginilah yang seharusnya dimiliki oleh semua guru. Hubungan personal, tidak hanya akademis. Kalau saya jadi guru, saya akan memilih menjadi guru yang tidak hanya menjalin hubungan akademis, namun juga personal. Memang mungkin kurang profesional, jadi tergantung perspektif si guru juga sih mau mencapai apa. Mau belajar berdasarkan buku materi saja dan sekedar memenuhi kredit, atau mau mengajarkan sesuatu yang juga akan mengembangkan kepribadian muridnya. Tapi kalau saya pikir-pikir lagi, toh nilai kami berempat bagus-bagus saja di kelas ini. Bahkan beyond bagus. Karena fakta sayang hingga tidak mau mengecewakan  tadi.

Anyway, malah curcol abis cuy haha.  Anyway agi, sedih banget rasanya kelas terakhir tadi pagi. Meskipun kita janjian mau farewell dinner, cuma atmosfer kelas sudah nggak bisa diulang lagi. Nggak kebayang gimana sedihnya tanggal 19 Maret nanti. Karena pas banget, saya juga anak-anak Jerman (termasuk Foni) flightnya tanggal 19. Jadi kami akan berpisah di detik-detik terakhir 😥

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s