Lesson Learned, Thank You

Sekali, akarku pernah terserabut dari bumi gara-gara kamu. Atau mungkin, rasionalitas akalku lenyap hanya karena kamu meminta sesuatu. Aku perempuan yang lebih mengerti bagaimana menggunakan rasio daripada perasaanku. Atau mungkin sebaliknya. Sebenarnya, aku tidak mengerti. Tapi satu yang aku mengerti, bahwa ketika itu aku suka. Aku suka kamu, sebagai kamu seutuhnya. Bukan sebagai kamu yang memiliki dua mata elang yang selalu menyala, atau kamu yang pandai berbicara dengan berapi-api, atau kamu yang selalu tahu apa jawaban dari segala pertanyaan, atau kamu yang pintar main bola, atau kamu yang memiliki IP nyaris sempurna, atau kamu yang sepertinya tidak pernah tidak tersenyum.

Dari kecil aku tidak suka, saat hubungan yang seharusnya hanya milik ‘aku’ dan ‘kamu’, kemudian menjadi konsumsi ‘dia’ dan ‘mereka’. Dari dulu aku tidak peduli, saat aku dan kamu tidak memiliki sesuatu yang oleh banyak orang disebut status.  Dari dulu aku berkomitmen, dan kukira kamu juga memiliki hal yang sama.

Tapi aku tidak pernah belajar dari kehidupan yang lalu. Aku mengutuki diriku untuk itu. Aku mengutuki diriku yang selalu ingin menjajal tantangan, merasakan deg-degan, dan akhirnya kesakitan. Aku mengutuki diriku untuk itu.

Dan lalu ketika semuanya berubah, aku hanya bisa melepaskan. Karena itulah yang aku pelajari dari taman kanak-kanak bernama kehidupan. Aku tidak bisa memaksakan hal sesakral perasaan. Kukira semua hanya berubah untuk sementara saja. Jeda yang akan berlangsung singkat saja. Aku kira.

Dulu kamu seperti sempurna. Atau mungkin aku yang salah terka, dan menganggapmu sempurna. Sekarang saat aku telah dapat melihat semuanya lebih jernih dan dari berbagai perspektif yang berbeda, aku hanya bisa bersyukur. Karena dulu aku mengalami proses awkward-menjauh-dan-kesakitan, yang membuatmu tidak menjadi lelakiku. Aku seperti tidak mengenal versi baru kamu, tapi justru aku merasa semakin mengenalmu. Kamu berbeda. Inilah kamu yang sebenarnya.

Dan aku memiliki keterbatasan ruang untuk membagi cerita saat semuanya kurasa suram, atau bahkan saat sekarang. Karena ketika aku melakukannya, aku akan menghancurkan reputasimu. Dan mengecewakan mereka yang telah percaya dengan versi kamu yang ingin kamu bentuk. Jadi mungkin aku hanya bisa diam, ketika kamu cerita yang macam-macam. Seperti sekarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s