Melalui Tulisanmu, Apa yang Kamu Cari?

Beberapa waktu yang lalu, teman saya membuat sebuah kontes menulis melalui Arisan Buku-nya. Tema untuk kontes menulis kali ini ialah: melalui tulisanmu, apa yang kau cari? Saya gagal submit tulisan karena di tengah-tengah aktivitas KKN yang sedang padat-padatnya, menulis seperti kenikmatan surgawi. Harus curi-curi kesempatan di tengah waktu yang seolah makin memepat; padat. Dan lagi memang susah mendapatkan koneksi internet di daerah KKN saya.

Baru setelah saya berada di surga dunia (baca: rumah), saya mulai berpikir. Tema itu terdengar klise. Tapi tetap, sebenarnya apa yang saya cari dari tulisan saya? Saya tahu apabila ‘bercerita’ melalui aksara ialah passion saya sejak kecil. Saya ingat kata-kata Pak Kuntoro Mangkusubroto terhadap kami anak-anak Young Leaders for Indonesia di Forum 1 dulu. Secara garis besar beliau bilang seperti ini, “Ayo ingat-ingat kegiatan apa yang kalian lakukan dari kecil hingga sekarang? Kegiatan yang dilakukan secara rajin dari dulu hingga sekarang akan membuat kalian lebih ahli dari kebanyakan orang di kegiatan itu, seperti renang. Ayo siapa di ruangan ini yang bisa berenang  satu jam tanpa berhenti? [lalu seorang teman dari NUS menunjukkan tangan ke atas]. Nah, kegiatan yang tidak membuat bosan kalian dari dulu hingga sekarang inilah, yang mungkin adalah passion kalian.” Dan yah, bagi saya kegiatan itu ada tiga. Menulis, membaca dan menonton film.

Kembali lagi, untuk menjawab pertanyaan tadi itu, saya akan merunut perjalanan kegiatan menulis saya. Dan ternyata butuh perjalanan panjang untuk merunut apa yang tertinggal di belakang.  Saya sedikit kepayahan untuk mengingat di mana tepatnya awal mula perjalanan ini berasal? Kapan tepatnya perjalanan ini dimulai? Tidak ada ingatan yang secara jelas berhasil memastikan saya.

Namun saya ingat rutinitas malam hari yang selalu saya lakukan ketika Sekolah Dasar kelas dua; menulis cerita. Saya ingat ketika itu saya khusus membeli buku tulis merek Exercise 555 dan berketebalan 40 halaman untuk menjadi buku menulis cerita saya. Dan yang rutin menulis setiap malam. Cerita yang saya tulis? bermacam-macam. Meskipun kebanyakan ialah cerita berlatar belakang kehidupan luar negeri yang sedikit tidak masuk akal.

Saya ingat ketika saya kelas 4-5 SD, saya membuat novel pertama dengan ketiga teman SD saya. Novel yang ditulis tangan, dan berjudul ‘3 orang Sahabat’. Saya ingat ketika kelas 5 SD, akhirnya saya mendapatkan komputer pertama saya; komputer pentium tercanggih pada masa itu yang membuat saya senang bukan kepayang. Saya ingat cerita pendek pertama yang saya print pada kelas itu juga, berjudul ‘Hadiah untuk Ibu’; bercerita tentang anak kecil bernama Alfred yang tinggal di desa bernama Jackals dan akhirnya setelah bekerja keras berhasil memberi hadiah liontin untuk Ibunya di hari Ibu. Saya ingat dongeng pertama saya yang dimuat di suplemen surat kabar Suara Merdeka hari Minggu ketika saya kelas 1 SMP. Saya ingat bagaimana ketika SMP dulu hampir seperempat hari selalu saya habiskan di depan komputer dan menulis cerita (yaampun pathetic syekali ya). Saya ingat semua itu.

Dan hingga sekarang saya masih melakukannya; menulis. Sebuah aktivitas yang telah saya lakukan lebih dari separuh usia saya. Mengapa saya tidak bosan? Apakah yang saya cari melalui tulisan-tulisan saya? Glory? MoneyNo. Jawaban dari pertanyaan itu saya yakini karena sesuatu yang bisa dijelaskan oleh limbik, bukan oleh neokorteks. Atau dengan kata lain, sesuatu yang lebih saya rasakan ketimbang saya pikirkan.

Saya melakukannya karena saya bahagia ketika melakukannya. Saya melakukannya karena inilah obat yang selalu bisa menyembuhkan segala. Saya melakukannya untuk merasa lega. Saya melakukannya karena ketidakberdayaan saya untuk kadangkala mengubah status quo yang tidak seharusnya. Saya melakukannya untuk belajar dan menjadi lebih tahu, karena memang seringkali saya merasakan momen ‘oh jadi gitu ya’ di beberapa titik yang mengakhiri tulisan saya. Saya melakukannya untuk berusaha lebih menjadi pendengar kehidupan yang baik. Saya melakukannya untuk merekam apa yang saya rasakan dan pikirkan sekarang, untuk menjadi semacam album foto bagi saya di masa yang akan datang -barangkali saya akan kangen dengan saya di masa sekarang. Saya melakukannya untuk lebih menggenapi tugas saya sebagai student of life. Saya melakukannya karena inilah sanctuary menurut versi saya. Saya melakukannya karena saya ingin melakukannya.

Katakan saya penulis yang egois, karena alasan saya menulis adalah hal-hal yang berbau saya-sentris. Dan memang iya. Apabila ada yang terinspirasi atau termotivasi (which is unlikely to happen :P) dengan tulisan saya, maka itu ialah akibat eksternal lain dari kegiatan menulis saya. Meski demikian saya sangat senang apabila tulisan yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan saya bisa berdampak demikian serta memberi informasi untuk orang lain (beneran deh :P). Mungkin nanti ketika saya lebih dewasa, saya akan memiliki niat menulis untuk sesama dan semesta. Dan memang itulah salah satu short term goal saya. Menulis untuk menjadi orang yang lebih bermanfaat lagi. Semoga Dia mengizinkan untuk terlaksana.

Jadi apa yang saya cari? Happiness.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s