Fenomena ‘Parasaito Singuru’ di Jepang: Baik atau Buruk?

Dalam beberapa tahun belakangan ini, isu parasaito singuru atau single parasit (parasite singles) di Jepang semakin menarik perhatian banyak kalangan. Istilah ini sendiri pertama kali dipopulerkan oleh Masahiro Yamada, seorang pakar sosiologi dari Universitas Tokyo Gakugei. Dari sebutannya, secara tidak sadar orang akan langsung mengkonotasikan single parasitsebagai sebuah fenomena yang negatif. Benarkah memang demikian?

‘Gelar’ single parasitdiperuntukkan untuk mereka yang belum terikat pernikahan dalam rentang usia 20 hingga 34 tahun.[1]Menurut mereka, pernikahan akan membuat mereka terjebak dalam kondisi yang rumit dan melelahkan. Bagi single parasit perempuan, mereka juga memiliki argumen bahwa pernikahan akan membuat mereka tidak dapat mengejar karir dan harus melakukan pekerjaan rumah tangga. Masih terdapat beberapa nilai budaya Jepang yang mengharuskan seorang perempuan untuk mengabdikan dirinya kepada suami sebagai kepala rumah tangga. Kecenderungannya, suamilah yang akan bekerja dan istri akan mengurus rumah tangga. Padahal, sudah merupakan fenomena global dewasa ini, di mana perempuan menuntut kesetaraan (seperti dibebaskan untuk mengejar karir mereka).

Meskipun mayoritas dari single parasitini sudah bekerja, mereka memilih untuk masih hidup serumah bersama orang tua mereka. Keputusan ini diambil bukan tanpa sebab, terdapat banyak sekali alasan yang melatar belakangi keputusan tersebut, terutama sekali alasan yang berkaitan dengan finansial. Jepang terkenal sebagai salah satu negara dengan biaya hidup termahal di dunia, dengan Tokyo sebagai kota ‘termahal’ di dunia.[2] Oleh karena itu, sebenarnya fenomena single parasit bukanlah hal yang mengherankan di Jepang, karena dengan masih bergantung dengan orang tua, mereka dapat menekan  pengeluaran hidupnya. Sehingga uang yang seharusnya digunakan untuk membayar sewa rumah misalnya, dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekunder atau tersier mereka seperti membeli pakaian mahal, perhiasan dan gadget terbaru.

Selain menguntungkan produsen barang-barang mewah, keberadaan single parasitjuga disyukuri oleh pelaku bisnis hiburan di Jepang. Dengan adanya single parasit, pengunjung di ‘Love Hotel’ semakin meningkat. Kecenderungannya mayoritas para single parasit mengunjungi ‘Love Hotel’ hanya untuk berkaraoke dan melepas stress, bukan untuk memenuhi kebutuhan seksual mereka.

Akan tetapi, dunia ini memang seimbang dan berharmoni. Seperti layaknya sisi mata uang, fenomena single parasit mendatangkan dampak lain yang berbeda.Masalah akan mulai timbul nanti ketika orang tua para single parasit ini meninggal. Berdasarkan penelitian dari Yamada, mayoritas perempuan single parasit terbiasa untuk hidup nyaman bersama orang tua. Mereka tidak memikirkan pengeluaran untuk kebutuhan dasar mereka, dan menghabiskan uang untuk membeli barang-barang yang sifatnya tersier. Pola ini membentuk mereka menjadi pribadi yang konsumtif. Ketika orang tua mereka meninggal di kemudian hari, mereka secara mendadak harus siap menjadi mandiri. Di saat itulah mereka sadar bahwa sebenarnya pendapatan mereka tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan mereka, baik itu yang primer, sekunder dan tersier.[3]

Mengingat biaya hidup di Jepang sangat tinggi, tidak jarang pendapatan mereka ternyata hanya dapat memenuhi kebutuhan primer dan sekunder mereka. Padahal selama bertahun-tahun mereka terbiasa dengan gaya hidup glamor, sehingga bukan fenomena yang langka lagi apabila dalam situasi yang demikian para single parasit ini masih berusaha memenuhi kebutuhan tersier mereka. Bagaimana caranya? Dengan berhutang. Di akhir cerita, menurut Yamada, banyak studi kasus yang menunjukkan bahwa para single parasit ini kemudian berakhir dengan kebangkrutan.

Selanjutnya, dengan banyaknya jumlah para single parasit yang memutuskan untuk tidak menikah, otomatis akan berimplikasi pada angka kelahiran di Jepang. Frekuensi kelahiran bayi di Jepang sendiri sungguh rendah, hanya 7,31 kelahiran/1000 populasi.[4] Tentu akan menjadi hal yang mengkhawatirkan apabila situasi ini masih tidak akan berubah dalam jangka waktu yang relatif panjang karena masa depan semua bangsa –termasuk Jepang- terletak pada pundak generasi mudanya. Siapa yang akan menjalankan perindustrian di Jepang apabila mereka kekurangan sumber daya manusia?

Apabila dianalogikan, dewasa ini Jepang memiliki empat warga negara yang berusia kerja, yang dapat menopang seorang warga negara yang sudah pensiun. Diprediksi oleh Yamada, pada pertengahan abad ini, hanya akan ada dua pekerja yang akan menopang seorang warga negara yang telah pensiun. Selain itu, kemerosotan jumlah penduduk berarti berkurangnya jumlah konsumen di Jepang. Salah satu akibatnya adalah bahwa hal tersebut akan mengurangi minat investor untuk masuk ke pasar domestik Jepang.[5]

Ini adalah sebuah mimpi buruk bagi Jepang. Sebuah mimpi buruk, karena apabila prediksi tersebut benar, maka kemunduran perekonomian di Jepang tinggal menunggu waktu. Jepang harus mulai melakukan sesuatu agar pada tahun-tahun mendatang, jumlah single parasit berkurang. Penulis sendiri setuju dengan beberapa poin dari pendapat Mitsuko Shimomura, seorang pionir jurnalis perempuan di Jepang. Dia berkata,The parasites have unintentionally created an interesting movement. Politicians now have to beg women to have babies. Unless they create a society where women feel comfortable having children and working, Japan will be destroyed in a matter of 50 or 100 years. And child subsidies aren’t going to do it. Only equality is.”.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pemerintah Jepang memang harus segera bertindak agar pada tahun-tahun mendatang, jumlah single parasit berkurang sehingga menyelamatkan Jepang dari kemungkinan-kemungkinan negatif yang dapat lahir di masa yang akan datang.


[1]L. Wojtan, ’Exploring Contemporary Japanese Society’, November 2000, <http://iis-db.stanford.edu/docs/135/society.pdf >, diakses 1 Oktober 2011. 

[2]D. Burrows, ’10 Most Expensive Cities in the World’, CBS Money Watch(online), 28 Juli 2011, <http://moneywatch.bnet.com/investing/blog/investment-insights/worlds-most-expensive-cities/1998/ >, diakses 1 Oktober 2011. 

[3]P. Wiseman, ‘No Sex Please – We’re Japanese’, USA Today (online), 6 Februari 2004, <http://www.usatoday.com/news/world/2004-06-02-japan-women-usat_x.htm>, diakses 1 Oktober 2011. 

[4]CIA World Factbook (online),’People and Society: Japan’, 27 September 2011, <https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/ja.html>, diakses 1 Oktober 2011. 

[5] Wiseman, ‘No Sex Please – We’re Japanese’. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s