Saya merindukan hari,

di mana saya masih dapat tidur larut malam sekali tanpa merasakan efek sampingnya di keesokan paginya. Atau kalaupun iya merasakan, saya tidak begitu menganggapnya sebagai sebuah kerugian.

di mana saya masih dapat menulis seperti lebih dari tujuh jam setiap harinya. Menulis cerita, tidak paper-esai-dan segala sesuatu yang semacam berat dan memerlukan kinerja otak, bukan hati.

di mana saya dapat tidak merasa bersalah tidur di siang hari, atau menonton Benteng Takeshi sambil menunggu senja meninggi.

di mana saya dapat membaca novel sebanyak-banyaknya yang saya mau tanpa mempertimbangkan ‘lebih baik membaca bahan pelajaran’.

di mana saya dapat menyeduh kopi di malam hari, dan membuat indomie tanpa harus mencuci cangkir-mangkuk kotornya sendiri (ya, saya pemalas untuk urusan begini).

di mana ketika saya masih terjaga di dini hari, saya dapat menengok ke kamar-kamar Salma-Rafly-Marsha dan menemukan mereka terlelap dengan ekspresi damai versi mereka sendiri.

Saya merindukan hari-hari saya di rumah, dulu. Semakin kita menua, semakin banyak hal yang menuntut kita lebih memenuhi kebutuhan dan kewajiban daripada keinginan. Meskipun terkadang saya sering sekali khilaf dan berontak, mendahulukan keinginan daripada semuanya 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s