Si Biru

Terkadang ketidakpastian itu lebih menenangkan, sekalipun tidak melegakan. Kamu takut kepastian akan membunuhmu perlahan. Dia datang, mengada, lalu pergi entah ke mana. Mungkin ditelan udara. Bahkan kamu yang mendiami ruanganmu dan menjadi tuan di sana, tidak tahu. Atau menolak untuk tahu. Entah dia memang sudah pergi atau masih ada. Entah. Kadang ada jejak yang sedikit terasa. Seperti parfumnya yang menjejak di udara, sepersekian detik setelah dia lewat begitu saja.

Merah, kuning, hijau. Banyak balon bisa kamu beli dengan mudah. Tapi kamu tak mau, dan bertahan menunggu si Biru.

Oh, jadi si Biru sudah pergi. Karena frasa menunggu hanya akan muncul setelah ada yang meninggalkanmu. Kalau begitu terpujilah kamu, wahai Biru. Kamu datang, mengada, lalu pergi entah ke mana. Dan sepertinya memang benar, kepastian ternyata membunuhmu pelan-pelan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s