Gagal Menjadi John Keating

Salah satu kegiatan saya di KKN kemarin ialah mengajar SD. Sejak hari pertama mengajar, saya memang sudah membawa misi sendiri. Saya mau menjadi guru yang seperti John Keating (diperankan Robin Williams) di Dead Poets Society. Saya mau meyakinkan mereka bahwa di masa ketika mereka dewasa, mereka akan sadar apabila Matematika-IPA-IPS-dkk, bukanlah satu-satunya hal yang paling penting dalam menjamin kesuksesan mereka. Saya ingin mereka mengimajinasikan, kehidupan seperti apa yang ada di luar kampung Matras mereka. Saya ingin mereka bermimpi, yang besar! Saya ingin mereka tahu bahwa ada orang-orang yang berawal dari kehidupan seperti mereka, yang sekarang bisa bermanfaat bagi bangsanya. Tapi kemudian kendala pertama, bagaimana cara deketin anak-anak itu ya? HEHEHE.

To be perfectly honest, sebenarnya saya kurang bisa dekat dengan anak-anak. Saya selalu nggak sabar menjelaskan sesuatu kepada mereka. Lama. Tapi satu bulan di Matras membuktikan satu fakta baru yang belum saya ketahui selama ini: saya bisa dekat dengan anak-anak! Saking dekatnya saya dengan mereka, ada beberapa yang ngasih saya hadiah dan surat ketika hendak pulang. Ada yang memberi uang titipan Mamaknya (karena saya sudah dekat dengan Ibunya juga sih), memberi sekardus oleh-oleh khas Bangka, memberi boneka doraemon, frame foto, syal, buku, permen Yuppi (yes.), koleksi kerang laut, dan sebagainya. Saking dekatnya juga pagi ini ketika bangun jam 10 siang, ada 17 missed call dan puluhan sms dari mereka. Ih wow banget kan. Prestasi. Jadi sedih lagi deh.

Di SD, saya mengampu kelas 3 dan 6. Ada 23 anak di kelas 3, dan 40 di kelas 6. Anak-anak yang selalu ribut, bandel, dan selalu berebut perhatian. Anak-anak yang selalu bau, main peluk, sms dan telepon. Anak-anak yang mayoritas selalu main ke pondokan kami ketika bahkan kami belum pulang dari ngajar ke pondokan. Anak-anak yang terkadang membuat saya tersenyum sendiri hanya dengan ngelihat muka-muka mereka di kelas. Anak-anak yang kadang membuat marah. Anak-anak, yang juga membuat saya khawatir dan sedih.

Frankly speaking, saya sedih membayangkan masa-masa beberapa tahun dari sekarang. Masa depan mereka. Sedikit sekali orang Matras yang memiliki keistimewaan untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. Sedikit sekali orang Matras yang memiliki mata penceharian selain nelayan, pekerja timah, pembuat roti, pekerja bangunan, dan buruh-buruh semacamnya. Saya jadi sedih. Apalagi ketika mengingat mayoritas anak-anak SD itu memiliki keluarga yang berpenghasilan cukup saja. Mayoritas dari mereka tidak memiliki network untuk mengakses kehidupan di Jawa yang banyak menyediakan tempat untuk belajar. Mayoritas dari mereka tidak memiliki rent. Mereka tidak seperti aku dan kamu.

Apa kabar Ichsan 15 tahun lagi? Lena 10 tahun lagi? Apa kabar muridku yang paling pintar di kelas 3, Ambar dan Ferdy, 10 tahun lagi? Apa kabar muridku yang paling bandel di kelas 3 juga, Adit dan Nisa, 10 tahun lagi? Now I’m about to cry :'((((. Pernah dengar  ungkapan: If you can’t feed a hundred people, then feed just one? Kalau disuruh milih, rasanya nggak bisa  milih hanya satu di antara mereka semua. Makanya nanti harus jadi orang kaya (kok malah zzzt gini -_-).

Yang bisa saya lakukan ketika di kelas hanyalah bercerita. Mimpi melakukan aksi-aksi seperti John Keating harus dikompromikan dan direduksi mengingat teguran Bu Kepala Sekolah ketika kami mengajar (ceritanya saya dan teman ngajar ingin ngajar sampai mereka semua paham nggak peduli itu butuh waktu yang lebih lama. Tapi beliau bilang kita harus ngejar materi dan waktu 8’|). Dari teguran itu, lantas kami ngobrol-ngobrol dan ketahuanlah apabila beliau termasuk jenis guru yang tidak suka guru sejenis John Keating.

Jadi yang bisa saya lakukan hanya bercerita, ketika materi pelajaran sudah selesai sebelum kelas berakhir. Saya bercerita tentang bagaimana seorang anak yang semula bahkan tidak menggunakan sepatu ketika SD dan hanya memiliki sepasang  baju serta celana, sekarang berhasil menjadi menteri BUMN (Dahlan Iskan). Saya bercerita tentang bagaimana seorang anak kecil di pulau tetangga mereka, sekarang berhasil menjadi sarjana dari universitas terkenal di Perancis dan menjadi pengarang buku best seller (Andrea Hirata, fyi ternyata kebanyakan dari mereka sudah nonton film ini hehe). Saya bercerita tentang betapa luasnya dunia, dan keindahan negara lain yang berbeda dengan Indonesia. Saya bercerita tentang Kak Cindy (teman KKN saya, yang juga mengajar di SD), yang bisa pergi ke Korea, Jepang dan US gratis. Saya bercerita bahwa mereka juga bisa, asal mereka benar-benar mau. Saya dan teman-teman tempel di belakang kelas, kalimat yang selalu saya katakan di akhir cerita-cerita saya ke mereka:  Siapa yang bersungguh-sungguh, insyaAllah pasti akan berhasil. Semoga!

Dengan Ambar dan Ferdy

Anak-anak SD!

Till we meet again, Kiddos! So long 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s