Manusia Paradoksial

Kalau kamu berkenan kuberikan satu nama panggilan, maka aku akan dengan senang hati menyebutmu manusia paradoksial. Kamu, penuh paradoks. Paradoks, yang seringkali membuatku tersesat di tengah-tengah rimba yang khas menurut versi kamu. Kamu, manusia paradoksial.

Kamu senang merokok, namun benci setengah mati dengan asap rokok. Katakan padaku bagaimana caranya, kamu dapat merokok tanpa menghirup asapnya. Bukankah jarak antara sela bibirmu dan lubang hidungmu bahkan tidak ada sejengkal? Kamu bangga menjadi manusia malam, namun juga mati-matian tidak mau meninggalkan matahari yang diam-diam akan naik ketika petang mulai hilang. Kamu mengeluh tidak enak badan, kalau bangunmu melebihi pukul tujuh pagi. Tapi kamu juga bersikeras bertahan, dan aku tahu meskipun kamu tidak bersikeraspun, kamu tidak  bisa tidak terjaga hingga malam melewati puncaknya. Kamu bercinta dengan pekerjaanmu, seharian. Tapi kamu juga mengeluh ingin menikmati setiap detik harimu, dengan ke-selo-an total. Tapi kamu pasti selalu pusing kalau tiada pekerjaan. Kamu mencari kesibukan. Tapi mencandui momen-momen puitis ketika kamu menikmati alam dan segala yang bergerak di sekitarmu; menikmati dengan ketotalan yang absolut akan membuatku mustahil mengusikmu.

Lalu, aku diam-diam terdiam. Apa sebenarnya yang kamu mau, hai kamu manusia paradoksial? Lalu, diam-diam aku mulai paham. Bukankah sebenarnya kita semua memiliki kecenderungan untuk menjadi kaum paradoksial? Ah, paradoks.

Advertisements

2 thoughts on “Manusia Paradoksial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s