First week

Kira-kira impian saya sebelum saya tiba di Jepang kemarin ialah, saya ingin memiliki enam bulan yang menenangkan. Yang jauh dari kata hectic dan timeline yang selalu mendekati deadline. Seperti itu. Dan satu minggu di sini, ekspektasi saya semacam mendekati kenyataan. Meskipun saya harus catch up dengan kelas integrated jepang (satu-satunya kelas yang berbahasa Jepang, karena lainnya menggunakan bahasa Ingris), tapi itu masih bisa dikatakan santai. Hanya menghafal huruf hiragana dan kosakata-kosakata Jepang (sombong bet hanya lol).

Kota ini bagi saya seperti sebuah sepatu lama. Agak aneh sebenarnya, sejak kali pertama keluar dari bandara, saya merasa familiar dengan Fukuoka. Tidak sepenuhnya seperti sesuatu yang baru bagi saya. Fukuoka kota yang tidak besar, tapi juga tidak kecil. Fukuoka tidak segegap gempita Tokyo, tapi juga tidak seperti pedesaan di Jepang. Tengah-tengah lah ya. Saya suka ketika jalan-jalan ketika senja baru tenggelam dan duduk-duduk di taman beberapa kilo di belakang dorm. Ada semacam bench, di depan semacam danau atau air tenang buatan. Lalu padang tanah (atau pasir ya), dan rerumputan. Melihat orang-orang berlarian, atau sekedar duduk bengong saja.

Downtown-nya Fukuoka ini namanya Tenjin. Semacam pusat kota. Hanya 20 menit via kereta atau bis dari dorm, tapi saya semacam kurang memiliki mood untuk menyambanginya sering-sering. Saya lebih suka jalan-jalan santai ke sekeliling, atau ke perpustakaan, atau melakukan aktivitas nerdy lainnya lol. Atau tidur hehe. Dorm saya, menyenangkan dan sophisticated. Jalanan di depan kawasan dorm semacam jalanan di San Fransisco gitu; nanjak ke atas. Satu flat berisi empat kamar, communal room, dan sebagai-bagainya. Setiap kamar ada balcony-nya, dan karena saya di lantai lima maka otomatis viewnya bagus hehe. Enaknya ialah, di dalam dorm sudah nggak perlu ngisi barang apa-apa lagi. Sudah ada alat memasak, microwave, magic jar, semacam dispenser, kulkas, mesin cuci, dan lain sebagainya. Meski alat masaknya lengkap, tapi semacam useless hingga sekarang. Saya nggak bisa masak. Nggak tahu mau masak apa, dan bagaimana caranya. Dan kalau dibiarkan terus menerus, habislah scholarship saya hanya buat makan di luar saja -_-*

Bicara soal scholarship, sebenarnya jumlahnya menyenangkan juga. Tergolong banyak untuk ukuran kota medium seperti Fukuoka. Biasanya rata-rata dari kami bisa nyimpen hingga 15,000 yen sebulan, atau sekitar 1,5 juta lebih sekianlah kalau di Indonesia-kan. Itu dengan gaya hidup yang normal dan masih sering keluar-keluar. Kalau benar-benar mau sengsara sih bisa kali ya nyimpan 40,000-an, tapi ya buat apa juga kan? Hehe. Selain saya, ada 23 anak penerima beasiswa lainnya; dari Denmark, Jerman, Swedia, Belgia, Vietnam, Thailand, Srilanka dan Korea. Rasanya seperti kembali ke masa semester satu kuliah dulu. Kenalan, canggung-canggungan, tukeran informasi, dan etc. Well I really wanna skip this getting-to-know-each-other-part, and could just straight to ‘we’re-already-comfortable-with-each-other’ part.

Duh, saya pengen beli sepeda dan laptop atau gadget kecil yang bisa ringan dibawa kemana-mana. Terus bisa nulis di mana-mana. Yayyness.

Weekend pertama kemarin

Keadaan kamar hari pertama datang. Kalo sekarang sih… masih berantakan juga.

So this is the dorm!

🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s