You had me at ‘hello’

Life was like a box of chocolates, you never know what you’re gonna get. (Forrest Gump)

Tidak ada yang bisa diprediksikan dengan tepat dari kehidupan. Saya bangun di pagi hari, dan tidak tahu dengan pasti akan bertemu siapa hari ini. Orang baru seperti apa yang akan bergesekan dengan saya; dan seterusnya. Beberapa dari stranger yang kita temui hari ini, mungkin saja akan menjadi lingkaran kecilmu yang selalu bisa memberikan kenyamanan dan ketenangan. Ah, bukankah semua pertemanan selalu bermula dari pertukaran identitas antara dua orang yang sama-sama saling tidak mengenal sebelumnya?

Terkadang kita iseng memulai obrolan dengan orang, dan dari satu getar sel abu-abu untuk ‘memulai obrolan’ tadi kemudian berlanjut dan berlanjut. Terkadang tanpa perlu effort yang berlebihan, kita merasa terkoneksikan. Beberapa minggu yang lalu, saya berkenalan dengan orang yang baru. Sesederhana itu, kami merasa terkoneksikan. Berbagai obrolan penuh harapan dan janji. Harapan yang semoga menjadi kenyataan, dan janji yang entah mengapa saya tahu akan saling kami tepati (semoga). Berbagai jam yang berlalu bahkan tanpa sepatah kata terucap, dan kami masih merasa nyaman. Nyaman yang sederhana dan effortless, sesederhana saya duduk bersandar sempurna sambil bengong melihat jalanan sore yang mendamaikan dan dia duduk di sebelah sibuk dengan ipadnya. Berbagai jam yang berlalu dalam kontemplasi yang sering menusuk hati. Sifat kami berdua hampir sama, dan tidak jarang saya bisa menebak apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan -and vice versa. Pernah di suatu petang selepas makan malam, kami membuat list ‘persamaan sifat’. Dan ternyata, sifat-sifat kami banyak sekali yang sama. Yang terburuk hingga yang terbaik lol.

Dan lalu di suatu malam sebelum saya meninggalkan Yogya, dia berkata meskipun baru mingguan lalu bertatap muka, dia sudah seperti mengenal saya tahunan lamanya. Saya diam. Karena kemudian saya menjadi mencoba lebih peka merasa. Dan ternyata memang saya juga merasa seperti itu. Dia terasa ‘lama’, sebagaimana sepatumu yang telah lama dan butut; nyaman rasanya.

Malam itu di rumah, saya tidak bisa tidur. Menghitung berapa orang yang ada dalam lingkaran kecil saya. Lingkaran yang saya yakini selalu dapat memberikan kenyamanan, kapanpun saya membutuhkan dan dimanapun saya berada. Selain keluarga, ternyata sebagian besar mereka yang berada di lingkaran itu memiliki satu pola yang sama. Kami merasa terkoneksikan, dalam waktu yang sekejap saja. Seketika itu juga, ketika kami memulai obrolan pertama. Saya kira, mungkin saya orang yang demikian. Mungkin saya sering jatuh cinta -dalam konteks pertemanan- pada pandangan yang pertama. Apabila kata Jerry Maguire, you had me at “hello”.

*postingan ini, didedikasikan untuk kalian, lingkaran yang selalu memberikan kenyamanan*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s