Beyond Happy

Saya bahagia hari ini. Karena akhirnya, saya bertemu dengan dua role model saya sekaligus. Kak Mesty Ariotedjo dan Muhammad Assad. Bayangkan, kalau tadi bertemu juga dengan Pak Anies Baswedan, maka saya nggak bisa membayangkan akan sebahagia apa hari ini.

Semuanya bermula dari BBM Muti ke Ayu (thanks to Muti) yang mengabarkan bahwa akan ada seminar di Cut Mutia Menteng, di mana salah satu narasumbernya adalah Mesty. Dan ternyata ada Kak Assad juga. Dan ternyata lagi, topik talkshownya kesukaan saya banget, yaitu tentang kepemudaan. Langsung saya bertekad, pokoknya harus lihat. Nggak mau tahu bagaimanapun caranya, termasuk izin magang. Jadilah hari ini, 12 Agustus, saya jam dua cabut dari kantor bersama seorang teman. Dari Deplu, kami naik taksi menuju Cut Mutia.

Fyi, malam sebelumnya saya memang sempat ngetweet2 dengan Kak Mesty dan kirim email juga. Akhirnya, hampir jam tiga saat Kak Mesty-Kak Assad-Prof Firmanzah-Bu Sylviana Murni memasuki ruangannya. Demi apapun, itulah pertama kalinya saya bertemu langsung dengan Kak Mesty, sejak saya mengidolakannya pada akhir tahun 2009. Rasanya campur aduk. Benar-benar campur aduk.

Saya masih ingat sekali, dulu saya bisa sampai mengidolakan Kak Mesty karena beberapa artikel yang saya peroleh dari dunia maya. Ceritanya, dulu saya sedang mencari bahan untuk novel saya. Dan saat browsing itulah, saya menemukan artikel tentang Kak Mesty. Damn, saat itu juga langsung ngefans sama dia. Terus saya ngeadd facebooknya dan di-approve, juga ngefollow twitternya dan di-followback. Jadi yakin deh kalau dia orangnya baik, apalagi setelah baca tulisan di blognya. Juga tweet-tweetnya. Yang saya suka dari dia, dan akhirnya membuat saya banyak terinspirasi adalah, dia itu beyond ordinary. Yup, and there’s nothing worse in life than being ordinary. Dia cantik dan pintar, tapi tetap humble dan pekerja keras. Saya juga suka dengan dia yang memiliki kepedulian tinggi tentang hal-hal sosial dan kesehatan masyarakat banyak. Jujur, saya banyak terinfluence gara-gara dia. Secara tidak sadar mulai terinspirasi dengan dia, dan mulai memiliki visi ke depan yang jelas. Saya mulai mem-force diri saya lebih keras agar bisa meraih impian saya. Prinsip saya, shoot the moon, so if I failed at least I’m among the stars. Dan memang benar lho, high expectations are the key to everything. Intinya, she’s such an inspiration for me. Secara nggak sadar dan nggak langsung.

Anyway, setelah sesi pertama selesai (dan akan dilanjutkan dengan solat Ashar), saya menyapanya. Saya bilang, ‘Kak, saya yang kirim e-mail ke kakak kemarin itu’. Dan saya kaget saat dia ingat nama saya, dan bisa mengucapkannya dengan benar (fyi, mayoritas orang yang baru ketemu saya selalu salah mengucapkan nama saya. Spellingnya ada aja yang salah. Dari Faelasufa jadi Faesula, jadi Faleasufa, oh you name it! Dan kak Mesty mengucapkannya dengan benar). Dia bilang, ‘Oh, ini yang Faelasufa itu ya?’. Oh my Lord, saya benar-benar speechless dia bisa ingat nama saya. Terus kita foto bareng. Lalu ngobrol sekilas, saya nanya ‘Oh ternyata kakak cadel ya’. Sumpah ya, pertanyaan saya itu adalah output dari kesalahtingkahan serta kespeechlessan.

Lalu, bagian yang paling tidak terduga ada di sesi kedua. Yaitu saat kak Mesty sedang ngisi seminarnya, tiba-tiba dia nunjuk saya dan bilang, ‘Kalau kata temenku, Sufa, kita harus bermimpi setinggi-tingginya. Tembaklah bulan, maka kalau jatuh akan berada di antara bintang-bintang.’ Saya yang saat itu sedang foto dia, langsung berhenti melakukan apapun itu. Oh god, kak Mesty benar-benar bisa bikin orang senang ya. She’s so kind. SO KIND dengan kapital.

Selama seminar itu, ada beberapa value yang bisa saya ambil. Dari Kak Mesty, saya ingat sekali saat dia bilang, ‘If you can’t feed everyone, feed just one’. Saya juga ingat sekali saat dia bilang (kira-kira isinya), ‘Kalau banyak orang menganggap idealis itu bentuk kenaifan, maka jangan malu dibilang naif. Apabila ada seorang yang ‘naif’ dan tetap bertahan ‘naif, maka akan makin banyak orang yang terpengaruh dan tidak malu menjadi ‘naif’. Maka akan semakin banyak yang percaya impian itu bisa menjadi nyata. Kalau sudah begitu, bukan hal yang tidak mungkin apabila impian yang tidak realistis tersebut menjadi mungkin’.

Sedangkan dari Kak Assad, saya belajar bahwa kita menjadi orang tidak boleh mudah menyerah. Jangan menjadi tipe orang yang quitter, jadi kalau ada hambatan dikit saja, langsung bilang tidak bisa (ini salah satu kelemahan saya, yang selalu saya usahakan untuk dirubah dari dulu 😦 ). Kak Assad juga bilang, pemuda itu akan sangat terbantu meraih impiannya apabila mereka memiliki mentor. If you have a mentor, then success will become easier.

Dari Prof Firmanzah (Dekan FE UI termuda), beliau menekankan bahwa bangsa Indonesia itu bangsa yang besar, bukan bangsa yang akan besar. Kita itu sama pintarnya dengan mereka yang di luar sana, yang membedakan hanya satu, kita punya mental yang kecil.

Terakhir dari Bu Silviana Murni, beliau bilang bahwa selain mengenali potensi, kita juga harus mengenali kelemahan kita dan mengubahnya menjadi senjata. Juga, bahwa kita harus berani untuk berubah. Change yourself, apabila itu dirasa perlu dan bisa membuat kita menjadi semakin kuat.

Akhirnya, apapun itu, hanya kita yang mengenali diri kita sendiri bukan? Semua teori itu, mayoritas orang pasti sudah pernah mendengarnya. Bahkan ada yang sampai hapal. Namun sedikit yang bersungguh-sungguh untuk mempraktekkannya. Atau, walaupun sudah ingin mempraktekkannya, namun hanya menjadi keinginan saja dan belum benar-benar diimplementasikan. Memang susah sih mempraktekkan, karena untuk menjadi orang yang tidak tipe quitter (seperti kata Kak Assad), atau orang yang mau terus berevolusi membenahi diri, atau orang yang bermental baja + percaya diri, serta orang berani mempertahankan idealisme + berani bermimpi tinggi… itu berarti keluar dari comfort zone kita. Tapi bukankah, hanya dengan keluar dari zona nyaman kita maka kita baru dapat berdiri lebih tinggi?

Last, saya bahagia hari ini. Karena bisa sharing dengan orang-orang yang menginspirasi, bisa bertemu Kak Assad, dan tentunya… akhirnya bertemu Kak Mesty Ariotedjo.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s