Cerita KKN #1: Pondokan!

Manusia memang hanya bisa merencanakan dan mengusahakan. Selanjutnya, sepenuhnya hanya bisa diserahkan kepada Tuhan. Rencananya dua bulan lalu, saya bertekad untuk post blog at least once a day ketika KKN di Bangka nanti. Ternyata rencana itu berubah menjadi cerita yang sayangnya dongeng bukan fakta. Tsahlah. Pertama, usaha saya kurang keras karena terkalahkan oleh rasa malas dan alasan-alasan ‘banyak kerjaan KKN’ yang sebenarnya nggak bisa diterima. Kedua, usaha itu mentok karena koneksi internet yang trust me kurang proper. Modem saya yang pakai kartu 3 total tidak bisa dipakai karena no signal sejak hari pertama. Modem yang tersisa, yang kayaknya nggak lebih dari 4, koneksi internetnya super labil dan galau. Sudah gitu untuk rebutan 28 orang. Warnet nggak ada di kampung KKN saya. Semesta mendukung saya untuk belum cerita-cerita soal KKN di blog. Okelah.

Tapi ternyata malam ini saya menemukan dua draft cerita soal KKN di laptop. Cerita yang tanggal penyimpanannya ternyata tepat sebulan lalu, 16/07/2012. What a coincidence yah. Yaudah, izinkanlah saya post cerita-yang-mungkin-sudah-basi itu ya 🙂

——————————————

8 Juli 2012 adalah tanggal ketika saya akhirnya melewati Sumatera (ya hanya lewat) dan tiba di Bangka. Saya akan berada di Bangka hingga 14 Agustus nanti, untuk Kuliah Kerja Nyata. Intermezzo sebentar, jadi di UGM, setiap mahasiswa angkatan akhir diwajibkan untuk mengikuti KKN ini. Di beberapa universitas juga ada KKN (seperti di UI yang disebut K2N), namun sedikit yang mewajibkan setiap mahasiswanya untuk ikut KKN. UGM adalah satu di antara yang sedikit itu, dan saya bangga dengan fakta tersebut.

Kesan pertama ketika melihat Bangka dari atas ialah: miris. Bangka terlihat berlubang-lubang. Di tengah lebatnya hutan, tidak jarang lubang-lubang besar terlihat. Kesan kedua, agak menipu. Jadi ketika sudah sampai di Bandara Depati Amir, saya langsung mikir kalau Bangka itu sangat primitif karena bandaranya yang tidak sebagus Soetta atau Adi Sucipto atau bahkan Ahmad Yani. Padahal tiga bandara itu juga nggak bagus sih hehe. Tapi ternyata, setelah tinggal seminggu di sini, Bangka tidak seprimitif itu kok. Yah walaupun Mall satu-satunya hanya Ramayana dan itu adanya di Pangkalpinang (ibukota), tapi setidaknya masih banyak mobil berkeliaran di sini. Kemudian dari Bandara, saya dan teman-teman dijemput bis Pemda, terus langsung diantarkan ke pondokan kita yang jaraknya satu jam-an dari pusat kota.

Kami tinggal di Lingkungan Matras. Pondokan kami ialah rumah kebunnya Pak Sekda. Jangan bayangkan rumah kebun yang keren yah. Sederhana dan bahkan less-sederhana hehe. Kami tidur di atas kayu yang dilapisi Matras yang sudah menipis sekali, dapurnya masih memakai kayu hingga rebus air saja lamanya ampun-ampunan (karena lama bisa menyalakan apinya, dan menjaganya tetap terjaga), kamar kami masih semenan saja lantainya, sering ditemukan kaki seribu dan hewan-hewan unyu lainnya di dalam kamar. Terus ada kejadian yang selalu terulang tiap hari: anak-anak mandi dan nyuci => air habis => pompa air dinyalakan => listrik mati. Hingga akhirnya mulai hari ini kami akan nyuci di sungai. Kewl, eh? hehe. Spot paling menarik dari pondokan saya ini ialah lantai atasnya. Bentuk rumahnya seperti rumah panggung. Di lantai atas, lantainya dari kayu, dan ruangannya terbuka, nggak ada dinding-dindingnya gitu. Jadi kalau pagi hari, langsung terlihat pohon-pohon lebat dan suara bebek-ayam bersahut-sahutan. Berasa hidup di tengah-tengah hutan, karena kebun ini lebih cocok disebut hutan sebenarnya. Oh ya, kalau malam sudah melewati puncaknya dan suasana benar-benar sepi, seringkali kami bisa mendengar suara ombak dari pantai Batu Bedaun yang jaraknya hanya 15 menit-an jalan. Mendamaikan dan menentramkan.

Meski banyak keterbatasan, pondokan ini semakin lama ditinggali rasanya semakin nyaman dan menyenangkan. Di sini, parameter bahagia menjadi lebih sederhana. Duh nggak sabar sampai rumah lagi. Pasti terasa seperti surga :’)))))))).

——————————————

Ps. untuk Fela sebulan yang lalu, iya memang rumah rasanya semakin seperti surga. Hari pertama di rumah kemarin, tidur hingga hampir 12 jam saking kangennya sama kasur. Terus masih amazing dengan koneksi internet yang cepat. Dan kemudahan menggunakan listrik, air, dan sebagai sebagainya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s