Mengapa HI?

Sekitar dua tahun yang lalu, saya akhirnya memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan kuliah di Kedokteran, dan lebih memilih Hubungan Internasional. Masih dengan seperempat ragu, ketika itu. Dan seperti mayoritas calon mahasiswa HI yang awam, saya juga memilih HI karena ingin menjadi diplomat, walaupun saya sudah sadar sejak saat itu sebenarnya tidak begitu berminat berkarir di sana hehehe.

Dan memang benar, beberapa semester kemudian saya semakin tidak berminat menjadi diplomat. Tapi saya tidak pernah menyesal mengambil jurusan ini karena saya sadar kalau HI adalah jembatan saya untuk kemudian menemukan passion-passion saya yang sebenarnya. Yup, jangan mempersempit pikiran kita bahwa lulusan HI nantinya akan jadi diplomat, duta besar dan semacamnya. Lulusan HI, bisa tersebar di mana-mana! Bisa menjadi dosen, jurnalis, kerja di perusahaan multinasional, kerja di NGO, di Bank, di mana-mana deh.

Ada yang bilang bahwa di HI, kita cuma belajar teori. Well, itu memang benar sih. Tapi tidak sepenuhnya benar. Hidup di HI itu -at least HI UGM- keras. Penuh intrik dan politik, meski lahir dalam bentuk yang eksplisit. Saya sendiri merasakan perubahan dalam diri saya. Setelah tahu teori realisme dan kawan-kawannya, kok saya jadi begini ya? Maksudnya, saya jadi selalu berpikir kalau pasti ada kepentingan orang di setiap tindakannya. Yup, life is about who gets what, when and how.

Kehidupan yang seperti itu, disadari atau tidak, ternyata membuat anak-anak HI menjadi lebih kuat. Dan sukar ditaklukkan (hihihi 😉 ). Dan saya kira, nantinya pentium yang akan dihasilkan HI juga lebih keren. Layaknya software, kita itu bisa diaplikasikan di semua bidang.

Terlepas daripada itu, sebagai jurusan dengan passing grade yang tinggi, teman-teman saya juga orang yang keren-keren. Saya bahkan dulu sempat jiper waktu di awal kuliah, karena mereka -kawan saya tadi- sungguh anak-anak yang berprestasi. Tapi sekarang saya justru bersyukur di tempatkan di antara orang-orang keren, karena dengan begitu batasan saya menjadi naik. Bukankah, shoot for the moon, so if you miss at least you’ll among the stars? 🙂

Sekarang persepsi saya tentang masa depan memang sudah berbeda dengan dulu, saya memimpikan sesuatu yang sepertinya tidak mungkin sekarang ini. Yang dulu, ketika saya masih SMA, bahkan tidak pernah hadir dalam benak saya. Tapi bukankah bermimpi itu adalah privilege yang diberikan Tuhan untuk umatnya? Mimpi itu gratis, teman. Jadi bermimpilah setidakmungkin mungkin. Karena, semakin tinggi kita bermimpi, limit kita akan naik dan tentunya goal kita nanti juga akan semakin besar.

Dan saya sadar, semua proses itu terjadi karena sekarang saya berada di HI !!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s