IDK

Saya nggak tahu kenapa, tapi saya ngerasa tiga tahun terakhir ini susah sekali menulis cerita (baca: novel atau cerpen semacamnya). Banyak konsep, ide, angan dan cerita sesungguhnya. Namun hanya sebatas dalam ruangan kecil di kepala atau pojok-pojok tak tersentuh di rongga dada. Banyak yang dipaksa untuk keluar dan menghasilkan puluhan hingga hampir ratusan halaman, namun kemudian berhenti begitu saja. Semacam mendadak minat untuk meneruskannya hilang entah ke mana. Semacam mendadak benci dengan cerita sendiri, ilfil, tersesat, nggak mood, dan malas meneruskannya.

Lama-lama frustasi juga. Dulu ketika masa masih berseragam, entah merah-putih, putih-biru atau putih-abu abu, selalu saja ada yang selesai diceritakan. Saya rindu perasaan lega ketika membubuhkan titik terakhir, di kalimat paling akhir dari paragraf terakhir. Saya rindu perasaan lega, ketika mengakhiri sebuah cerita. Dulu sepertinya gampang-gampang saja. Ada apa ya.

Advertisements

One thought on “IDK

  1. masa sekolah tentunya masa yang paling indah ,,.. gak mikirin tujuan hidup tapi mikirin apa yang harus saya lakukan saat saya masih hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s