Life is never that simple

Adalah sebuah kutukan dan berkah untuk menjadi seseorang yang tidak dapat menyederhanakan pikirannya. Saya selalu memandang hidup dengan tidak sederhana, meskipun sebenarnya saya menginginkan yang sebaliknya. Saya selalu memikirkan segala hal untuk satu permasalahan yang sebenarnya tidak memerlukan ‘segala hal’ untuk turut andil dalam resolusinya. Saya ingin menjadi easy going, tapi saya tidak bisa.

Dahulu, ketika saya masih kelas satu SMP, saya memiliki cita-cita untuk mati muda. Saya yang belum dewasa selalu berpikir untuk apa kita harus hidup kalau hanya akan menimbun dosa dan lelah saja? Saya skeptis saya bisa masuk surga. Jadi daripada saya menambah dosa dan merasa rugi karena telah bermain lama, mending mati saja di usia muda. Bukankah tujuan dari hidup ini meninggal? Bukankah akhirnya memang kita semua meninggal?

Salah. Itu pikiran yang salah. Menurut versi saya, dan yang saya yakini sekarang, mati muda bukanlah pilihan yang tepat, meskipun memang itu akan sangat menyenangkan dan meringankan bagi saya sendiri. Versi lainnya, boleh dan boleh sekali berbeda. Tapi versi saya seperti itu.

Dahulu, ketika saya masih SD, saya merasakan momen mendapatkan tiga adik kandung.  Dan saya ingat sekali hingga sekarang, setiap sang adik dibawa pulang ke rumah saya selalu menghitung. Menambah dan mengkalkulasi. Umur adik saya dua puluh tahun lagi dan umur orang tua saya dua puluh tahun lagi. Saya selalu merasakan khawatir pada hal-hal yang belum tentu terjadi. Saya selalu memikirkan hal-hal yang bahkan baru akan terjadi puluhan tahun kemudian. Mengapa saya berhitung? Tentu karena saya takut. Takut adik saya tidak dapat menikmati bimbingan orang tua hingga usia mereka harus lulus dari bangku pendidikan bernama ‘keluarga primer’ mereka.

Belasan tahun dari momen saya mencari kalkulator atau kertas dan mulai mengkalkulasikan usia itu, saya belajar bahwa tidak seharusnya saya merasa takut. Tapi toh saya masih sering merasa takut hingga sekarang. Paradoksnya, ketakutan itu justru membuat saya semakin mempercayai Tuhan dan menikmati waktu bersama keluarga.

Dari saya masih kecil hingga sekarang, saya sering sekali tiba-tiba menangis. Without any specific reasons. Saya menangis karena hal-hal yang saya pun tidak tahu apa.

Saya sangat tidak nyaman apabila banyak orang memasuki saya. Atau tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam hidup saya. Untuk itu, seringkali ketika terdesak membutuhkan saran lainnya, saya memecah masalah saya dan menceritakan pada mereka bagian satu-satu saja. Atau mungkin dua. Tapi tidak semuanya. Selanjutnya, itu urusan saya untuk mengkombinasikan semuanya dan melihat bagaimana puzzle ini tersusun sempurna. Hanya satu persen dari teman-teman saya yang saya percaya untuk mengetahui keseluruhan cerita. Saya yakin mereka akan bertahan dalam hidup saya selamanya.

Sangat sangat SANGAT susah bagi saya untuk mempercayai orang dengan sempurna. Saya realis. Dan berpikir semua orang itu pada dasarnya pragmatis. Jadi saya harus selalu memperhatikan punggung saya, barangkali saja sebentar lagi ada yang hendak mengusik dalam rangka mencapai kepentingan mereka

Itu baru sedikit hal yang -menurut saya- refleksi saya tidak dapat berpikir dengan sederhana. Masih ada jutaan lainnya. Entah sudah ada berapa orang yang menyarankan di akhir curhatan saya akan sesuatu, untuk memandang dunia dengan lebih sederhana. Salah satunya adalah kakak saya. Pernah suatu kali, di akhir curhatan saya akan suatu masalah, dia menatap saya lama. Dan bilang, dia takut dengan jalan pikiran saya. Dia bilang saya harus mulai belajar untuk menyederhanakan perspektif saya tentang dunia. Dia yang mengatakan itu dengan serius membuat saya mau tidak mau menjadi takut juga hehehe.

Btw, mungkin memang benar ya nama itu doa. Ada banyak arti dari nama Faelasufa, tergantung dari konteks mana nama saya diartikan. Dan salah satunya adalah orang yang suka mikir. Oh I see.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s