Australia dan Media Massa

If you’re not carefull, the newspaper will have you hating the people who are being oppressed and loving the people who are doing the oppressing (Malcolm X)

Sepenggal kutipan di atas secara tersirat menunjukkan bahwa media massa, pada dasarnya memiliki kekuatan yang begitu besar. Sedemikian besar power yang dimiliki hingga media massa dapat mempengaruhi suatu aktor untuk berprilaku atau berpikir sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh media massa, sekalipun pada mulanya prilaku atau pikiran tersebut tidak sesuai dengan kehendak si Aktor. Dengan kata lain, media massa memiliki kemampuan untuk mempengaruhi mindset seseorang. Ya, media massa dapat mempengaruhi perspektif kita dalam memandang dunia.

Karena hal tersebut, banyak orang yang kemudian memanfaatkan media massa sebagai sarana untuk mencapai kepentingan yang ingin diraih. Seorang produsen makanan cenderung mengiklankan produknya di televisi, koran ataupun radio untuk mempengaruhi masyarakat agar mengkonsumsi produknya. Seorang penyanyi gencar mempromosikan album barunya di media massa untuk mempengaruhi masyarakat agar menyanyikan lagu-lagunya. Begitu juga untuk para politikus. Media massa, dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat.

Efektivitas media massa untuk suatu perubahan politik memerlukan situasi politik yang kondusif. Iklim demokrasi, sangat mempengaruhi mati atau hidupnya media massa di suatu negara. Media massa yang bebas adalah salah satu indikator adanya demokrasi di suatu negara. Bahkan dalam negara yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip demokrasi, media massa bahkan dapat menjadi salah satu pilar penting di sana. Australia, adalah negara yang dibangun di atas tradisi demokrasi liberal. Karenanya negara pesemakmuran Inggris ini mengakui adanya supremasi hukum, menghormati toleransi beragama, dan tentunya kebebasan berbicara serta berserikat. Ditopang dengan sistem pemerintahan yang demokrasi seperti itu, media massa kemudian menjadi salah satu pilar yang sangat esensial dalam sistem politik Australia.

Semakin berkembang zaman, semakin besar peran yang dipegang oleh media massa dalam kehidupan politik. Telah terjadi perluasan makna dalam konteks peranan yang dimainkan oleh media massa ini. Media massa bukan hanya sebagai sumber informasi politik, namun juga menjadi faktor pendorong atau trigger yang dapat berimplikasi pada perubahan politik. Selain itu, masih banyak aspek dari media massa yang mengukuhkan dirinya menjadi pilar penting di politik dan pemerintahan Australia. Menurut Harsono Suwardi, seorang profesor komunikasi Universitas Indonesia, terdapat empat faktor yang membuat media massa memiliki pengaruh yang begitu kuat dalam kehidupan politik, yakni[1]:

Pertama, media massa memiliki daya jangkau yang luas dalam menyebarkan informasi politik, bahkan mampu melewati batas wilayah, kelompok umur, jenis kelamin dan status sosial-ekonomi. Dengan begitu, status politik yang dimediasikan menjadi perhatian bersama di berbagai tempat dan kalangan.

Kedua, media massa memiliki kemampuan untuk melipatgandakan pesan yang begitu mengagumkan. Dilipatgandakan atau tidaknya pesan memiliki korelasi yang begitu erat dengan respons masyarakat terhadap isu tersebut. Apabila responnya positif[2], kecenderungannya media massa akan melipatgandakan isu tersebut. Dampak pelipatgandaan ini tentu sangat besar di te]ngah masyarakat

Ketiga, setiap media dapat mewacanakan sebuah peristiwa politik sesuai dengan pandangannya masing-masing. Media massa memiliki kebijakan redaksional terkait dengan isi peristiwa politik yang ingin disampaikan. Kebijakan ini membuat media banyak diincar oleh pihak-pihak yang ingin memanfaatkannya dan sebaliknya, juga dijauhi oleh pihak-pihak yang tidak sepaham dengannya.

Keempat, media massa memiliki fungsi agenda setting. Dengan begitu media massa memiliki hak untuk menyiarkan suatu peristiwa politik atau tidak menyiarkannya. Jadi media massa menggiring opini publik dalam suatu kuorum atau diskusi. Output dari diskusi inilah yang akan menentukan agenda-agenda dalam politik pemerintahan.

Kelima, pemberitaan peristiwa oleh suatu media kecenderungannya akan berkaitan dengan media lainnya sehingga terbentuklah suatu rantai informasi (media as links in other chains) yang menambah kekuatan media massa dalam menyebarkan informasi politik dan otomatis juga memperbesar dampak yang dapat mereka berikan terhadap publik.

Dari kelima faktor tersebut, dapat dikerucutkan bahwa fungsi media dalam politik yang paling esensial adalah dengan kemampuannya menggiring opini publik dapat mempengaruhi perspektif masyarakat dalam memandang politik itu sendiri, apakah pro ataukah kontra. Hubungan antara media massa dengan politisi sendiri bagaikan hubungan “ayam” dengan telur”. Mereka saling membutuhkan dan tidak dapat dipisahkan. Tanpa berita, media massa tidak akan bisa berjalan dan politisilah yang menyediakan berita ini. Sedangkan politisi membutuhkan media massa agar pandangan-pandangan politiknya disebarkan ke masyarakat luas, terutama bagi daerah pemilihnya. Maka dari itu, bukanlah hal yang mengherankan apabila politisi di Australia sangat menghargai media massa karena pengaruhnya yang begitu besar terhadap masyarakat hingga secara tidak langsung mempengaruhi pemerintahan dan politik Australia. Sedemikian besar peran media, hingga Napoleon pernah berkata bahwa: [3]

I fear three newspapers more than a hundred thousand bayonets.

Dalam konteks media massa di Australia, korelasi antara media massa terhadap politik dan pemerintahan lebih erat lagi karena praktek oligopoli yang berlangsung di sana. Beberapa kritikus berargumen bahwa kekuatan media berkorelasi erat dengan siapa pemilik media tersebut. Media massa di Australia hanya dikuasai oleh seglintir pengusaha kaya saja sehingga dapat dikatakan bahwa dalam konteks kepemilikan media massa berlaku sistem yang sangat oligopoli.

Oligopoli media di Australia berkembang selain karena faktor ekonomi, juga karena faktor politik. Telah diketahui bahwa untuk membentuk suatu media massa membutuhkan dana yang tidak sedikit. Setelah suatu media terbentuk, masih dibutuhkan dana yang tidak kalah besar untuk biaya-biaya produksi ketika menjalankannya. Banyak sekali surat kabar di Australia yang bangkrut karena masalah finansial, seperti Daily Sun and Sunday Sun, Perth’s Western Mail, Brisbane’s Telegraph, Business Daily dan Sydney Mid-week News. Oligopoli ini semakin berkembang karena faktor-faktor politik yang ada seperti pemberian izin membuat televisi ke beberapa perusahaan tertentu saja. Lagipula, sebagai pemain lama raja-raja media di Australia sudah mendapatkan kemapanan yang sangat sulit diganggu, baik dalam konteks ekonomi maupun dalam konteks politik.

Dua penguasa media yang paling besar dan terkenal adalah Rupert Murdoch dan Kerry Packer. Tidak hanya raja media di Australia, mereka berdua termasuk penguasa-penguasa media di dunia ini. Murdoch, yang selama puluhan tahun mengembangkan sayap News Corporation miliknya ke berbagai pelosok dunia, adalah pemilik saham di Fox Network, Star TV, Studio 20th Century Fox, surat kabar The Times dan The Sun di London, televisi kabel Fox News, Fox Sport dan lainnya. Di Australia sendiri, Murdoch memiliki 16 televisi lokal. Sementara Kerry Packer memiliki Australian Consolidated Press (ACP) dan Publishing and Broadcasting Limited (PBL). Dalam bidang media, PBL memiliki sembilan jaringan televisi di Australia dan Australian Consolidation Press. PBL memiliki jumlah investasi yang besar dalam berbagai televisi berbayar dan jaringan televisi digital, seperti Foxtel dan Sky News Australia. Australian Consolidation Press sendiri yang didirikan pada tahun 1933 memproduksi lebih dari 60 majalah di Australia seperti Australian Women’s Weekly, Cleo, Harper’s Bazaar, Australian House and Garden dan sebagainya.

Praktek oligopoli dalam kepemilikan media massa di Australia tersebut tentu memberikan dampak bagi masyarakat Australia. Yang paling terasa adalah, dengan pilihan yang begitu, mereka tidak bisa memilih sumber informasi lainnya apabila ingin mengetahui isu-isu politik. Selanjutnya, pemilik media dan manajer-manajernya memiliki kesempatan untuk mengintervensi berita yang diturunkan oleh media tersebut.

Dan kecenderungan yang ada memang seperti itu. Seringkali mereka bertindak secara langsung untuk memastikan bahwa berita, editorial atau bahkan seluruh liputan berita tersebut merefleksikan sudut pandang tertentu atau melindungi kepentingan tertentu. Sedikit sekali pilihan yang tersedia bagi seorang staff di media yang tidak suka dengan perintah-perintah intervensi dari atasan. Karena praktek oligopoli, mereka tidak dapat bebas keluar-masuk perusahaan karena pada dasarnya kepemilikan media massa di Australia hanya berada di tangan beberapa orang saja. Dampak yang terakhir adalah, bahwa pemilik dapat mengurangi biaya produksi tanpa takut akan kompetisi. Salah satu cara untuk mengurangi biaya produksi yang paling mudah ditempuh adalah dengan cara mengurangi biaya untuk pegawai. Artikel yang ditulis di salah satu surat kabar sering dimuat juga di surat kabar lain yang masih berdiri dalam satu perusahaan yang sama.

Implikasinya adalah, sudut pandang yang dapat digunakan masyarakat semakin terbatas apalagi dengan kemungkinan adanya monopoli pemberitaan karena konglomerasi media massa tersebut. Perlu diingat bahwa selain radio dan televisi ABC, semua media massa di Australia adalah media komersial yang dikuasai oleh perusahaan swasta. Karenanya, tidak ada ikatan-ikatan yang mengharuskan mereka memberitakan sesuatu secara adil. Orientasi politik pemilik, secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi arah pemberitaan.[4]

Peran media massa di Australia semakin terasa ketika masa-masa pemilihan umum. Sudah penulis sampaikan, bahwa mayoritas media massa di Australia berkonsentrasi pada masalah politik. Tingkat konsentrasi mereka ini semakin tinggi hingga hampir di seluruh halaman surat kabar, di televisi juga di radio mengenai berita kampanye, foto-foto para calon pemimpin yang baru, dan iklan dari partai-partai, organisasi, maupun individu. Dalam masa-masa ini dapat dikatakan mereka memainkan peran yang begitu krusial, walaupun bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi suara masyarakat dalam pemilu.

Akibatnya peserta kampanye betul-betul berusaha memanfaatkan media massa semaksimal mungkin. Dalam membangun citra mereka di depan masyarakat, para politisi juga memanfaatkan media sebagai sarana untuk penampilan foto profil mereka atau gambar-gambar mereka. Pesan lisan, yang dilengkapi dengan penayangan gambar dalam televisi atau surat kabar sangat penting bagi mereka. Dengan begitu, simpati publik akan semakin besar, terutama yang ada di daerah pemilihannya. Menyadari urgensi media itulah mereka kemudian membanjiri media dengan iklan-iklan kampanye mereka semasa kampanye.

Karena iklan-iklan dari peserta kampanye tersebut, dapat dikatakan masa kampanye adalah masa-masa panen bagi mereka. Dinamikanya, harga iklan-iklan tersebut pastilah mahal sedangkan di masa kampanye partai-partai politik tidak segan untuk mengeluarkan uang hingga jutaan dolar dalam rangka mengkampanyekan program-program mereka di berbagai media. Terlepas daripada itu, kecenderungannya masyarakat juga akan mengikuti perkembangan kampanye sehingga ratting ataupun jumlah penjualan eksemplar mereka meningkat.

Ada satu contoh kasus menarik yang merefleksikan urgensi media dalam perpolitikan Australia, khususnya pada masa kampanye. Kasus ini terjadi pada dekade 1970-an di Australia, dan masih dikenang hingga sekarang sebagai salah satu tindakan media dalam memberitakan politik yang sudah sangat jauh melewati batasan yang seharusnya. Pada tahun 1975, semua surat kabar milik Murdoch mengecam Perdana Menteri Gough Whitlam, pemimpin Partai Buruh ketika itu. Serangan Murdoch terhadap Whitlam sungguh merupakan hal yang berkontradiksi dengan posisi Murdoch ketika pemilihan tahun 1972. Ketika itu Murdoch menggunakan salah satu surat kabar miliknya yaitu The Australian untuk menyokong Whitlam. Murdoch mendonasikan uanganya lebih dari $74.000 (jumlah yang besar saat itu) untuk kampanye ALP. Hasilnya, slogan ‘It’s Time’ yang didengung-dengungkan oleh Whitlam memenuhi hampir semua surat kabar Murdoch dan Whitlam berhasil memenangkan kampanye.

Ketika Murdoch ‘menyerang’ Whitlam, laporan berita dan tulisan-tulisan para reporter surat kabar miliknya telah diedit hingga akhirnya yang kemudian muncul dalam surat kabar adalah berita-berita yang mengecam Whitlam. Salah seorang staff Murdoch di The Australian pernah berkata bahwa,

You literally could not get a favourable word about Whitlam in the paper. Copy would be cut, lines would be left out. [5]

Sedemikian besar back bench subeditor yang dilakukan Murdoch, hingga para reporter politik suratkabar The Australian pernah mengirimkan surat protes kepada Murdoch. Karena tidak ada response dari Murdoch terkait dengan surat mereka, akhirnya wartawan The Australian melakukan aksi mogok bersama-sama dengan wartawaran dua suratkabar Murdoch lainnya, The Sunday Mirror dan The Sunday Telegraph. Setelah perundingan panjang, Murdoch kemudian berjanji untuk berita-berita selanjutnya, back bench yang akan dia lakukan akan tunduk kepada kode etik. Sayangnya janji tersebut diberikan saat masa kampanye hampir selesai. Akhirnya, Whitlam kalah dan Malcolm Fraser dari Partai Liberal-lah yang memenangkan pemilu.

Setiap reaksi, tentu ada aksi yang melatarbelakanginya. Orientasi politik Murdoch yang berbeda (pada tahun 1972 mendukung Whitlam dan tahun 1975 justru menjatuhkannya), dilatarbelakangi oleh faktor-faktor tertentu. Salah satunya adalah fakta bahwa pemerintahan Whitlam telah kehilangan dukungan publik. Logikanya, media massa akan memberikan apa yang diinginkan oleh publik agar tingkat penjualan mereka meningkat. Dan itulah yang dilakukan oleh Murdoch. Akan tetapi, tentu ada unsur-unsur politis di dalam permainan tersebut. Hal itu semakin terlihat ketika Malcolm Fraser kemudian menawarkan jabatan duta besar di Jepang kepada mantan staff Murdoch, John Menedue.[6]

Penulis pribadi mengagumi sosok Murdoch karena strategi-strateginya yang luar biasa cerdas hingga berhasil menghimpun kekuatan besar yang mampu mengontrol suatu negara (dalam perkembangannya, Murdoch bahkan mulai mengintervensi politik di Amerika Serikat dan Inggris). Menurut saya, dalam prakteknya bahkan Murdoch lebih licik daripada politikus-politus sendiri. Karena dengan politik yang dia lakukan, Murdoch hampir selalu dapat mencapai kepentingannya. Seorang presiden normalnya hanya dapat berkuasa selama empat tahun akan tetapi seorang Rupert Murdoch ini telah berkuasa selama puluhan tahun. Namun, rasa ngeri dan khawatir itu memang ada. Apa yang akan terjadi terhadap dunia ini apabila media massa sedemikian besar pengaruhnya? Yang lebih parah lagi, media massa itu hanya dikuasai oleh seglintir orang saja?

I try to keep in touch with the details…I also look at the product daily. That doesn’t mean you interfere, but it’s important occasionally to show the ability to be involved. It shows you understand what’s happening. (Rupert Murdoch)


[1] Ibnu Hamad, Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa (Jakarta: Granit, 2004), h. xv.

[2] Respon positif ini dapat dilihat dari eksemplar surat kabar, tabloid atau majalah yang terjual serta dari ratting pemirsa televisi.

[3] Zulkifli Hamid, Sistem Politik Australia (Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset & LIP-FISIP-UI, 1999), h. 348.

[4] Rodney Smith, Politics in Australia (Australia: Allen&Unwin Pty Ltd, 1993), h.303-306.

[5] Oxford University Press, The Murdoch Papers and the 1975 ‘dismissal’ Election. Diakses dari situs http://www.oup.com.au/orc/extra_pages/higher_education/hirst__and__patching/murdoch_papers pada tanggal 11 Januari 2011 pukul 00.19.

[6] Ibid.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s