Entah tentang apa

Sudah lama juga ya nggak posting blog. Kinda busy lately -maksudnya total menikmati liburan hehe-. So here we go.

Sejak kecil ada satu sudut pandang saya yang tetap bertahan hingga sekarang. Saya tidak tahu bagaimana dengan orang lainnya sih. Tapi, saya selalu merasa waspada apabila saya mendapat kebahagiaan berlebih. Juga ada sedikit rasa takut apabila melihat orang lain seperti memiliki banyak sekali kelebihan. First, saya menikmati dan mensyukuri kebahagiaan yang saya dapat terlepas selalu saja ada sedikit rasa waspada yang mendadak menyeruak dan mendesak masuk. Second, rasa takut yang saya rasakan ketika bertemu orang yang sempurna lebih kepada semacam pemikiran blink, apa yang sebenarnya ada dan/atau akan ada kepada dirinya?

Karena saya orang yang cenderung melihat Tuhan akan memberikan porsi waktu yang sama antara gelap dan terang dengan cahaya. Terlepas dari fakta yang baru saya temukan, bahwa kita masih bisa memilih untuk melihat meski tanpa cahaya. Asalkan kita mau sedikit membuka setiap mata, dan bersyukur setelahnya. Balik lagi, dulu saat kecil saya sering merasa kasihan sendiri apabila melihat orang lain yang dari luar kelihatan super sempurna. Hingga sekarang seperti itu. Apa yang akan terjadi dengan dia ya? Meski saya harap tidak ada apa-apa, tapi kecenderungannya beberapa waktu setelah saya melihat mereka seakan flawless (entah itu dalam hitungan hari, bulan atau bahkan tahun), saya akan menemukan fakta baru yang mematahkan argumen saya sebelumnya. Bahwa ada yang terjadi dengan dia sebelumnya, atau yang kemudian terjadi. Yang membuat saya meredefinisikan definisi saya sebelumnya tentangnya.

Misalkan, minggu lalu saya bertemu seorang perempuan yang cantik. Dan baik sekali. Dan pintar. Dan saya berpikir dia seperti flawless. Dan lalu saya menghela napas dan selalu ada pemikiran blink seperti yang saya jelaskan sebelumnya memaksa untuk menyeruak masuk; bahwa ada dan/atau akan ada sesuatu yang membuat saya harus mengkoreksi pemikiran saya sebelumnya. Dan malam ini saya tahu, bahwa perempuan yang masih muda itu hanya memiliki satu orang tua. Saya sedih, sekaligus bersyukur bahwa detik ini milik saya masih dua.

Saya kira sebelum kita iri dengan orang dan menjudge mereka lebih bahagia daripada kita, ada baiknya untuk melihat kembali ke dalam. Kita juga bahagia. Tanpa banyak menuntut dan meminta dan terus mengeluh terhadap Dia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s