Untuk Ibu di Hari Ibu

Aku ingin menjadi dia yang terlihat begitu super. Begitu indah dalam kesederhanaan. Tapi aku tak ma(mp)u berpura-pura. Aku pernah merasakan betapa lelahnya terjebak dalam lingkaran setan ‘pura-pura’. Pura-pura ikut bahagia, pura-pura tertawa, pura-pura melucu. Aku hanya ingin menjadi diriku dengan sederhana. Dan mencintai diriku dengan sederhana pula. Bukankah cintaku yang kekal di dunia ini pada hakikatnya hanya ada satu, cinta pada diriku sendiri. Aku mencintai diriku saat sedang bercinta dengan Tuhan. Aku mencintai diriku saat sedang bercinta dengan keluargaku. Aku mencintai diriku saat nanti mencintainya juga. Satu langkah pertama sebelum itu semua, aku harus mencintai diriku sendiri… dengan sederhana.

Tapi bolehlah bila aku juga memiliki orang-orang yang kuanggap cukup menginspirasi. Salah satunya dia.

Aku ingin menjadi dia. Yang selalu berusaha untuk membuat semua orang bahagia. Kebahagiaannya adalah hal terakhir yang dia inginkan. Senyumannya adalah ketika mereka juga tersenyum. Namun aku juga tidak ingin menjadi dia dengan segala kelemahannya. Tidak mampu menolak apa yang mereka inginkan tetapi dia sebenarnya tidak menghendaki. Paradoks, dia justru menjadi kuat dengan segala kelemahannya. Berulang kali aku menegur agar dia menjadi orang yang lebih tegas, berulang kali dia mencoba dan tidak bisa. Dia orang yang akan tetap memegang tangan mereka. Seberat apapun, tak akan dia lepaskan. Aku tahu itu. Aku penasaran terbuat dari apa hatinya. Mampu memaafkan saat mereka mengkhianatinya, terutama saat dia mengkhianatinya. Tetap berdiri dan memegang tangan mereka dalam terpaan badai topan sekalipun. Demi Tuhan aku tahu dia telah limbung dan ingin jatuh, tapi dia tidak akan jatuh demi tetap memegang mereka.Dia yang mengajariku tentang mimpi dan realisasi mimpi. Dia mengajariku bagaimana caranya untuk terbang tanpa takut jatuh. Ketika aku jatuh –katanya-, jangan takut untuk mencoba lagi. Tuhan tidak bisa mengabulkan semua permintaan dalam waktu yang bersamaan. Karena paradigma yang ada mengatakan, selalu ada paradoks antara pintaku, pintamu dan pinta mereka.

Terimakasih, Ibu 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s