Apakah orang yang paling sakit akan menjadi orang yang paling bahagia?

Apabila konsep ‘bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian’ adalah benar, maka seharusnya jawaban dari pertanyaan di atas adalah iya. Tapi apakah demikian? Saya meragukannya.

Semakin menua (entah itu juga berarti semakin dewasa atau tidak), saya menemukan kejanggalan pada pribahasa tersebut. Pribahasa kuno tersebut entah mengapa semakin lama menjadi semakin terasa serakah. Orang yang serakah tidak akan merasa cukup hanya dengan menang. Dia akan merasa puas, apabila dia tidak hanya menang, namun juga membuat orang lainnya merugi. Zero-sum game. Lagi, orang yang serakah memiliki kecenderungan untuk mendominasi. Untuk menjadi yang pertama, top of the list, yang paling maha. Ambisius.

Well, I used to be that kind of person. Entah sejak kapan, saya merasa capek menjadi seperti itu. Dan mulai menemukan antitesis dari pribahasa bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Tahu nggak sih, sebenarnya untuk menjadi senang tidak selamanya harus diawali dengan menjadi sakit. Memang, dalam beberapa permainan, kita menemukan pola yang demikian. Namun tidak selamanya. Hidup ini abu-abu. Tidak ada yang saklek dan pasti. Satu-satunya yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri mungkin.

Kembali lagi, entah sejak kapan, saya menyadari bahwa untuk menjadi bahagia tidak perlu menjadi yang paling pertama. Bahagia tidak butuh pengakuan dari orang lainnya. Tidak ada yang dapat menjamin, apabila kita sudah menjadi yang paling pertama dalam suatu rantai sosial kita akan menjadi yang paling bahagia. Juga tidak ada yang dapat menjamin, apabila mereka yang ‘rankingnya’ rendah tidak merasakan kebahagiaan. Bahkan yang sering ditemukan justru paradoks, bahwa banyak orang yang berhasil ‘diakui’ dalam bidangnya cenderung tidak dapat menikmati kebahagiaan. Karena mereka terlalu fokus untuk mengejar pengakuan. Entah. Namun konsep bahagia dalam perspektif saya tidaklah demikian.

Apabila berdasar pada pribahasa di atas, kapan kita akan menjadi bahagia? Ada saatnya kita harus bersyukur dan menerima, merasa cukup dengan apa yang kita punya. Meskipun kita jangan sampai terlena. Apabila kita ‘bersakit-sakit’ terus, yang ada kita akan menyakiti diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Studi kasus: ada seorang pekerja keras, yang ingin menikmati kesenangan di kemudian hari. Dia bekerja begitu keras, menyakiti diri sendiri hingga mendekati titik kulminasi. Dan dia menjadi serakah. Kemudian dia tidak menemukan definisi cukup. Semua belum cukup. Dia masih merasa perlu bersakit-sakit lagi dalam rangka menjadi orang yang bahagia. Kemudian tiba saatnya, saat bertahun-tahun telah berlalu, dia menyadari bahwa selama ini yang ada hanyalah kesakitan. Yang paling menyakitkan, adalah saat dia juga menyadari dia membawa kesakitan bagi orang-orang di sekitarnya. Keluarganya, anak-anaknya, ayah dan ibunya. Dan yang paling membuatnya menyesal, adalah ketika dia sadar bahwa dia sebenarnya bisa menjadi bahagia  apabila dia dulu menyadari kapan waktunya untuk mulai berhenti ‘bersakit-sakit’ dan menikmati masa bersenang-senang. Saking seringnya studi kasus itu kita temukan hingga menjadi klise. Paradoks yang ironis.

Senang adalah state of mind. Senang adalah ketika kita dapat mulai bersyukur dan merasa cukup. Senang adalah ketika kita merasa semuanya berharmoni. Senang adalah ketika kita dapat membaginya dengan orang lain. Tidak perlu menjadi yang paling pertama, karena tidak ada yang namanya puncak. Saat kita sudah mencapai puncak, kita akan mulai meredefinisikan puncak, bukan? Sederhana saja, karena sudah menjadi sifat dasar manusia untuk tidak pernah berpuas diri.

Jadi, apakah orang yang paling sakit akan menjadi orang yang paling bahagia? Apakah benar, kita harus bersakit-sakit dahulu dan bersenang-senang kemudian? Entah. Yang jelas, ada yang terlewat dari pribahasa tersebut. Yakni tentang bagaimana kita harus mulai belajar untuk bersyukur dan menikmati sekarang.

Advertisements

4 thoughts on “Apakah orang yang paling sakit akan menjadi orang yang paling bahagia?

  1. paling suka bagian ini, “Bahagia tidak butuh pengakuan dari orang lainnya. Tidak ada yang dapat menjamin, apabila kita sudah menjadi yang paling pertama dalam suatu rantai sosial kita akan menjadi yang paling bahagia” dan “Senang adalah state of mind. Senang adalah ketika kita dapat mulai bersyukur dan merasa cukup”. Setuju banget Fael, bahagia itu bisa kita dapatkan tanpa menunggu rekening bank kita penuh, atau status sosial kita tinggi. Bahagia itu pilihan, tentang belajar mensyukuri setiap kebahagiaan, dan mengambil hikmah dari setiap hal buruk yang terjadi. Kita bisa bahagia terlepas dari apa yang orang lain liat.

    1. Opto, ergo sum. Aku memilih, maka aku ada. Bener banget Tom, terserah kamu mau milih untuk menjadi bahagia atau tidak. Kapanpun bisa bahagia, tidak usah menunggu menjadi CEO perusahaan minyak atau sebagainya. Justru bahagia kadang datang dari hal-hal yang paling sederhana dan murah harganya, seperti jatuh cinta. Eaaaa. (Tapi kan jatuh cinta nggak sederhana ya. Fail deh.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s