A Thought from IYC’s Event

Saya baru saja pulang dari sebuah acaranya IYC di Plaza Semanggi. Acaranya memang bisa dikatakan kecil apabila dilihat dari venue-nya (di Live Positively Learning Lounge) dan pesertanya. But I have learned a ton of lessons from that event.

Acara yang intinya ngobrolin gerakan anak muda dari generasi ke generasi itu diisi oleh tiga orang speakers. Mirwan Andan (litbang Ruang Rupa), Bonnie Triyana (redaktur Majalah Historia Online) dan Diatyka Widya. Di sini, saya juga ketemu Gracia Paramitha, mbak Retha Club Speak (yang kelihatan bijak bangeeet!), juga Ogi dari Club Speak.

Anyway, acara tadi sore cukup merubah beberapa perspektif saya dalam memandang hal. Terutama tentang pemuda dan politik. Dari dulu saya memiliki keyakinan, bahwa politik itu walaupun mengasyikkan sebenarnya sangat kotor sehingga saya ingin nanti kalau kerja jauh-jauh dari unsur politik di pemerintah a.k.a nggak ingin kerja di instansi pemerintah. Apalagi setelah saya menjadi mahasiswa FISIPOL dan semakin mempelajari politik. Saya semakin nggak ingin terjun ke pemerintahan. Tapi dari acara tadi, beberapa orang mengemukakan pendapatnya, bahwa mengeluh dan menghindarinya tidak akan menyelesaikan masalah. Kalau nggak suka, ya dirubah. Caranya dengan masuk ke dalam.

Ya, teori nggak suka-dirubah-masuk ke dalam itu sudah sering saya dengar. Dan keyakinan saya masih menyanggahnya. Saya bukan orang yang pesimis, tapi realistis. Pattern yang ada di Indonesia sejak puluhan tahun ini adalah, pemuda-pemuda idealis yang kemudian masuk ke ranah politik praktis itu, memiliki pilihan yang sungguh terbatas. Benar, mungkin mereka idealis, tapi apakah mereka yang di atas mereka juga memiliki pemikiran yang sama? Apa yang bisa dilakukan junior apabila seniornya menentang kehendaknya semua?

Apabila si junior tetap mempertahankan idealismenya, mungkin dia akan ditekan untuk tidak pernah bisa berkembang atau bahkan dikeluarkan. Dan pertimbangan para junior ini lebih kompleks daripada kita para pemuda dewasa ini. Mereka memiliki keluarga yang mungkin akan menuntut lebih dan karir yang ingin menanjak naik. Jadi yang ada, kebanyakan dari mereka lalu tenggelam dalam arus dan mengikuti sistem yang sudah berjalan selama puluhan tahun itu. So, au revoir idealisme!

Itu keyakinan saya dulu, dan sekarang sebenarnya juga begitu sehingga bagi saya kalau saya mau masuk ke ranah publik, saya sudah tidak boleh menjadi junior alias harus sudah mapan dan menjadi senior agar memiliki persistence yang cukup kuat terhadap sistem, syukur-syukur bisa mempengaruhi beberapa junior. Tapi perspektif saya sekarang setelah acara tersebut sedikit berubah. Nggak hanya bicara, tadi Grace bilang kalau sekarang dia bekerja di Kementrian Lingkungan Hidup daripada di NGOs, UN atau MNCs. Dia bilang, kalau mau diubah ya harus dari dalam. Ngomong aja terus sampai atasan gerah. Dan tentunya, apabila banyak pemuda berpikiran sama kayak dia, suara yang menekan akan semakin banyak.

Sekarang pemuda-pemuda yang brilian cenderung malas untuk berkarir di birokrasi karena alasan tadi. Mereka menghindari politik yang sering dianalogikan seperti lumpur atau tai. Padahal, politik itu penting dan mempengaruhi kepentingan banyak orang.

Yang paling memberikan banyak input bagi saya pribadi, sebenarnya adalah obrolan-obrolan ringan saya dengan Ogi, anak ClubSpeak yang ternyata masih sangat muda (angkatan 2010 UI). Berkali-kali saya bilang ke dia kalau saya bukannya pesimis, hanya realistis, bahwa parlemen ideal yang isinya orang-orang bener itu sukar terwujud di Indonesia. Tapi dengan optimisnya dia bilang bisa aja terwujud, andai pemuda-pemuda mau masuk ke politik dan tetap optimis mengawal perubahan itu. Tapi saat nulis ini saya jadi kepikiran, bukannya si A, B dan C dulu waktu masih muda juga sama seperti kami yang suka dengan gerakan-gerakan semacam ini? Lalu mengapa sekarang mereka jadi seperti itu?

Tapi Ogi memang teman diskusi yang menyenangkan! Di akhir pembicaraan, dia bilang yang intinya, dia memang sengaja nggak mendebat saya karena kalau dari awal dia lakukan itu, yang ada hanyalah nanti saya akan benci dia dan dia benci saya. Dan semuanya akan jadi sia-sia. Dan saya langsung tertohok rasanya. Malam tadi sepanjang perjalanan pulang, saya masih memikirkan banyak hal yang saya obrolkan dengan Ogi.

*foto diambil dari  Satrya Damarjati‘s album photo on facebook

Advertisements

4 thoughts on “A Thought from IYC’s Event

  1. hm hm.. jadi inget saya dulu sempat ingin terjun ke dunia politik, karena saya suka. tapi kemudian saya memilih sains karena lebih tertarik jadi ilmuwan daripada politisi 🙂

  2. wow, a perspective behind my own heart…
    saya pernah berfikir seperti itu juga, namun jika bukan kita yang bergerak, siapa lagi?
    benar bahwa secara realistis pola administrasi dan politik Indonesia itu sudah mengakar, bahkan bukan hanya di Indonesia, termasuk negara-negara maju pun masih menghadapi persoalan yang sama.. tapi ya, semua berawal dari mimpi, ya nggak? 🙂
    Bapak pendiri bangsa kita juga bermimpi besar tentang Indonesia, hasilnya benara Indonesia merdeka dan berdiri…

  3. Bener banget Eja. Kita hanya bisa melakukan yang terbaik, dan juga kalau nggak bisa jadi orang yang bermanfaat untuk orang lain at least jangan merugikan orang lain. Ya nggak? hehehehe.

    Anyway, selamat bergabung di Forum for Indonesia yak 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s