Toleransi

“Aku nggak ngerti, kenapa sih dia etc etc.”

Kamu boleh tidak mengerti, sebatas itu belum sampai ke level menghakimi. Toleransi. Susah, tapi mau tidak mau ini adalah keharusan. Seharusnya seperti itu. Saya sering jengkel setengah mati, apabila mendengar seseorang mulai menghakimi yang lain, atau makin jengkel apabila sudah mulai menyalahkan apa yang dilakukan orang lain. Hanya karena apa yang dia lakukan tidak sama seperti apa yang mereka lakukan. Saya juga sering alpa dan mengingatkan diri sendiri, ketika saya sudah mulai mendeteksi tanda-tanda saya akan menilai minus seseorang hanya karena kami berbeda.

Seringnya, saya hanya bisa berkata kepada diri sendiri atau apabila ada teman yang habis komplain sifat dan perbuatan teman lainnya. Perspektif kita melihat dunia, berbeda-beda. Apa yang kita lihat melalui mata kita, belum tentu dapat dilihat oleh orang lainnya, dan vice versa. Kamu tidak mengerti si A melakukan ini. Dan bagi si A, mungkin dia juga tidak mengerti kamu melakukan itu. Kamu tidak bisa memaksa si A melakukan seperti apa yang kamu lakukan, dan vice versa. Yang kita butuhkan adalah toleransi, untuk bisa menerima bahkan ketika tidak mengerti. Selagi itu tidak mengganggu dan menyakiti kita atau orang lainnya, apa salahnya menjadi berbeda?

Dunia ini terlalu bias untuk didefinisikan dengan satu kaca mata saja. Cheers.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s