I’ll come back!

Sekarang pukul setengah tiga, dan rasanya agak aneh ketika saya tidak menemukan suara khas ombak yang samar-samar terdengar. Juga suara bebek, dan gonggongan anjing-anjing yang tidak bertuan. I’m home. Tepatnya sejak kemarin malam, saya akhirnya berada juga di dalam bangunan yang saya namai rumah ini.

Saya pulang, setelah perjalanan pulang yang bikin keki karena nunggu dan delay yang lama sekali. Saya pulang, setelah sesi perpisahan yang membikin biru dengan warga Matras (esp. anak-anaknya). Saya pulang, setelah ngaku-ngaku menjadi kakak angkat nggak resminya Yolanda, Dini, Lena, Ichsan, Lita, Ferdy, Ambar, Daus, Chris, Okta, Gani, Dea Bu Kaling, Dea, Dela, Ichsan adiknya Dela, Aorta, Wahyu, Sena, Adit, Anelka, Diaz, Fitri, Julita, Rio, Yayan, Hikma, Desti, dan sekarung anak-anak lainnya. Saya pulang, setelah menjeburkan Mieke ke pantai malam-malam bersama anak-anak. Saya pulang, setelah memiliki keluarga baru yang dipertemukan karena sama-sama menjadi anggota unit 34. Saya pulang, setelah berkali-kali menyaksikan sunrise dan sunset di pantai Matras dan Batu Bedaun. Saya pulang, setelah puas (honestly, belum puas juga sih) makan pempek, jongkong, sotong, dan segala macam makanan itu. Saya pulang, setelah menerima lebih dari 50 amplop surat dari anak-anak di Matras. Saya pulang, setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bekas-bekas galian tambang timah yang membuat miris. Saya pulang, setelah menyentuh timah. Saya pulang, setelah menjadi anak gaul mobil pick up terbuka. Saya pulang, setelah menjadi anak gaul kali (sungai) karena baju-baju saya mau nggak mau harus dicuci di kali. Saya pulang, setelah kaki pecah-pecah karena difungsikan secara maksimal di tengah hari yang mayoritas selalu terik. Saya pulang, setelah bisa menyanyikan lagu-lagu tradisional bangka. Saya pulang, setelah kosa kata saya bertambah dari yang semula hanya ‘aok-aok’ saja.

Singkatnya saya pulang, setelah melewati 36 hari petualangan. Saya pulang.  But i’ll come back. Promise.

Saya, suatu hari sepulang ngajar. Di belakang saya, adalah jalan panjang menuju pondokan. Gang Danau Ranau: yang ketika malam gelap tidak berlampu.

Kolong (sungai) tempat kami mencuci. Airnya mengalir kok *kalem.

Menunggu sunrise di Pantai Batu Bedaun. Lihat, langitnya ada dua ya 😀

Sunrise

 Sunset di Pantai Matras. Breathtakingly awesome.

Fela, Ichsan, Farhan, Kakak Farhan si Zico-yang-pernah-2x-main-siBolang-Uci-Uli

Anak gaul pick-up

My brand new fam. Tengah malam. Sesaat sebelum Mieke diceburkan ke Pantai.

14 Agustus 2012. Kami pergi dari Matras, kembali memiliki rasa kehilangan. Dijemput bis PEMDA, bis sama yang mengantarkan kami dari bandara ke tempat ini pada 8 Juli 2012. Saya merasa kehilangan, merekapun mengaku demikian. Saya merasa kehilangan 11 perempuan-perempuan sepondokan. Saya merasa kehilangan kebersamaan dengan para lelaki unit 34. Saya merasa sangat kehilangan Matras and its people. Dan bukankah kita baru akan merasa kehilangan apabila pernah merasa memilikinya? 🙂

Advertisements

2 thoughts on “I’ll come back!

  1. luar biasa nih kayaknya pengalaman KKN nya.Sort of like Indonesia Mengajar ya hehe.Mungkin bisa mengoptimalkan masa KKN kalo nanti aku ngga keterima jadi Pengajar Muda.Kemaren aku sama Dara Ninggar ngomongin how lucky we are anak UGM punya kewajiban bernama KKN dimana kita bisa mengabdi untuk bangsa INdonesia, at least for a month.Membuka mata bahwa semua pendidikan kita ini untuk bangsa, bukan untuk disimpan sendiri.

    Always happy to hear your story, you really have a way with words Kak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s