Homesick :(

Ternyata, tingkat kerasionalitasan saya berbanding lurus dengan frekuensi kepulangan. Semakin sering pulang, saya semakin rasional. Vice versa, kalau sudah lama nggak pulang, rasanya saya mati rasa. Saya sendiri juga heran, kenapa ya saya sungguh homesick-an sekali. Ceritanya sore ini saya sedang sedih. Rabu-Kamis-Jumat-Sabtu-Minggu-Senin nggak ada kuliah tapi nggak bisa pulang. Minggu depannya juga nggak bisa pulang karena harus ke Jakarta dan Bandung (geez, baru sadar sejak Desember tahun lalu kemarin saya tiap bulan selalu menginjakkan kaki ke Soetta. Kok saya jadi lebih rajin ke Jakarta daripada temen-temen yang asli sana ya -___-). Padahal saya sudah pengen pulang sekali sekarang, nggak nanti, nggak minggu depan atau juga minggu depannya lagi.

Heran juga sih. Kenapa saya bisa se-homesick-an ini. Apa kabar nanti kalau saya benar-benar nggak bisa pulang ke rumah dalam rentang periode yang cukup lama? Ada apa sih di rumah saya yang membuat saya benar-benar selalu ingin menginjakkan kaki dan membaui atmosfer di dalamnya?

A house is made of walls and beams; a home is built with love and dreams

Bukan rumahnya yang membuat rindu, tapi orang-orang yang ada di dalamnya. Orang tua, adik, bahkan juga si Mbak. Kadang saya juga bertemu kakak saya di rumah, kalau saya sedang beruntung. Saya jadi teringat momen ketika saya pertama dilepas di Yogyakarta. Sebenarnya momennya sedikit hiperbolis. Singkat cerita, orang tua mengantar saya ke Jogja. Malam hari mereka pulang ke rumah, dan siang hari besoknya saya menyusul pulang ke rumah. Sampai rumah saya langsung mencari Ibu dan memeluknya erat-erat. Tak mau lepas. Iya, saya lebay.

Saya adalah orang rumahan, sebenarnya. Kalau sedang di rumah, saya bisa seminggu nggak keluar rumah. Home is definitely my sanctuary. Di rumah saya melakukan segala ketidakproduktifan. Setiap hari adalah me time. Dari mulai main the sims sampai mabok, main WE, nonton film, nonton TV, tidur-tiduran, nulis, baca, duduk di teras atas melihat langit yang semula biru hingga oranye hingga berubah petang.

Adik saya ada 3. Namanya Salma, Rafly dan Marsha. Ketiganya unik dengan cara mereka masing-masing. Saya ingat sekali hari di mana mereka dilahirkan, dan momen-momen ketika saya memiliki adik baru. Semoga saja saya dan kakak bisa menjadi contoh yang baik untuk mereka (ini apa sih -__-). Btw, saya sayang banget sama adik-adik saya. Sayang banget banget juga sama orang tua saya. Juga sama kakak saya. Mereka adalah alasan saya untuk melakukan sekarang yang saya lakukan, dulu yang saya lakukan, dan nanti yang akan saya lakukan.

adik terakhir yang nakal, suka memukul dan suka menggigit: Marsha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s