Transnasionalisme dan Gerakan Massa di Timur Tengah

Bermula dari Tunisia, kemudian menyebar hingga ke seluruh penjuru kawasan Timur Tengah. Gerakan massa yang menuntut mundurnya rezim-rezim otoriter dan berlangsung di berbagai negara kawasan Timur Tengah tersebut adalah sebuah fenomena langka yang menarik untuk diamati. Kurang dari dua bulan, generasi muda di Arab berhasil menciptakan perubahan politik dalam skala yang luar biasa besar. Satu demi satu rezim otoriter berhasil diturunkan. Presiden Tunisia, Zine al-Abidine Ben Ali, memutuskan untuk melarikan diri ke Jeddah dan mengakhiri rezimnya yang telah 24 tahun berkuasa. Presiden Yemen, Ali Abdullah Saleh telah berjanji untuk tidak turun dalam pemilihan ulang. Presiden Mesir, Hosni Mubarak, akhirnya mengundurkan diri dan menyerahkan pemerintahan kepada pihak militer. Ada juga yang bernegosiasi dengan rakyatnya untuk mempertahankan kekuasaan, seperti Raja Hamad dari Bahrain yang menawarkan kepada setiap rumah tangga di Bahrain bantuan sebesar $2,700.[1] Semua perubahan politik tersebut dicapai melalui demonstrasi yang damai oleh para pemuda Arab.

Semula gerakan massa tersebut hanya berlangsung di Tunisia. Para pemuda Tunisia saling membantu untuk mewujudkan negara Tunisia yang sesuai dengan impian mereka. Euforia untuk mencapai tujuan bersama tersebut dirasakan oleh semua kalangan pemuda, tidak mengenal strata kelas dan status. Dari Tunisia, kemudian menyebar hingga ke negeri tetangga mereka. Benar, gerakan massa yang semula hanya berlangsung di dalam satu negara tersebut menyebar hingga melewati batas-batas teritorial Tunisia dan menjadi sebuah gerakan massa yang transnasional.

Transnasionalisme sejatinya hanyalah salah satu cara untuk berubah. Karena dalam implementasinya, demonstrasi yang berlangsung di Timur Tengah adalah akibat dari kemuakan masyarakat akan kebebasan telah mencapai titik kulminasi. Seperti yang telah diketahui bersama, sebagian besar negara di Timur Tengah bukanlah negara yang demokratis. Pun rezim-rezim yang berkuasa, mayoritas diktator dan mewarisi kekuasaan dengan cara yang tidak demokratis seperti melalui kudeta politik. Keadaan yang demikian telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi konflik yang mengendap di bawah permukaan. Sehingga dapat dipahami, ketika perlawanan rakyat Tunisia atas rezim Ben Ali berhasil meruntuhkan rezim yang telah berkuasa selama dua puluh empat tersebut, masyarakat di negara-negara tetangganya mulai berani untuk mengambil langkah yang sama. Gerakan massa yang kemudian juga terjadi di Mesir, Aljazair, Yaman, Jordania, Suriah, Bahrain, dan Libya tersebut dapat terjadi salah satunya karena akibat dari transnasionalisme. Transnasonalisme di sini bukanlah sebagai faktor langsung yang menyebabkan revolusi di Timur Tengah, akan tetapi Transnasionalisme menjadi salah satu cara masyarakat berrevolusi, yang kemudian dari revolusi tersebut melahirkan sebuah gerakan massa.

Istilah transnasionalisme ini dipopulerkan oleh Randolph Bourne pada awal abad ke-20. Randolph Bourne yang seorang penulis itu mendeskripsikan pemikiran baru mengenai hubungan antar budaya dengan istilah tersebut. Menurut James Rosenau, transnasionalisme adalah proses di mana hubungan internasional yang dilangsungkan oleh pemerintah telah disertai oleh hubungan individu, kelompok dan pihak swasta. Perubahan-perubahan tersebut tentu memiliki konsekuensi penting bagi dunia internasional. [2] Transnasionalisme melihat negara bukan lagi aktor utama dalam setiap interaksi. Dalam konteks reformasi di Timur Tengah sendiri, aktor di balik transnasionalisme mereka adalah individu serta kelompok-kelompok individu lainnya, terutama para pemuda.

Setidaknya dalam melihat keberlangsungan aktivitas transnasional di Timur Tengah tersebut dapat dipahami melalui dua perspektif. Pertama, transnasionalisme dapat dilihat melalui attitude change atau perubahan prilaku. Kedua adalah dengan memahami bahwa generasi muda Arab memaknai simbol-simbol yang ada di luar negara  mereka ke dalam gerakan mereka. Pemaknaan simbol tersebut berujung pada satu kesimpulan, yakni bahwa mereka melihat adanya kesamaan struktur antara negara mereka dengan mayoritas negara lain di Timur Tengah.

Pada era globalisasi seperti dewasa ini, di mana level interaksi antara aktor-aktor transnegara semakin tinggi, maka akan berimplikasi pada suatu proses transformasi. Transformasi kebudayaan, transformasi teknologi, dan terutama sekali transformasi pengetahuan. Mereka yang berinteraksi ini, akan saling mengadopsi pengetahuan antara satu dengan lainnya. Proses ini akan mengakibatkan perubahan prilaku atau attitude change

Dalam konteks Timur Tengah, perubahan prilaku terjadi di ranah grass root, terutama sekali pada kalangan generasi muda. Interaksi transnasional yang intens tersebut juga membuat generasi muda Arab ini sadar, bahwa mereka berhak akan kebebasan dan kehidupan yang lebih sejahtera seperti yang diperoleh oleh orang-orang lain di luar negeri mereka. Ketika mereka menonton TV satelit misalnya, mereka kemudian akan bertanya mengapa warga negara Amerika dapat memilih presiden mereka setiap empat tahun sekali sementara mereka tidak.[3] Keganjilan tersebut telah dirasakan oleh para pemuda ini di sepanjang hidup mereka.

Oleh karena itu ketika momentum tersebut muncul, yakni para pemuda Tunisia memulai gerakan massa menuntut rezim Ben Ali, para pemuda Arab sadar bahwa mereka dapat melakukan hal yang sama. Semangat ini semakin didukung dengan fakta bahwa terdapat kesamaan struktur antara kondisi negara mereka dengan negara lain yang telah melakukan gerakan sejenis sebelumnya, seperti Tunisia dan Mesir. Dalam Foriegn Affairs, Michele Penner Angrist menulis bahwa gerakan massa yang semula hanya terjadi di dua negara tersebut dapat menjadi pemicu untuk lahirnya gerakan yang serupa di negara lain karena mereka sadar tidak hanya mereka yang mengalami nasib hidup di bawah kediktatoran rezim otoriter. Semakin besar jumlah protestor, maka semakin banyak yang akan bergabung dengan mereka.[4]

Ditinjau dari letak geografisnya, negara-negara di kawasan Timur Tengah memang berbatasan secara langsung. 

Fakta geografis tersebut memang memudahkan setiap warga negara untuk saling berinteraksi secara transnasional. Namun telah diakui oleh berbagai kalangan, bahwa bukanlah interaksi langsung melintasi batas geografis setiap negara yang dilakukan oleh para pemuda Arab. Mereka berinteraksi secara tidak langsung, melalui dunia maya. Dapat dikatakan, aktivitas transnasional yang berlangsung di Timur Tengah tersebut berhasil memanfaatkan ruang publik melalui jejaring sosial. Hassan Nafaa, seorang profesor ilmu politik di Universitas Kairo menyebut para pemuda sebagai ‘the Internet Generation or the Facebook Generation or just call them the Miracle Generation’.[5]

Dalam konteks transnasionalisme yang berlangsung di Timur Tengah, jejaring sosial memiliki peran penting untuk membentuk ruang publik. Menurut Habermas, ruang publik adalah sebuah ruang yang sangat kondusif bagi perkembangan masyarakat. Ruang publik hanya dapat mencapai fungsinya ketika telah terwujud situasi berpendapat yang ideal. Definisi ideal di sini adalah ketika hal-hal yang diperdebatkan dapat didiskusikan secara rasional. Ruang publik dapat juga menjadi sebuah penghubung interaksi antara para pemegang kekuasaan pemerintah dengan masyarakat karena dialog-dialog dalam ruang publik dapat menjadi refleksi keinginan masyarakat. Oleh karena itu, melalui ruang publik inilah, dapat lahir suatu bentuk masyarakat yang ideal dan bebas dari penindasan serta dapat mengatasi krisis yang menghadang mereka.

Dengan adanya ruang publik akan sangat membantu masyarakat untuk merdeka. Selama ini, bagi masyarakat Arab, ruang publik itu tidak ada. Pemerintah tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk berdiskusi dan mengembangkan wacana yang berbeda dengan pemerintah. Jejaring sosial telah berhasil menyediakan kebutuhan yang selama ini mereka perlukan, yakni ruang publik. Keunggulan jejaring sosial adalah, bahwa pemerintah hampir tidak bisa mengontrolnya. Jejaring sosial telah menjadi sebuah ruang publik di mana masyarakat dapat berinteraksi dengan leluasa.

Tidak dapat dihindari, jejaring sosial memang memiliki peranan yang luar biasa terhadap revolusi di Timur Tengah. Namun beberapa ahli menyebut dampak terbesar jejaring sosial terhadap revolusi tersebut adalah ketika pemerintah mulai melarang akses ke jejaring sosial. Di Tunisia, beberapa orang menyebut saat tersebut sebagai WikiLeaks Revolution karena pemerintah memblok atau menutup beberapa jaringan.[6] Di Mesir, kemarahan publik membesar ketika pemerintah memblok Twitter dan Facebook, yang kemudian disusul dengan pematian koneksi internet. Meskipun media sosial membantu protestor untuk mengorganisasi dan saling berkomunikasi, namun tampaknya peran terbesar media sosial justru saat mereka menghilang.

Semangat untuk revolusi telah bergerak hingga melewati batas-batas transnasional satu negara. Semua revolusi tersebut digerakkan oleh para pemuda melalui sarana dan prasarana yang lebih modern seperti jejaring sosial di internet dan pesan singkat via ponsel. Mereka semua memiliki tuntutan yang sama, yakni hak untuk memilih dan mengganti pimpinan mereka. Seorang pengajar ekonomi dan aktivis politik dari Bahrain, Ala’a Shehabi, berkata bahwa, “ Whether you’re in Tunis or in Cairo or in Manama, young Arabs are all on the same wavelength.” [7]

Para pemuda Arab ini, semula memang hanya bergerak melalui jejaring sosial. Namun seiring dengan berlalunya waktu, mereka mulai turun ke jalan, melangsungkan aksi demonstrasi yang damai. Ketika semakin banyak rakyat yang terlibat di dalamnya, mulailah kelompok-kelompok politik seperti Ihwanul Muslimin bergabung dengan kelompok para pemuda tersebut sehingga terciptalah suatu gerakan massa dengan skala besar.      


[1] B.Murphy, ‘Bahrain Security Forces Ready for Protests Monday’, The Washington Times, 13 Februari 2011, <http://www.washingtontimes.com/news/2011/feb/13/bahrain-security-forces-ready-protests-monday/>, diakses pada 13 Juli 2011.

[2] R.Jackson & G. Sorensen, ‘Introduction to International Relations’ (New York: Oxford University Press, 2007), hlm. 101.

[3] B. Ghosh, ‘Rage, Rap and Revlotuion’, TIME, 28 Februari 2011, p.24.

[4] B. Ghosh, ‘Rage, Rap and Revlotuion’, TIME, 28 Februari 2011, p.24.

[5] B. Ghosh, ‘Rage, Rap and Revlotuion’, TIME, 28 Februari 2011, p.22. 

[6] Ketika pemerintah Tunisia memblokade beberapa website dan menangkap beberapa aktivis, para pemuda justru semakin terbakar untuk membalas perlakuan pemerintah dengan membagi informasi melalui blog, Facebook dan Twitter.

[7] B. Ghosh, ‘Rage, Rap and Revlotuion’, TIME, 28 Februari 2011, p.22.  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s