Belajar Hidup

Rintik hujan yang ritmis seakan membuat malamnya Yogyakarta semakin romantis. Sore tadi hujan lebat; menggila. Beruntung sekali sudah mulai reda, dan hanya menyisakan sedikit jejaknya malam itu.

Di tengah gerimis, seorang anak lelaki yang usianya berada di ambang remaja menghampiri kendaraan beroda dua yang berhenti di depan KFC Mirota. Bajunya yang setengah basah tidak membuatnya melemah, dia terlihat biasa saja dan bersahabat dengan gerimis hujan.

Namanya Adit. Usianya 15 tahun, dan sudah delapan tahun dia ‘turun jalan’ menjadi seorang pengamen. Baru 15 tahun, dan kepalanya sudah dijahit 13 kali; daerah selangkangannya dijahit 17 kali; serta berbagai luka lainnya terukir abstrak di atas kulitnya yang sawo matang. Saya heran, bagaimana dia masih bisa tersenyum dan menceritakannya dengan ringan, seolah sakit yang dia rasakan ketika luka itu dibentuk tidak terlalu dalam.

Dia bilang, dia suka menjadi pengamen. Selain karena dia suka bermain musik, juga karena dia suka dengan solidaritas tinggi anak-anak pengamen. Dia kemudian bercerita, tentang bagaimana dia hampir tidak pernah khawatir akan mati kelaparan di suatu ketika. Mengapa? Dia bilang, dia percaya dengan teman-temannya. Ketika dia tidak memiliki uang untuk dibelikan makanan, selalu ada tangan temannya yang terulur memberi bantuan. Juga ketika dia memiliki kelebihan uang, dia tak akan berpikir panjang untuk berbagi dengan teman-temannya. Dia bilang, memang seperti itu hidup di jalanan. Berbagi adalah kata kunci untuk bertahan.

Adit hanya tamatan SD. Klise, dia tidak melanjutkan SMP karena tidak memiliki biaya. Tapi kemudian dia berkelakar. Dia bilang, dia anak UGM, Universitas Gembel Mirota. Hehehe.

Ketika saya bertanya, dia ingin apa, jawabannya cukup sederhana. Namun justru dengan suksesnya membuat saya meleleh. Tanpa dosa dia bilang, dia ingin membanggakan kedua orang tuanya, yang bahkan sudah membiarkan dia menjadi anak jalanan. Dia bercerita tentang keluarganya yang ‘rumit’ dan image keluarganya yang buruk di lingkungan tempatnya tinggal dahulu. Dan dia ingin merubah image itu. Dia ingin menjadi seseorang, yang dapat membuat orang tuanya bangga. Sweet!

Satu pelajaran berarti yang saya ambil dari dia, adalah bagaimana Adit bisa berdamai dengan kenyataan. Bagaimana dia memandang hidupnya yang demikian kompleks dengan sederhana, dan ikhlas berdamai dengannya. Oh ya, pelajaran menarik dari para pengamen ini adalah, bagaimana mereka berbagi dengan ketulusan total. Indeed, sharing is the source of happiness. Let’s share and care!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s