McD: Ya atau Tidak?

McWorld represents an American push into the future animated by onrushing economic, technological and ecological forces that demand integration and uniformity and that mesmerize people everywhere with fast music, fast computers and fast food – MTV, Macintosh and McDonald’s– pressing nations into one homogeneous global culture.

(Benjamin R. Barber)

McDonald’s, atau yang lebih sering disingkat dengan McD sepertinya adalah restoran paling universal di dunia ini. Dia adalah salah satu simbol globalisasi pada abad ini. Sejak pertama berdiri pada tahun 1940 hingga sekarang, rumah makan siap saji terbesar di dunia ini telah memiliki lebih dari 30.000 gerai di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, tidak sulit untuk menemukan McD. Bahkan dewasa ini McD dapat ditemukan di beberapa kota kecil di Indonesia.

Maka dari itu, ketika mendapatkan tugas globalisasi untuk mengamati globalisasi di restoran, yang pertama kali tercetus di benak saya adalah McD. Karenanya sore hari ini saya memutuskan untuk mengunjungi ke McD Sudirman, satu-satunya gerai McD di Yogyakarta yang dilengkapi dengan fasilitas drive thru. Berbeda dengan kunjungan saya ke McD sebelum-sebelumnya, kali ini saya tidak hanya ‘melihat’ namun juga mencoba mengamati dan memperhatikan keadaan sekitar saya. Dan tentu saja, membandingkannya dengan keadaan warung makan tradisional Indonesia.

Interior McD di Sudirman tidak jauh berbeda dengan interior gerai-gerai McD lainnya. Warna kuning dan merah masih mendominasi ruangan, seingat saya di Semarang juga interior disainnya sama seperti ini. Kursi-kursinya yang berwarna kuning tampak minimalis. Desain interior di McD ini tidak memiliki batas geografis yang jelas. Maksud saya, sangat tidak Indonesia. Mungkin pada abad 20 sekarang ini semakin banyak bangunan-bangunan di Indonesia yang sudah terpengaruhi disain interiornya dengan desain yang modern seperti di McD ini. Namun dulu pada tahun 1995-an, ketika saya masih kecil dan masih lumayan jarang bangunan dengan desain modern, McD sudah memiliki desain interior yang seperti ini. Bahkan seingat saya, sejak saya kecil juga interiornya tidak banyak berubah. Minimalis, dengan meja-meja persegi yang bisa digabung-gabung dan kursi aluminium yang kalau tidak berwarna merah maka berwarna kuning.

Ketika melewati pintu masuk, saya disambut dengan mas-mas berseragam merah yang menyapa saya. Bukan sapaan yang tulus, hanya ‘Selamat Datang’ yang sepertinya ada dalam buku pedoman mereka untuk menyapa customer. Selanjutnya saat memesan, pelayan yang bertanya apa pesanan saya juga melontarkan kalimat yang persis sama seperti yang mereka lontarkan untuk customer sebelum saya. Pelayanan antara satu tamu dengan tamu lainnya tidak banyak berbeda karena semuanya memang sudah rapi tersusun dalam buku pedoman para pelayan ini. Dalam benak saya, mungkin pelayanan di semua gerai McD sedunia juga tidak jauh berbeda dengan pelayanannya di Yogyakarta. Apabila seperti itu, pelayan-pelayan di McD itu sungguh mirip dengan robot-robot yang sudah diprogram sebelumnya, bukan?

Mengingat McD berasal dari Amerika, maka tidak heran apabila makanan siap saji ala McD sangat Amerika sekali. Menu McD sendiri sangat identik dengan burger (dengan segala macam jenisnya seperti Big Mac, Cheese Burger dan Beef Burger), kentang goreng dan soft drink (seperti Coca Cola, Fanta dan Sprite). Coca Cola adalah perusahaan minuman ringan yang berasal dari Amerika Serikat. Selain fenomenal di negara asalnya, Coca Cola juga telah merambah negara-negara lain, bahkan negara dunia ketiga.

Sejak pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1991, McD benar-benar telah berhasil ‘masuk’ ke dalam struktur sosial dan budaya masyarakat Indonesia. Buktinya, dewasa ini banyak sekali restoran cepat saji yang meniru gaya McD, baik dalam interior maupun dalam hal menunya. Di Yogyakarta sendiri, kita telah mengenal Mister Burger yang merupakan produk lokal asli dari Yogyakarta. Mister Burger menawarkan makanan dan minuman yang tidak jauh berbeda dengan McD. Selain Mister Burger, masih banyak restoran-restoran lain yang serupa. Nah, apakah hal ini bisa kita katakan sebagai efek negatif atau efek positif globalisasi?

Dalam menyikapi suatu masalah, kita harus melihatnya dari dua sisi. Karena paradigmanya, selalu ada kebaikan yang terselip dalam keburukan, dan begitu juga sebaliknya. Menyikapi fenomena McD, saya memang melihat ada dampak negatifnya, seperti masyarakat kita yang cenderung lebih konsumtif dan warung-warung lokal menjadi semakin terdesak keadaannya. Selain itu, dilihat dari segi kesehatan, makanan fastfood tidak baik untuk kesehatan. Kandungan gizinya cenderung tidak ada, itulah mengapa dia disebut juga junkfood alias makanan sampah.

Namun, saya pribadi menganggap dengan adanya MCD, pilihan yang kita miliki juga semakin banyak. Ya, semua tergantung pada individu masing-masing bukan? McD sebenarnya berada dalam posisi netral. Apabila ada orang-orang yang berdemo dan hendak memboikot McD karena beranggapan McD adalah suatu dampak negatif, rasanya saya kurang sependapat dengan mereka. McD ada dan bisa eksis hingga sekarang, itu karena orang-orang yang membelinya. Jadi bukan salah McD bukan?

Orang-orang memilihnya secara sadar, walaupun tidak bisa dikatakan semua orang sadar ‘siapa’ McD sebenarnya. Jadi menurut saya, McD dan juga globalisasi sebenarnya berada di posisi netral. Kitalah (sebagai konsumen) yang akhirnya akan menentukan arah mereka.  Kitalah aktor, pelaku dari globalisasi ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s