Kamu yang Mana?

Saya punya seorang teman. Hubungan kami cukup aneh, sudah tahunan saya mengenalnya tapi belum sekalipun kami bertatap muka. Saya mengenalnya, sebelum saya menyandang titel mahasiswa. Lewat sebuah book club di jejaring sosial. Dan pertemanan kamipun dimulai.

Saya, yang saat itu sedang giat-giatnya mencari informasi tentang UGM, sering chatting dengan dia via ym. Kebetulan, saat itu dia adalah dosen muda di Filsafat UGM. Lalu saya diterima di Hubungan Internasional UGM. Sayang sekali saat saya menginjakkan kaki di Yogyakarta, dia sudah tidak ada. Dia mendapat kesempatan Master di Honolulu – Hawai.  Tapi kami masih sering ngobrol via ym.

Semester pertama kuliah, saya merasakan kejenuhan yang luar biasa. Saya terbiasa menjadi orang yang tidak hanya belajar di dalam kelas sejak SMA. Tapi saya masih belum mengenal Jogja dengan baik, belum tahu kalau ingin begini dan begitu harus lari ke mana. Dan bertanyalah saya dengan teman saya tadi, dia menyarankan saya untuk ikut diskusi di suatu organisasi. Dari organisasi itu, saya menemukan network-network lainnya.

Saya suka ngobrol dengan orang. Terlebih, orang yang masih benar-benar hidup. Rasanya sangat menyenangkan. Rasanya, seperti berkontemplasi tapi tanpa mengerutkan kening. Rasanya, saya seperti tertular semangat mereka. Rasanya, saya menjadi lebih hidup dari sebelumnya.

Karena sudah lama kenal, saya tahu kalau dia orang yang pintar (jelas), blak-blakan serta cenderung sinis dan skeptis. Sebulan lalu saya ngobrol dengan dia lagi. Obrolan kami ini kemudian berlanjut ke fenomena menjamurnya organisasi berbasis kepemudaan dan sosial di Indonesia. Lalu dia menjadi sinis. Dan bilang, sebenarnya tujuan murni mereka apa mendirikan organisasi semacam itu. Benarkah untuk society dan Indonesia, ataukah justru sebenarnya untuk kepentingan pribadi mereka?

Apakah orang paling oportunis itu sebenarnya adalah mereka yang terlihat paling baik dan bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya? Tahu kan pribahasa, kalau pencuri itu jauh lebih cerdik daripada polisi? Pencuri selalu di depan polisi. Duh, kok premisnya sedikit irelevan begini yah. Hehehe.

Orang jahat yang cerdik, tahu kalau mereka harus terlihat baik. Itu namanya politik. Mereka tahu, kalau mereka nggak terlihat baik, maka akan banyak musuhnya. Kalau sudah begitu, self-interest mereka susah tercapai karena banyak yang menentang. Makanya mereka kemudian berpolitik, dan merumuskan strategi. Strateginya, mereka harus terlihat baik untuk mendapatkan social trust. Kalau sudah begitu, orang lain akan percaya dengan dia. Dan dia, bisa dengan lebih mudah mencapai kepentingan pribadinya. Itulah politik, dia adalah seni untuk mencapai kepentingan kita.

Rumus itu bisa dimasukkan dalam dunia nyata. Misalnya, ada seorang pemuda, yang kemudian mendirikan suatu organisasi kepemudaan. Dia bisa berbasis sosial, lingkungan atau berbasis youth empowerment. Dia, adalah orang yang cerdik. Dia tahu, kalau dia butuh kendaraan untuk bisa mencapai kepentingannya. Apa kepentingannya? Macam-macam. Bisa berupa beasiswa ke sekolah mana, bisa untuk memenangi lomba apa, dan sebagainya. Kok rasanya jadi mirip politikus ya? Mereka, para politikus ini kan juga butuh partai politik untuk mencapai kepentingan mereka. Kepentingan pribadi mereka, yang selalu mereka gaung-gaungkan sebagai kepentingan Indonesia.

Si teman saya ini, bilang dia skeptis dengan niatan pemuda-pemuda itu. Benar murni nggak? Dan saya seperti tertohok. Karena saya juga join di beberapa organisasi kepemudaan, seperti di Parlemen Muda dan Forum for Indonesia. Saya kemudian bertanya-tanya kepada diri saya sendiri, benarkah mimpi saya benar-benar karena passion saya membantu atau untuk yang lainnya, seperti egoisme pribadi? Semoga karena yang pertama, dan saya cukup yakin akan hal itu. Yang paling penting, saya melakukannya karena saya senang. Saya merasa hidup ketika menjalankannya. Saya bahagia. Dan bukankah kebahagiaan itulah yang dicari oleh semua orang sejagad raya ini?

*PS. Kesimpulan chatting kami ketika itu (secara tersirat saya simpulkan sendiri sih, hehehe), masih lebih mending orang yang membawa perubahan dan membawa benefit ke masyarakat (meskipun ada kepentingan mereka di balik aktivitas sosialnya) daripada mereka para penafsir tunggal yang hanya bisa mencerca tanpa melakukan apa-apa.

Advertisements

2 thoughts on “Kamu yang Mana?

  1. :)) hampir di semua organisasi ada kecurigaan seperti itu. terlepas dari ingin menuduh atau apapun, memang tidak baik, tapi seperti kesimpulan akhirmu, itu lebih baik daripada orang yang hanya mencerca tapi tidak melakukan apa-apa. Mekipun pada akhirnya oportunis ini juga berakibat tak baik pada sebuah organisasi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s