Minggu Pagi

Saya semacam tersindir. Beberapa minggu terakhir, saya seringkali galau karena urusan-urusan remeh yang sepele. Pagi tadi bersama beberapa karib, saya berkunjung ke tempat seorang Bapak yang telah mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk melayani orang lain. Ketika saya mendengar ceritanya, dan/atau melihat mereka yang beliau ‘layani’, saya tertohok. Ada masih banyak hal yang bisa saya galaukan, daripada remeh-temeh yang hanya membuat mangkel dan tidak jelas juntrungannya.

Bapak ini kira-kira sudah berusia 50 tahun lebih. Dan mendengarkan sejarah 50 tahun lebih hidupnya yang beliau ceritakan sepenggal-penggal pada kami, membuat saya merasa ‘sesuatu banget’ hehehe. Saya tidak mengira, dari penampilannya yang sederhana dia menyimpan segudang cerita yang jauh dari definisi sederhana. Ketika masih kelas 3 SMP, dia sudah mengelilingi Jawa menggunakan sepedanya. Dia kuliah di hukum UGM (yang saya yakin sekali, dulu yang bisa menjajal bangku kuliah hanyalah orang-orang yang ‘sesuatu banget’ hehe). Dia berasal dari keluarga berada, yang mampu memberinya uang saku 50.000 sebulan ketika kuliah (sekitar 75-an juta sekarang ini. Sebagai komparasi, ketika itu harga jeans levi’s hanya 5000-an dan harga sepatu diadora 2500-an). Dia difasilitasi dengan empat kendaraan bermotor, dan masih banyak lagi. Selain itu, sekarang kakak dan adiknya juga orang-orang yang berada. Ada yang menjadi dokter jantung pertama di Indonesia, dan sebagainya. Akan sangat maklum apabila si Bapak sekarang adalah seorang yang juga terpandang slash berada slash pejabat slash socialite atau lainnya yang memiliki arti serupa. Menjadi mengherankan karena sekarang, beliau hidup dengan sangat biasa kalau diukur dari materi.

Beliau bilang, hampir semua pekerjaan sudah dijajal. Namun yang dilakukannya sekarang, adalah yang paling membuatnya nyaman. Dari begitu banyak pilihan, beliau memutuskan untuk menjadi seorang pelayan bagi orang-orang yang bermasalah. Seperti pengamen, anak jalanan, pelacur, pengguna narkoba, dan sebagainya. Pendekatan yang beliau gunakan untuk mereka yang bermasalah ini sungguh berbeda. Misalkan, untuk menangani pengguna narkoba ya. Kayak beliau bilang make narkoba sama seks itu enakan seks. Mending kamu milih seks aja, terus daripada sama orang nggak jelas dan kamu sakit, mending langsung menikah saja. Atau, beliau bilang, kamu boleh jadi pengamen sekarang. Cuma itu bukan untuk kerjaan kamu. Itu hanya salah satu step agar kamu bisa mendapatkan kehidupan yang lebih nyaman di masa mendatang.

Entah karena Bapak ini dulunya berasal dari background keluarga yang ‘sesuatu banget’ atau karena kiprahnya di social service atau karena kombinasi keduanya, Bapak ini punya network orang-orang keren. Dia temenan sama Amien Rais, sama dosen-dosen UGM, sama kayak pendeta katolik, sama pak Hamengkubuono, Adnan Buyung Nasution, dan sebagainya. Sebenarnya, mungkin dia bisa menjadi seorang yang kaya dan makmur kalau puluhan tahun lalu dia ingin yang seperti itu. Tapi beliau memilih untuk tidak. Keren ya. Jujur, kalau dihadapkan pilihan yang seperti itu saya masih egois sekarang ini.

Kiprahnya di yayasan sosial dimulai saat dia bekerja di luar jawa. Di sana dia punya sawah, dia bilang ke penduduk lokal sana, kalau mau kerja di sawah miliknya maka dia harus sekolah. Terus ada sekitar berapa belas anak yang kemudian bekerja di sana, dan dia bimbing. Itu anak-anak generasi pertama yang dia bimbing. Sudah sekitar puluhan tahun yang lalu. Sekarang anak-anak ini sudah menua sekaligus menuai mimpi-mimpi mereka. Dari berapa anak itu, hanya satu yang dia bilang gagal.

Kemudian, saya lupa ceritanya, akhirnya dia dengan yayasan sosialnya berakhir di Jogja. Mendidik puluhan (atau bahkan ratusan ya) anak-anak jalanan. Dia bercerita, banyak dari anak-anak ini yang kemudian kuliah dan tidak berakhir menjadi pengamen. Beliau tidak bisa memberikan semua anak-anak ini dukungan finansial, cerita beliau, biasanya beliau hanya memberikan kado sepeda bagi anak-anak yang kuliah ini. Agar bisa memudahkan mobilisasi mereka mungkin ya.

Kalau dulu saya beranggapan para pengamen itu butuh inspirasi, sekarang saya tahu saya salah. Mereka memiliki mimpi versi mereka sendiri. Dan justru, dari pertemuan di Minggu pagi tadi, sayalah yang kemudian terinspirasi.

Advertisements

3 thoughts on “Minggu Pagi

  1. nice story faelasufa (eh, aku ga tau panggilanmu apa ya..)
    memang, terkadang manusia menemukan banyak inspirasi saat berbagi,, 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s