Kepada Lilin-lilin Kecilku

Better to light a candle than to curse the darkness. -Chinese Proverbs

Ada satu ritual yang tidak pernah absen saya lakukan sejak saya masih sangat muda belia. Sejak ketika saya belum mengerti seruwet apa dunia, dan hal yang membuat saya bingung hanya besok sore akan main apa serta dengan siapa. Yakni, berkunjung ke rumah guru-guru saya di minggu pertama setelah hari raya. Ketika semakin dewasa, dan saya harus menimba ilmu hingga pindah ke lain kota yang lebih besar dari kampung halaman saya, ritual itupun masih saya lakukan. Kadang saya mengunjungi guru SD, SMP, SMA juga satu (almarhum) guru les sore yang sangat spesial dan saya kagumi hingga sekarang. Kadang bila waktu semacam terlalu rakus hingga tidak menyisakan banyak jeda, saya hanya mengunjungi beberapa. Tapi ritual itu, saya tidak pernah alpa.

Mereka mengenal saya sebagai murid yang nakal, jahil, dan lain sebagainya. Saya beberapa kali terkena amarah mereka juga, karena seringkali mengecewakan mereka. Namun kamu tahu, ini bukanlah semacam hubungan asmara yang bisa putus begitu saja, lalu seketika merubah perasaanmu dari sayang menjadi murka. Saya selalu menyayangi mereka. Untuk alasan yang tidak bisa saya jelaskan dengan aksara.

Yang jelas, mereka berbuat banyak sekali untuk saya. Saya yang sekarang, ialah karena didikan mereka dahulu. Kadang mereka memang alpa dan membuat salah, tapi bukankah karena itu guru juga manusia? Ada satu guru yang sangat spesial bagi saya, yang telah saya singgung sedikit sekelumit tentang dirinya di muka. Iya, guru les sore saya sejak SD kelas dua. Dulu ketika saya masih SD di tahun pertama, saya bandel setengah mati. Tidak mau belajar, sering absen tanpa alasan, dan serentetan alasan yang seringkali membuat orang tua sakit hati. Saya bahkan hampir tidak naik kelas, singkatnya nakal setengah mati.

Lalu Bapak guru ini datang begitu saja. Setiap hari saya datang ke rumahnya yang mungil dan sederhana, untuk belajar pelajaran semua. Hingga lima tahun setelahnya, saya masih datang ke sana hampir di setiap siang. Panas maupun hujan, saya hampir tidak pernah alpa. Karena beliau mengajar dengan cinta sehingga saya juga menyayanginya. Sekarang, saya sadar beliau tidak hanya mengajari saya matematika. Beliau mengajari saya tentang segalanya, yang ditawarkan oleh alam semesta. Pelajaran kehidupan; melalui berbagai cerita-ceritanya yang selalu menginspirasi saya. Juga melalui perbuatannya yang tanpa beliau rencanakan sebelumnya, terkadang membuat saya belajar tentang kehidupan dan cinta. Seperti contohnya, beliau selalu menyediakan kami (murid-murid les sorenya) teh hangat dan sebungkus jajan pasar sederhana, yang dapat kami nikmati selepas dua setengah jam les sore yang melelahkan.

Demi Tuhan, kalau sekarang saya tela’ah lagi, saya diam-diam membiru karena haru. Kami hanya membayar seikhlasnya setiap bulan, dan beliau bukanlah orang yang berada. Pas-pasan dan sederhana, sesederhana rumah mungil mereka. Beliau mengajari kami muridnya dari belia, tentang berbagi dengan sesama -bahkan ketika kamu tidak memiliki ‘banyak’ kue untuk dibagikan kepada semesta juga seisinya. Kalau saya diharuskan untuk memilih, siapa satu orang yang sangat mempengaruhi saya selain keluarga, maka beliau adalah orangnya. Saya bersyukur, ada beliau ketika saya masih muda belia. Beliau membantu saya menyusun satu demi satu batu-batu yang kemudian menjadi dasar fondasi saya.

Tidak lupa, guru-guru yang lain juga ‘membantu’ saya di dalam proses perjalanan belasan tahun yang melelahkan, namun menyenangkan ini. Seringkali ketika saya menginap di hotel bintang lima gratis karena suatu acara, atau ketika saya makan makanan enak nan mewah, atau ketika seperti sekarang, saya sedang berada di luar Indonesia.. saya ingin membawa serta mereka. Untuk mencicipi momen-momen yang belum bisa mereka cicipi hingga sekarang. Saya ingin membagi beberapa kebahagiaan yang saya alami, untuk mereka yang jasanya tidak dapat dihitung dengan matematika dan logika. Ah, tapi bukankah mereka sekarang sudah bahagia? Beberapa guru yang dekat dengan saya, dan saya cukup tahu ‘dalamnya’, adalah beberapa orang paling bahagia yang pernah saya temui. Orang yang merasa dirinya adalah manusia yang beruntung. Mereka mengajari saya tentang menjadi bahagia dengan sederhana, tanpa perlu gegap gempita dan hiperbola. Saya sekarang mengerti, bahwa memang benar hanya mereka yang ma(mp)u bersyukur, yang selalu merasa beruntung.

Tapi, tapi dan tapi. Untuk guru semacam guru-guru saya (yang saya yakin masih banyak bisa kita temukan di Indonesia Raya tercinta), seharusnya gaji mereka melebih orang pertama di Indonesia. Merekalah yang mendidik semua warga negara Indonesia, dari masa sangat belia. Kesejahteraan mereka, sudah sepatutnya menjadi perhatian bersama. Katakanlah sebagai bonus, atas segala yang telah mereka berikan bagi anak-anak bangsa Indonesia. Akhir-akhir ini ada sebuah fenomena, yang cukup miris hingga mengiris-iris perasaan saya. Bahwa banyak tenaga pendidik di (terutama) kota-kota besar yang terkadang lalai dengan tugas mulia mereka, karena mengejar sertifikasi saja. Sementara ada mereka lainnya, yang berada di pinggiran Indonesia, mengajar dengan perut kosong-keroncongan. Kecenderungannya, mereka lainnya ini tidak mengerti atau peduli dengan sertifikasi dan segala macam tetek bengeknya. Saya memimpikan suatu masa, di mana seluruh guru di Indonesia sejahtera secara merata. Dan saya mengharapkan hubungan guru-murid yang tetap berharmoni hingga matahari tenggelam di ujung sana, dan langit berubah warnanya menjadi gradasi merah-oranye khas senja. Dan saya, juga berharap di masa yang akan datang guru-guru tetap kental pengabdiannya. Dan saya, juga berharap Indonesia tercinta bisa semakin ‘memudahkan’ dan menghargai para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Maafkan saya yang terlalu egois dan naïve. Tapi…

You may say I am a dreamer, but I am not the only one. -John Lennon

Saya tidak ingin hanya menjadi pencerca, dan saya tahu hanya menjadi pemimpi juga tidak cukup. Kita perlu mulai bergerak. Beberapa guru menjadi ‘gila sertifikasi’ karena memang dengan itu, maka pendapatan bulanannya dapat membaik. Semua orang butuh uang, apalagi yang kebetulan menjadi tulang punggung dalam keluarganya. Mungkin sistem dari pemerintah yang salah, beberapa orang berseloroh demikian. Dan apabila memang benar, mau sampai kapan kita menunggu pemerintah berbenah? Kita harus berkontribusi juga, mulai dari sekarang. Membawa solusi, jangan hanya tuntutan dan cercaan. Inilah saat, di mana kita sebagai warga negara harus berhenti apatis dan tidak peduli. Bersama-sama, dapat kita perbaiki apa yang berjalan tidak dengan semestinya. Saya percaya.

Dan kemudian, teruntuk mereka guru-guru saya. Saya menunduk sedalam-dalamnya, dan mengucapkan terima kasih yang saya tahu tidak akan pernah cukup nilainya. Sembah bumi, untuk kalian para ‘lilin-lilin kecil‘ versi saya. Saya mendoakan kalian sedalam-dalamnya, untuk selalu diberkahi oleh Yang Maha Membuat Segalanya. Dan doakan saya, untuk bisa selalu menjadi seperti kalian.. yang dengan ikhlas memilih untuk menyalakan lilin-lilin kecil dalam kegelapan, daripada hanya mengutuk gelapnya petang. Mari kita bersama-sama tidak hanya menjadi pemimpi dan pencerca saja, namun mulai berani menjadi penyala, layaknya mereka para ‘lilin-lilin kecil‘ kita bersama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s