Pintar, tapi..

Kemarin malam saya menonton Jakarta Lawyer Club di TV One. Saya merasa jengkel sendiri melihat acara itu. Well, bukan acaranya ya, karena sebenarnya menurut saya acara itu brilian banget konsepnya. Langsung menghadirkan orang-orang yang berpengaruh di bangsa ini, lalu melemparkan kasus untuk ditanggapi bersama-sama. Kalau bukan Karni Ilyas yang jadi pembawa acaranya, mungkin tidak akan ‘semeriah’ ini acaranya. Bang Karni ini beneran kritis dan peka sekali jadi orang.

Saya tidak melihat secara keseluruhan semalam. Baru jam 9-an gitu saya baru menghidupkan televisi, dan terdampar pada acara ini. Malam tadi membahas tentang pihak yang sedang bermasalah dengan lembaga peradilan, namun masih bisa pergi ke luar negeri. Memang benar, kasus Nazarudin dan Nunun sepertinya menjadi trigger pemilihan tema ini.

Namun sebenarnya, kasus serupa sudah ada di Indonesia sejak dulu sekali. Karni Ilyas menyebut beberapa nama, beberapa yang saya tangkap seperti Eddy Tansil dan beberapa nama pengusaha tionghoa. Beberapa orang satu persatu mulai bicara, ada pejabar pemerintah, birokrat, pengacara dan mantan wakil rakyat. Pokoknya ada semua :). Tahu apa yang membuat saya jengkel?

Mereka yang di sana, saya yakin orang-orang pintar semua. Orang yang semasa kuliahnya pasti menjadi orang-orang brilian, entah itu di bidang akademis atau orasi-orasi dan semacamnya. Tapi mayoritas mereka yang bicara semalam, memanfaatkan kepintaran mereka untuk ‘memperalat hukum’. Mereka mencari celah dari setiap kata yang ada di konstitusi kita, untuk mengakomodasi kepentingan mereka. Atau kepentingan kelompok mereka. Darimulai para pengacara, para birokrat, pegawai di keimigrasian ataupun lembaga peradilan, semuanya berhasil berkelit dari pertanyaan-pertanyaan Karni Ilyas. Memang mereka berhasil, tapi bang Karni lebih berhasil lagi. Karena apapun jawaban yang dilontarkan mereka, pertanyaan bang Karni menusuk di poin yang tepat. Poin yang sejak dulu gatal sekali ingin digaruk. Jadi apapun jawaban mereka, A atau B, sudah kelihatan apa yang sebenarnya.

Saya orang yang awam dengan bahasa-bahasa hukum. Cuma saya tahu hukum alam, yang dari dulu diajarkan turun temurun oleh leluhur saya. Yang salah, seharusnya dihukum, lalu dimaafkan. Yang salah, seharusnya bertanggung jawab dengan apa yang pernah diperbuat. Tapi terkadang manusia itu terlalu rakus dan serakah ya. Kebutuhan primer, sekunder dan tersier sudah terpenuhi, bukankah sudah saatnya untuk bersyukur? Yang lebih miris lagi, di sini yang paling dirugikan adalah rakyat kecil. Mereka yang penghasilan setiap harinya saja mungkin belum bisa memenuhi kebutuhan primer mereka, boro-boro kebutuhan sekunder ataupun tersier. Tega ya, masih berbuat jahat dengan orang-orang ini?

Sekecil ataupun sebesar apapun meminjam uang dari rakyat, harus dikembalikan. Nggak peduli jumlahnya hanya ratusan ribu, ratusan juta, ratusan milyar atau ratusan triliun. Setelah dikembalikan, terserah mau ngapain. Mau ke Singapura, monggo. Mau ke Hongkong, monggo. Ke LA, monggo.

Ah, capek ya mikir kayak gini terus. Nah kan, selesai nulis ini saya jadi jengkel lagi seperti semalam. Hei Indonesian Future Leaders, mari kita bersama-sama membangun karakter anti-korupsi dari diri kita sendiri yuk. Agar 20 tahun mendatang saat kita sudah memasuki dunia rimba itu, kita sudah menguat dan tidak terpengaruh dalam lingkaran setan semacam itu. Percayalah, meskipun hukum di Indonesia sekarang ini bisa dikatakan tidak adil, tapi hukum Tuhan di akhir zaman nanti pasti akan adil. Dialah satu-satunya hakim di dunia ini. Yang sebenar-benarnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s