Perjalanan Menuju Lebih Dewasa

Butuh keberanian untuk akhirnya berdamai dengan kenyataan. Menerima sesuatu. Atau ikhlas merelakannya pergi. Minggu ketiga di bulan Februari 2012, adalah salah satu weekdays yang mungkin akan susah saya terima walaupun mau tidak mau saya harus berdamai dengannya. Soon.

Ini, tentang salah satu mimpi yang gagal diraih meski kami sudah menaruh keyakinan dan kerja keras di dalamnya. Bicara tentang mimpi, ada ratusan yang juga mungkin tidak bisa saya dapatkan. Bicara tentang mimpi, ada banyak yang terlepas dari genggaman. Bicara tentang mimpi, ada banyak tembakan saya yang melesat dan akhirnya hanya jatuh di antara bintang-bintang. Saya teringat, banyak sekali aplikasi exchange yang saya kirim semester kemarin dan hanya satu yang tembus –itupun di negara yang sebenarnya bukan tujuan utama saya. Saya teringat, banyak sekali mimpi untuk membuat novel lagi namun semuanya tidak terealisasi. Saya teringat, tentang hal-hal lain yang saya inginkan tapi tidak Dia berikan. Dan saya ingat, saya selalu bisa dengan cepat berdamai dengan semuanya itu. Tapi yang satu ini, sepertinya akan agak susah. Saya tidak menyesal, saya hanya sedih hikssss.

Ini, tentang mimpi yang bukan hanya milik saya. Namun juga milik keempat teman satu tim saya. Dengan dua di antara mereka berempat, saya telah merencanakan untuk ikut kompetisi ini sejak satu tahun lebih sebelumnya. Bahkan, pertemuan saya dengan salah satu di antaranya (yang kemudian menjadi salah satu teman terdekat saya) juga mungkin karena ini. Kemudian, di awal bulan Oktober tahun lalu kita mulai bertemu berlima. Lengkap sudah kita sebagai satu tim. Bela yang pintar dan tegas (:*). Fida yang santai, lucu kayak Chibimaruko Chan dan multi-talent, dari mulai desain sampai gitar bisa. Ghufron yang mau ngapa-ngapain, termasuk ngangkutin koper yang besar-besar hehe. Nabila yang nggak tahu bagaimana bisa membuat saya lebih pede di dalam tim. Dan saya yang garing dan banyak dihina-hina hehe.

Ini, tentang tim yang anggotanya adalah orang-orang yang saya sayangi. Ada pepatah yang bilang bahwa hubungan akan semakin erat terjalin apabila mereka yang terlibat di dalamnya telah suffering bareng-bareng. Dan ya, kita nggak enak bareng-bareng. Dari mulai bulan Oktober, November, Desember, Januari dan akhirnya Februari. Tapi kita juga merasakan banyak enak bareng-bareng hehe. Sebenarnya perjalanan tim saya ini memang sudah krusial dan patriotis (susah nih bahasanya hehe) sejak awal. Kami telat apply satu minggu lebih, saat pendaftaran bagi mahasiswa UGM sudah selesai. Tapi kami tidak menyerah, dan menghubungi setiap orang yang sekiranya bisa membantu. Hingga akhirnya mendapat kontak campus manager UGM, dan kami diperbolehkan untuk mengirim CV kami. Setelah proses seleksi administrasi dan interview, tim kami lolos mewakili UGM bersama dua tim lainnya. Satu adalah tim dari MM UGM, satu lagi tim gabungan dari anak-anak 2007 berbagai fakultas. Lomba penyisihan pertama di bulan Januari, secara kebetulan bentrok dengan jadwal UAS di UGM. Karena lombanya selama dua hari dan di Jakarta, kami skip beberapa mata kuliah UAS. Dan alhamdulillah, beberapa minggu kemudian kami lolos ke babak country final 13 besar bersama dua tim UGM lain. Kami cukup optimis. Malam sebelum country final, saya benar-benar berada di titik yang rendah karena saya merasa tertekan dengan keadaan. Saya sangat beruntung memiliki Bela, Bela, Fida dan Ghufron sebagai team-mates. Mereka mengerti. Untungnya saat country final, saya sudah nggak senervous malamnya dan merasa sudah melakukan yang terbaik yang saya bisa. Dan saya yakin teman-teman saya juga. Dan kami menjadi satu-satunya tim UGM yang lolos ke babak 6 besar bersama dua tim dari ITB dan dua dari UI, dan lupa satu lagi dari mana. God, Paris was as close as THIS. Tinggal mengalahkan lima tim lainnya. Dan di babak 5 besar, kami menampilkan our very best performance. Tapi ternyata hasilnya tidak seperti harapan kami. Sedih? Sekali. Menyesal? Saya tidak begitu merasakannya, mungkin karena tahu bahwa kami sudah menampilkan yang terbaik di babak 5 besar.

Dear my Bela, Bela, Fida and Ghufron. God always has reasons , dan fyi, saya nggak ragu sedikitpun bahwa semua dari kita akan bisa mendapat gantinya Paris hehe. Yakin, dan amin.

Advertisements

2 thoughts on “Perjalanan Menuju Lebih Dewasa

  1. berarti ada hal lain yang sudah disiapkan Tuhan untuk tim-mu, fel. bisa jadi bahkan lebih besar dari sekedar ke Paris 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s