Jatah Gagal

Kegagalan adalah sesuatu yang seringnya dihindari oleh mayoritas orang. Seperti kutu, orang-orang segan untuk dihinggapi kegagalan. Bahkan kata ini terdengar begitu menakutkan bagi sebagian orang. Tapi anehnya, orang-orang besar yang apabila namanya dicari di google akan muncul jutaan results, justru selalu membanggakan kegagalan yang pernah mereka alami.

Klise memang, ketika orang menasehati temannya -yang sedang terjatuh- tentang bagaimana meresapi momentum kejatuhan. Bahwa Tuhan menciptakan kata jatuh semata-mata untuk melahirkan kata sukses. Bahwa gagal adalah pintu dari keberhasilan. Bahwa lebih baik gagal daripada tidak mencoba sama sekali. Bahwa bla, bla dan bla.

Definisi gagal menurut saya, juga seklise apa yang barusan saya bilang. Saya mengamini konsep mengenai jatah gagal. Mungkin, kita dapat menganalogikan kehidupan manusia sebagai sebuah perjalanan panjang. Dalam perjalanan, kita selalu membawa bekal. Salah satunya adalah bekal kegagalan. Setiap orang memiliki jatah untuk gagal. Mungkin sekali mencoba kita gagal, dua kali kita gagal, tiga kali dan kita masih gagal. Jangan menyerah, karena kita memiliki jatah. Apabila kita berusaha terus hingga jatah gagal kita tidak tersisa, maka dunia tidak memiliki pilihan selain membiarkan kita berhasil.

Terberkatilah mereka yang selalu terlihat enak-enak saja hidupnya. Yang sudah terlahir dengan segudang talenta. Atau orang yang selalu bisa lolos dari lubang hitam meski mereka terlihat tidak bekerja sekeras yang lainnya. Orang mengkategorikan mereka sebagai golongan yang beruntung. Tapi saya percaya, keberuntungan ini tidak datang dengan tiba-tiba. Mungkin, keberuntungannya adalah ‘hadiah’ dari kerja keras dan doa leluhurnya. Saya pernah bicara panjang lebar dengan Ayah dengan konsep keberuntungan. Ayah saya bilang, Tuhan tidak tidur. Selalu saja ada faktor X yang tidak dapat dijelaskan oleh manusia dan tidak dapat kita tangkap secara kasat mata. Faktor X yang membuat orang ini berhasil melakukan sesuatu sementara orang itu tidak. Kata ayah saya, faktor X itu adalah tekad di dalam hati. Tuhan akan memberikan kesempatan bagi orang yang benar-benar ingin dan membutuhkannya.

Kembali lagi mengenai jatah gagal, maka apabila kita gagal tidak seharusnya kita langsung melepaskan. Evaluasi lagi. Apabila kita masih perlu dan ingin mengejar, kejarlah sampai jatah gagal kita tidak tersisa. Tuhan selalu memberi hadiah lebih bagi mereka yang berusaha lebih dan bertekad lebih. Carpe diem.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s