Chapter I Man in Horseback: Resume

Non est potestas super terram quae comparetur.[1] (Thomas Hobbes, Leviathan)

Layaknya badan manusia, negara juga tersusun atas organ-organ tertentu. Apabila salah satu organ tersebut tidak bekerja dengan benar maka otomatis suatu negara akan limbung, tidak mampu berjalan dengan tegap dan benar. Militer, adalah salah satu organ krusial dalam suatu negara. Kehadirannya adalah mutlak bagi setiap negara.

Militer, yang memiliki fungsi melakukan tugas di bidang pertahanan dan keamanan, pada hakikatnya sudah ada sejak dahulu kala. Akan tetapi perjalanan waktu yang demikian panjang telah membawa beberapa perubahan signifikan pada militer itu sendiri. Pada zaman dahulu, militer kurang terorganisir. Prajurit Spartan, Cossack, Voortrekkers dan prajurit Amerika di masa lalu tidak memiliki kekohesivan dan/atau formasi yang bertingkat-tingkat (hierarki). Kedua faktor itulah yang membedakan militer tradisional dan militer modern.

Dewasa ini, hampir semua negara di dunia memiliki militer yang sangat terorganisir. Setidaknya, militer lebih terorganisir dan terstruktur dibandingkan dengan kelompok-kelompok sipil di negara yang bersangkutan. Militer modern begitu kohesif dan hierarkis. Dua karakter tersebut juga merupakan salah satu unsur yang membedakan militer dengan sipil. Unsur lainnya, seperti yang disebutkan oleh Samuel E. Finer, adalah bahwa militer memiliki: (1) sistem komando yang tersentralisir, (2) hirarki, (3) kedisiplinan yang kuat, (4) rasa kebersamaan yang tinggi atau esprit de corps, (5) interkomunikasi.

Gaya kepemimpinan komando dalam militer, termasuk di Indonesia, sangat tersentralisir. Dengan rantai komando yang terstruktur rapi bertingkat-tingkat (hierarkis), perintah dari yang paling ‘atas’ dapat tersalurkan hingga ke prajurit eselon yang paling rendah. Kedisiplinan adalah sifat wajib yang harus dimiliki oleh dari prajurit kelas atas hingga kelas bawah. Karenanya, semua komando yang diinstruksikan harus dilaksanakan dan apabila seorang prajurit gagal melaksanakannya maka dia tidak dapat mengelak dari hukuman. Secara sadar ataupun tidak sadar, kombinasi antara komando yang tersentralisir,  otoritas yang disusun berdasarkan hierarki dan kecenderungan prajurit untuk selalu menaati komando selanjutnya berimplikasi pada terbentuknya jaringan komunikasi militer yang tersusun rapi.

Kelima hal tersebut (sistem komando, hirarki, kedisiplinan, esprit de corps dan interkomunikasi) adalah benang merah yang menjadi unsur pembeda antara militer dengan sipil. Contoh sederhananya, dapat kita amati dari kehidupan sehari-hari, kedisiplinan sipil tidak sekuat kedisiplinan militer. Memang ada beberapa organisasi yang menggambarkan kelima unsur militer dalam tubuh organisasinya namun tetap saja, selalu ada pembeda. Misalnya adalah Gereja Katolik Roma. Gereja ini memang menggambarkan kelima unsur militer tersebut, akan tetapi ini adalah organisasi sukarela di mana anggotanya dapat masuk atau keluar sesuka hati mereka.

Opini masyarakat sendiri terhadap militer berbeda-beda, bahkan seringkali berubah seiring dengan perkembangan zaman. Ketika bertemu dengan militer, atau mungkin mendengar kata militer, mungkin yang kemudian singgah di benak masyarakat sipil adalah kesan berani, disiplin, miskin, patriot dan patuh. Namun perlu diingat bahwa tidak sepatutnya semua hal itu digeneralisasikan. Tidak selamanya militer mendapatkan ‘cap’ begitu dari masyarakat. Di Jerman atau Jepang pada tahun 1945 misalnya, profesi militer dianggap prestius. Masih pada periode tahun yang sama, namun kali ini di Mesir dan Cina, profesi militer justru dianggap hina.

Militer bukan satu-satunya asosiasi organisasi dalam suatu negara. Ada pula perusahaan-perusahaan tangan panjang dari militer yang juga memiliki solidaritas yang kuat dan mau mendukung satu sama lain. Badan korporasi ini lebih mematikan dan tangguh daripada organisasi lain. Terlebih lagi, mereka juga menikmati monopoli terhadap senjata.

Karena begitu kuatnya militer, intervensi militer di politik dan pemerintahan sepertinya sangat sukar untuk dihindari. Padahal intervensi tersebut tidak sesuai dengan kaidah militer yang professional. Lalu, mengapa dan bagaimana bentuk pemerintahan oleh sipil bisa bertahan apabila (seperti kata Hobbes yang telah penulis kutip di awal) non est potestas super terram quae comparetur atau there is no power on earth which can be compared to him[2]?


[1] Dalam bahasa Inggris, there is no power on earth which can be compared to him.

[2] Konteks ‘him’ di sini adalah militer.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s