Inspirasi Versi Saya

Saya ingin bercerita, tentang beberapa orang yang memiliki influence besar dalam hidup saya. Saya tidak tahu seberapa besar porsinya, tapi at least mereka-mereka ini berhasil mempengaruhi sudut pandang saya dalam memandang dunia. Ah, sebenarnya saya orang yang sangat mudah terinspirasi. Ada seorang kawan lama yang bilang, kalau kamu sering menulis, maka secara otomatis sel-sel bawah sadarmu menjadi peka dengan sendirinya. Kamu akan menjadi lebih sensitif dalam merekam momentum-momentum di sekelilingmu. Mungkin karena itulah, saya mudah terinspirasi. Karena saya suka menulis.

Inspire to empower.

Pada dasarnya, ketika saya menerima input berupa inspirasi, selanjutnya saya termotivasi. Motivasi ini bagaikan hormon yang kemudian membakar diri saya, untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari kemarin. Untuk bermimpi lebih liar dari sebelumnya. Dan untuk berpikiran lebih terbuka.

Saya memang bukan berasal dari keluarga yang sempurna, tapi at least saya merasa bahagia. Saya bersyukur memiliki ayah seperti ayah saya, ibu seperti ibu saya, adik seperti adik-adik saya, dan kakak seperti kakak saya. Mereka adalah faktor krusial dalam hidup saya. Kalau kata lirik di soundtrack Keluarga Cemara dulu, harta yang paling berharga adalah keluarga  🙂

Furthermore, my family is my inspiration. Kakak saya, mungkin adalah inspirasi hidup terbesar saya hingga sekarang. Dalam postingan mengenai tokoh inspirasi versi saya yang pertama ini, saya ingin bercerita mengenai kakak saya.

Masa kecil kami berdua, menurut saya cukup unik. Dulu waktu kecil, kami sering menciptakan hari besar sendiri. Hari besar versi kami. 4 Maret adalah hari pemborosan, lalu tanggal berapa adalah hari apa, dan semacamnya. Saya lupa, karena memori ini sudah menguap sejak tahunan yang lalu mengingat hari besar kami ini tidak pernah tercetak di kalender tahunan.

Kami berdua tidak pernah bermain boneka-bonekaan, atau masak-masakan. Simply because both of us didn’t like it. Orang tua kami juga tidak gender-oriented. Maksudnya, tidak menjejeli mainan kami dengan sesuatu yang berbau boneka dan semacamnya. Kami selalu dibebaskan untuk memilih mau beli mainan apa saat dandangan atau saat pergi ke toko mainan. Tapi terlepas dari faktor mainan, kami berdua lebih sering bermain peran. Saya jadi orang tuanya, dan kakak saya ini menjadi anaknya. Biasanya kalau kami bermain, kamar akan kami kunci dan gorden jendela kami tutup. Karena kami malu kalau dilihat ayah, ibu atau pembantu-pembantu kami hehehe. Soalnya memang memalukan. Kami akan menyamar, mendekati karakter pemain kami.

Saya masih ingat, setting akting kami dulu tidak pernah di Indonesia. Selalu di luar negeri. Dari kecil memang kami sudah memupuk keinginan untuk bisa tinggal lama di luar negeri. Mungkin karena dulu banyak saudara kami yang seusia tinggal di luar negeri. Oh ya, ada hal unik yang baru saya sadari tentang mainan peran kami dulu itu, ternyata sejak kecil karakter kami sudah terbaca dari pilihan peran-peran yang kami mainkan. Kakak saya, lebih senang menjadi anak. Anak yang urakan dan yang bebas. Sedangkan saya lebih sering menjadi orang tua, dan menyukai sesuatu yang rapi dan kapitalis banget deh dulu peran-peran saya. Saya selalu kerja di kantor, dan sebagainya hehehe.

Sedikit demi sedikit kami menua. Lalu pemikiran kami menjadi dewasa. Sudah tidak ada lagi main-main seperti itu. Ketika SMP, kami terpisah. Dia di SMP swasta, sedangkan saya memilih masuk public school. Baru ketika sekolah menengah atas kami bisa berkumpul lagi. Saya terinspirasi dengan dia, yang saat itu menjadi pengurus harian OSIS. Karenanya, saya termotivasi menjadi pengurus inti OSIS. Selang satu bulanan sejak masuk SMA, saya kemudian direkrut menjadi pengurus inti OSIS, wakil sekretaris. Wah, senang banget deh saat itu. Pengalaman satu tahun bekerja dengan ‘keluarga’ sangat bermanfaat hingga sekarang. Di tahun kedua, saya kembali menjadi sekretaris umum OSIS. Tambah banyak pengalaman hidup saya. Saya dan teman-teman beberapa kali menyelenggarakan acara level propinsi. Koneksi saya pun bertambah. Terlebih lagi, saya merasakan diri saya berkembang. Ini dimulai dari keinginan saya menjadi OSIS, karena melihat kakak saya yang juga demikian. Yes, she’s inspired me.

Lalu ketika saya bingung akan melanjutkan ke mana. Sebenarnya, saya sudah tahu sejak kelas dua SMA, kalau passion saya ada di Hubungan Internasional. Saya sudah tertarik dengan jurusan itu, bahkan sebelum saya tahu apa sih yang akan di pelajari di sana. Tapi mendekati hari H penentuan jurusan kuliah, saya menjadi ragu. Tujuan saya menjadi bias, karena saya takut. Saya takut, jurusan non-eksak akan memberikan ketidakpastian pada masa depan saya. Apalagi Ayah saya ingin sekali saya mengambil Pendidikan Dokter. Antara ketakutan dan keinginan orang tua versus passion saya. Mana yang menang?

Semula, saya sudah hampir memenangkan pihak yang pertama. Rasa takut dan keinginan orang tua saya. Saya sudah mendaftar di beberapa universitas, dengan pilihan pertama Pendidikan Dokter. Bahkan saya sudah mengikuti satu tes masuk di universitas swasta dan diterima di jurusan itu. Ayah saya saat itu, senangnya bukan main. Tapi kemudian, saat saya sudah hendak melangkah, saya bicara dengan kakak. Dia membuka pikiran saya. Sebenarnya, teori-teori yang kakak saya utarakan ketika itu sudah saya ketahui sebelumnya. Tentang tidak adanya kepastian di dunia ini selain ketidakpastian itu sendiri (berkaitan dengan masa depan saya tadi), tentang sukses ada di mana saja, tentang ikuti passion kamu dan sebagainya. Tapi kehadiran dia, dan motivasi dia, entah mengapa membuat saya nyaman dan menguatkan saya. Dia juga yang kemudian membicarakan mengenai passion saya ini ke Ayah saya. Fyi, Ayah saya orangnya demokrasi juga sih, jadi tidak begitu susah.

Akhirnya saya masuk HI UGM. Dan hingga detik saya menulis ini, saya belum (dan semoga saja tidak!) menyesal dengan pilihan saya. Jurusan HI membuat pikiran dan mata saya terbuka. Jurusan HI mempertemukan saya dengan orang-orang dengan pemikiran yang indah. Saya, bersyukur sekali. Melalui pembicaraan-pembicaraan saya dan kakak saat itu, saya terinspirasi untuk mengatasi ketakutan saya, dan membuktikan bahwa ketika passion bertemu dengan ketekunan, maka akan membuahkan kesuksesan.

Kakak saya ikut beberapa kompetisi, salah satunya yang ingin sekali saya ikuti juga adalah MUN, danone trust, dan YLI. Saya sudah mengikuti yang pertama, dan yang kedua serta ketiga, saya berharap bisa terealisasi tahun ini dan tahun depan. Amin.

Tahu apa salah satu inspirasi yang dia tularkan satu tahun belakangan ini? Yang saya merasakannya sekarang, sangat merubah diri saya?

Saya amati, satu tahun belakangan ini, kakak saya selalu berkata ‘share happiness to as much people as possible.’ Dan itu benar-benar menular! Saya semula adalah orang yang realis, yang selalu mencari keuntungan di setiap langkah saya. Padahal seringkali kita lupa, kita juga wajib untuk memberi, tanpa didekengi motif mencari untung. Seperti yang biasanya dikatakan Kak Assad di blognya, sedekah itu wajib. Dan sedekah itu tidak hanya sedekah materi saja, tapi juga sedekah ilmu, sedekah informasi dan sebagainya.

Dan tahu nggak sih, ternyata rasanya jauh lebih ringan ketika kita tidak selalu mencari keuntungan di setiap langkah kaki kita. Rasanya justru kita tidak usah mencari, tapi itu akan datang sendiri. Asal kita mau berbagi, dan membagi diri kita untuk kebahagiaan yang lainnya.

Once again, she’s inspired me.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s