Inner Life of Faelasufa

Episto, Ergo Sum.

Nama: name, naam, नाम, όνομα.

Mereka bilang, nama adalah doa. Doa kedua Bapak-Ibumu, yang akan terus menempel dari mulai awal mula kamu membuka mata hingga akhirnya dua kelopakmu menutup juga. Saya adalah satu-satunya anak dalam keluargaku, yang dinamai oleh Ibu. Dulu ketika masih sehijau daun yang begitu muda, saya tidak menyukai nama pemberian beliau. Hanya satu kata. Menyulitkan. Saya ingin memiliki nama sepanjang kereta. Dulu begitu. Tapi sekarang, saya justru seperti seorang narcist; saya sangat suka nama saya.

Saya suka karena nama saya terdengar berbeda. Faelasufa. Saya juga suka karena nama saya susah dilafalkan kebanyakan orang. Hampir mayoritas orang yang pertama kali membaca nama saya, salah melafalkannya ketika kemudian memanggil saya. Entah itu menjadi Faelasula, Feasufa, Falasafa, dan lain sebagainya. Kata salah satu teman ‘jenius’ saya, Tomi, kesusahan itu karena jarang ada nama orang Indonesia yang secara langsung mempertemukan alfabet A dengan E. Saya memilih untuk percaya, karena setelah itu kami mencoba mengingat kenalan kami yang namanya mempertemukan kedua vokal itu, dan ternyata memang jarang sekali kami menemukan nama teman yang demikian. Terakhir, saya suka makna nama saya. Kata Diva dalam Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, nama adalah makna yang ingin kamu gaungkan di dalam bulatan pepat yang kau kenal dengan nama dunia.

kata yang menjadi akar nama saya,

Ayah saya yang seorang lulusan Filsafat bilang apabila beliau dan Ibu berdoa agar kelak saya menjadi orang yang arif bijaksana dan berpengetahuan luas. Pemikiran para filsuf menjadi pencerah, dan sikapnya menjadi panutan karena bijak. Saya cukup mengamini dalam hati, berdoa agar doa mereka nanti akan menjadi kenyataan.

Life’s fair

…aku percaya kalau kamu tidak bisa berbicara seindah ketika kamu menuliskannya. Tapi bukankah Tuhan tidak pernah salah memberikan rezeki dan berkat? Selalu ada kelebihan dalam tiap kekurangan.

A friend of mine, Ogi Wicaksana. Sweet, right?

as a TEAM

With great power, comes great responsibility (Uncle Sam)

Sebagai sebuah individu, kamu boleh dan bisa melakukan apapun. Kamu akan bebas. Dan kamu sendiri yang akan menanggung resiko dari semua perbuatanmu. Sebagai sebuah individu, ada kalanya kamu akan bertemu individu lainnya, dan lalu terikat bersama atas nama kelompok, komunitas, tim, organisasi, atau apalah kamu menyebutnya. Sebagai sebuah tim, tentu cara kerjanya jauh berbeda dan lebih kompleks daripada ketika kamu hanya berdiri sendiri menaungi satu kepala, perasaan dan jiwa; kamu saja.

Lalu, pernahkah kamu terjebak dalam suatu kondisi, di mana kamu merasa muak dengan tim kamu? Ketika kamu adalah tempat bersandar bagi mereka satu tim, dan kepada kamulah mereka seringkali menaruh kepercayaan yang berujung pada kamulah yang harus lebih banyak melakukan pekerjaan tim. Atau ketika, simply kamu mendapatkan tim yang tidak setara dengan kamu kapasitasnya. Sehingga rasanya kamu selalu paranoid dengan hasil teman-teman satu tim kamu, dan akhirnya kamu mengintervensi satu-satu hingga hasilnya akan lebih baik lagi.

Bersyukurlah apabila kamu adalah golongan yang tidak perfeksionis, yang (maaf) lemah,  dan memiliki orang yang dapat digantungkan dalam sebuah tim. Vice versa, bagi yang sebaliknya, ada sedikit pesan saya untuk kamu.

Pertama, jangan pernah mengeluhkan ‘Aku lagi, aku lagi’ dalam hati maupun kepada teman satu tim kamu. Tolong sekali jangan. Percayalah, pada akhirnya semuanya nanti akan kembali kepada kamu. Lakukan saja karena itulah seni bekerja dalam sebuah tim. Selalu saja ada yang lebih kuat dan lebih lemah di antara lainnya. Sebagai yang lebih kuat, kamu memiliki tanggung jawab tak terlihat untuk bekerja lebih keras daripada lainnya. For the sake of your teamjust do that. Ingatkah kamu ada satu quote yang sangat menarik di film Spiderman, “With great power, comes great responsibility.” Putarlah perspektif kamu, kamu tidak dirugikan oleh teman-teman dan kondisi kamu. Sebenarnya, Tuhan justru ingin menambah kekuatan kamu dengan memberikan beban yang lebih daripada yang lain. Kamu memang seringkali tidak sadar ketika prosesnya berlangsung, namun di masa datang kamu pasti akan merasakan benefitnya.

Kedua, apabila tim kamu memperlakukanmu sebagai orang yang dipercayai untuk melakukan lebih, bersyukurlah! Bersyukurlah  karena di mata teman-teman kamu adalah pemilik great power, dan bukan termasuk mereka yang lemah. Bersyukurlah. Namun jangan lupa diri dan daratan. Di perjalanan yang akan datang, semakin banyak kamu akan bertemu dengan orang-orang yang hebat. Tetap belajar dan menambah kapasitas diri masing-masing.

Ketiga, tegas. Latihlah teman-temanmu untuk menjadi lebih mandiri, secara kasat mata tentunya. Hitung-hitung menjadi manusia yang lebih bermanfaat dengan memberikan pembelajaran yang tidak disadari oleh lainnya. Bagaimana caranya? Apabila pekerjaan teman dan/atau staff kamu tidak memuaskan, bilanglah. Minta tolong agar mereka membenahi pekerjaannya, dengan standar yang berlaku di lingkungan kamu saat itu. Kemudian ada pembeda antara menjadi babu dan orang kepercayaan yang harus melakukan lebih. Jangan mau disuruh-suruh. Ingat ya, jangan mau disuruh-suruh apabila kamu tahu teman kamu bisa melakukannya sendiri.

Itu saja sih. Oh ya, dan lagi. Pisahkan hubungan kerja dengan pertemanan. Meskipun kamu berinteraksi dengan orang yang sama. Apa yang terjadi dalam suatu bilik, seharusnya tidak akan menggangggu bilik yang lainnya. Berhati-hatilah dengan emosi kamu, sedapat mungkin jangan sampai melukai hati yang lainnya. Semua orang memiliki porsi dan kapasitasnya masing-masing. Sebagai yang lebih kuat, mungkin memang sudah kodratnya kamu menutup lubang-lubang dalam tim kamu. Again, be kind. Because afterall, everyone you meet is fighting a hard battle :)


Memang akan lebih ringan, tapi apa jadinya kalau kamu memutuskan untuk melepaskan saja? 

Seleksi “Kapal Pemuda Nusantara” Provinsi Jawa Tengah

Repost from: 

http://pcmijateng.wordpress.com/2012/05/16/seleksi-kapal-pemuda-nusantara-kpn-provinsi-jawa-tengah-2012/

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI akan menyelenggarakan kegiatan Lintas Nusantara Remaja dan Pemuda Bahari (LNRPB atau Kapal Pemuda Nusantara – KPN) pada tanggal 25 Agustus-26 September 2012 dengan rute pelayaran Jakarta – Ambon – Sorong – Raja Ampat – Morotai – Ternate – Makassar – Jakarta.

Guna mempersiapkan utusan dari provinsi Jawa Tengah, akan diselenggarakan seleksi calon peserta yang akan dilaksanakan pada

hari/tanggal: Rabu, 30 Mei 2012

jam                 : 09.00 WIB

lokasi             : Pusdiklat BKK Jawa Tengah

Jalan Supriyadi 37 Semarang Jawa Tengah

Adapun persyaratan program ini adalah sebagai berikut

A. Syarat Umum

1. Pemuda/i Jawa Tengah berusia 16-30 tahun dan belum menikah

2. Berperilaku baik dan tidak merokok

3. Sehat jasmani dan rohani dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter RSUD

4. Tinggi dan berat badan minimal: 155cm/45 kg (putri) dan 160cm/50 kg (putra)

5. Memiliki kemampuan renang

6. Aktif di organisasi kepemudaan atau kepramukaan di  tingkat kota/kabupaten

7. Menguasai kesenian dan kebudayaan Jawa Tengah

8. Belum pernah mengikuti kegiatan KPN sebelumnya

B. Syarat Administratif

1. Fotocopy KTP Jawa Tengah yang masih berlaku

2. Izin tertulis dari orangtua/wali

3. Surat rekomendasi dari organisasi kepemudaan atau Dinas Pemuda dan Olahraga tingkat kota/kabupaten

4. Surat cuti bagi mahasiswa/pegawai (jika tersedia)

5. Proposal dengan tema “Peluang dan Potensi dalam Usaha dan Pelestarian Kelautan/Kebaharian di Provinsi Jawa Tengah”.

Proposal sepanjang minimal 10 halaman dan ditulis dengan ketentuan font Times New Roman 12, spasi 1.5, dan kertas ukuran kertas A4.

6. Pas foto berwarna ukuran 3×4 sebanyak 4 lembar

Akan diambil 1 orang putra dan 1 orang putri untuk mewakili provinsi Jawa Tengah dalam kegiatan ini. Semua berkas yang disyaratkan harus sudah dikumpulkan selambat-lambatnya 25 Mei 2012 di Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Tengah cq. bidang Kepemudaan (Aula Muria, Kompleks Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah, Srondol, Semarang) pada jam kerja.

*Untuk informasi lebih lanjut mengenai Kapal Pemuda Nusantara, silakan menghubungi saudara Yayan di nomor 08562658857.

Aku Ingin,

…mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

-Sapardi Djoko Damono

Masalahnya Om, yang nggak sederhana ialah menemukan kamu. Ya kan?

Yang Kecil dan (sering) Terlewatkan

Kadang-kadang, kamu dikejutkan oleh sesuatu yang semula kamu anggap remeh. Kadang-kadang, kamu menemukan perubahan yang tercipta dari aksi-aksi kecil. Kadang-kadang, kamu sadar bahwa kamu dapat memperoleh apa yang kamu mau karena alasan-alasan yang bahkan luput dari pengamatanmu sehari-hari. Dan vice versa, hal-hal kecil itu juga dapat menjadi obstacle kamu untuk meraih impian kamu. Adakah yang pernah menyimak commencement speech-nya Steve Jobs saat dia wisudaan di Stanford? Kalau belum, dengarkanlah. Kamu akan menyadari, bahwa memang benar hal-hal kecil itu kadang sangatlah krusial. Melebih hal-hal yang kamu anggap besar dan selalu diperhatikan. Tanpa kamu sadari sebelumnya.

Salah satu hal kecil itu ialah dengan bersikap baik. Be kind, because good people attract good people. Percaya atau tidak, orang tanpa disadari akan tertarik dengan mereka yang saling memiliki kesamaan. Dalam hal apapun. Itulah sebab, mengapa seringkali kita merasa dunia mendadak menjadi sempit ketika ternyata teman kita si Ini, kenal dengan si Itu, dan si Itu kenal dengan si Dia, dan kita juga berteman dengan si Dia. Karena kita cenderung berteman dengan mereka yang memiliki kesamaan dengan kita. Karena tanpa disadari, sebenarnya kita tidak mencari teman. Namun kita berhubungan atau bergaul dengan orang-orang yang berada dalam ruang fisik yang sama dengan kita. Malcolm Galdwell ternyata juga berpikiran serupa, dan menuliskan sedikit hasil risetnya tentang hal itu di buku Tipping Point miliknya.

Karena itu, sebenarnya teman-teman kita juga mencerminkan diri kita. So, be kind. Agar kamu juga mendapatkan teman-teman yang baik. Saya sadar bahwa saya orang yang beruntung, dan saya bersyukur akan hal itu (atau saya bersyukur, maka saya merasa beruntung. Entah.). Salah satu faktor yang akhirnya saya sadari menjadi alasan dari beberapa achievement ialah bukan karena saya pandai atau rajin. Tapi karena teman-teman saya; orang-orang yang sering berinteraksi dengan saya. Kalau saya tidak punya mentor si A, maka dulu pasti saya nggak akan tahu kompetisi ini-itu. Kalau saya tidak dekat dengan si B, C, D dan seterusnya maka dulu pasti saya nggak akan ikut terlibat dalam kegiatan ini-itu. Seterusnya, dan seterusnya.

Bayangkanlah, baru beberapa tahun berteman saja tanpa kamu rencanakan sebelumnya kamu banyak mendapatkan ‘kejutan’ dari proses pertemananmu. Bagaimana beberapa dekade mendatang? Saat tidak hanya kamu, namun teman-teman kamu juga sudah menjadi ‘orang’. Dan sebagai catatan, jangan oportunis dalam berteman. Prosesi pertemanan tidak sesederhana menambah dan mengurang seperti matematika. Saya sendiri, percaya seratus persen dengan yang namanya reaksi kimia. Kalau tidak ada reaksi kimia, maka bisa dipastikan kami akan susah menjadi teman dekat. Dan saya orang yang cenderung susah mengoleksi teman dekat, sejak awal mula. Semuanya bertumpu pada reaksi kimia.

Dan kebetulan, Dia memberikan saya teman-teman dekat yang ‘menyenangkan’. Untuk itu, saya sungguh merasa beruntung.

Pendeteksi Rasa

Kamu jatuh cinta, lalu apa? Mengapa ada jatuh sebelum cinta? Bukankah jatuh itu menyakitkan? Menarikmu dalam kubangan yang mungkin gelap dan membuatmu tak dapat melihat, yang mungkin dingin dan membuatmu menggigil, yang mungkin kotor dan membuatmu jengah. Kamu sudah tahu, jatuh tidak dapat dipisahkan dengan cinta. Itu satu paket, hemat ataupun tidak hemat, itu satu paket. Dan kamu, juga aku, dan juga mereka, harus mau menelan keduanya.

Dan kapan, kamu tahu kalau yang kamu rasakan itu cinta yang sebenarnya? Adakah alat pendeteksi semacam metal detector, tapi ini untuk mendeteksi perasaan? Karena sejujurnya, aku kesusahan untuk mendefinisikan perasaanku sendiri. Kata mereka, kamu akan langsung tahu begitu saja ketika kamu merasakannya. Lalu kalau berarti, aku belum pernah ya merasakannya? Lalu dasar apa yang dulu membuatku mengiyakan ajakan beberapa pria untuk berhubungan dengan mereka? Aku suka dengan mereka, karena kalau tidak maka mereka juga tidak akan lolos seleksi dan sampai ke tahap selanjutnya. Ah. Aku tahu. Aku hanya suka. Kata mereka lagi, bukankah suka itu berbeda dengan cinta?

Apa arti sebuah kata, sebenarnya? Mengapa suka itu bukan cinta, dan mengapa cinta itu lebih daripada suka? Kalau suka itu diganti dengan cinta, —SHUT UP. Mengapa ya susah untuk tidak memikirkan segala.

Investasi

Invest in failure, invest in your passion(s), invest in the challenges of your generation, invest in the right people(s) & invest in your community. (Wajahat Ali)

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti sebuah training yang diadakan oleh US Embassy di Jakarta. Training mengenai terutama sekali mengenai leadership dan new media. Dari sekian banyak materi yang dishare oleh dua trainer kece kita yang diimpor langsung dari AS, hingga sekarang masih ada beberapa quote yang saya ingat benar-benar. Dan salah satunya ialah yang sudah saya kutip di awal sekali. Tentang investasi yang seharusnya kita lakukan dalam hidup kita.

Banyak orang yang invest dalam hal-hal yang akhirnya mereka sesali. Saya, hanya tidak ingin menjadi mereka yang di penghujung senja usianya melihat ke belakang, dan membatin diam-diam dalam hati; what if. Seandainya. Seandainya boleh saya mengandai-andai sekarang, maka keinginan saya ialah untuk menjadi orang yang merasa puas karena telah melakukan yang benar ketika saya sudah mulai benar-benar menua. Seandainya.

Wajahat Ali, salah seorang trainer saya kemarin, memberikan tips yang sekiranya saya amini. Kalau kamu tidak ingin menjadi orang yang nanti menyesal, mungkin kamu harus meredefinisikan konsep investasi kamu. Sudah benarkah?

Menarik ketika jenis investment pertama yang disebut Wajahat ialah invest on failure. Berinvestasilah pada kegagalan. Mari sejenak diam dan melihat sekeliling, adakah orang sukses yang tidak pernah gagal? Aneh, bahkan cenderung lucu, ketika saya membaca biografi orang-orang hebat dan menemukan bahwa mereka selalu membanggakan kegagalan yang pernah mereka raih. Karena memang benar adanya, kegagalan adalah kunci keberhasilan. Kunci, karena kegagalan memberikan kita banyak sekali pelajaran. Pelajaran, yang bisa kita cermati dan maknai. Satu hal yang patut diingat jelas-jelas, jangan menyerah ketika kamu gagal. Coba, dan coba lagi. Evaluasi, lakukan yang lebih baik dari sebelumnya. Kegagalan mendewasakanmu, memperbaikimu, menjadi gurumu; hanya ketika kamu ma(mp)u memanfaatkannya dengan sebenar-benarnya.

Passion. Berinvestasilah dalam passion kamu. Seringkali saya mengamati perkembangan orang di sekeliling saya. Dan saya menemukan pattern yang sedikit lucu. Bahwa mayoritas, bahkan mungkin hampir semua, orang yang sukses di sekitar saya ialah mereka yang mengikuti passionnya. Saya mulai dari kakak saya. Passionnya ialah traveling, dan anehnya tanpa dia sadari sejak awal mula dia memutuskan untuk ‘sering-sering’ traveling, passion dia itulah yang membawanya ke berbagai kesempatan berprestasi lainnya. Lalu kakak sepupu saya, passionnya ialah debate. Sama seperti yang terjadi dengan kakak saya, passion kakak sepupu sayapun mengantarkannya ke berbagai kesempatan berharga lainnya. Saya cukup beruntung, karena saya tahu arti penting ‘mengetahui passionmu’ sejak awal mula.  Sehingga saya sedikit lebih awal mengetahui apa yang saya suka dan apa yang saya mau, daripada teman-teman saya. Yang kemudian menjadi pertanyaan penting setelah kamu tahu apa passionmu ialah, beranikah kamu menjalani passionmu di kehidupan sehari-hari? 

Invest in the right people and in your community. Enough said, teman-teman yang suportif akan membuatmu lebih mudah untuk berkembang. Untuk di kelilingi orang-orang baik, itu bukan perkara yang mudah. Saya sendiri sebenarnya percaya, semua orang itu pada dasarnya baik. And yes, good people attract good people. Thus, be kind because for everyone you meet is fighting a very hard battle. Saya beruntung, dan seringkali merasa terberkati. Mengapa? Karena tanpa saya sengaja, Tuhan menemukan saya dengan teman-teman yang tepat dan saling mendukung. Saya masih ingat sekali, pada pertemuan saya dengan dua orang teman (yang dulu semacam perfect stranger) sekitar dua tahun yang lalu. Ketika saya masih menjadi mahasiswa semester awal yang tersesat. Siapa sangka apabila pertemuan itu, kemudian membawa perubahan yang baru saya sadari setahun setelahnya. Dan ya, care about what the right people tell about you. Pola yang sama juga berlaku dengan kita, terhadap komunitas kita.

Seperti layaknya karakter dari investasi, kita mungkin tidak akan merasakannya sekarang ini. Tapi yakin, semoga kita akan merasakan manfaatnya dalam tahun-tahun yang akan datang. So guys, have you been investing in the right areas?

Generation Change ID & Viral Peace

With Wajahat Ali

Investing in yourself is the best thing you can do. If you’ve got talents, no one can take them from you. (Warren Buffett)

Manusia Paradoksial

Kalau kamu berkenan kuberikan satu nama panggilan, maka aku akan dengan senang hati menyebutmu manusia paradoksial. Kamu, penuh paradoks. Paradoks, yang seringkali membuatku tersesat di tengah-tengah rimba yang khas menurut versi kamu. Kamu, manusia paradoksial.

Kamu senang merokok, namun benci setengah mati dengan asap rokok. Katakan padaku bagaimana caranya, kamu dapat merokok tanpa menghirup asapnya. Bukankah jarak antara sela bibirmu dan lubang hidungmu bahkan tidak ada sejengkal? Kamu bangga menjadi manusia malam, namun juga mati-matian tidak mau meninggalkan matahari yang diam-diam akan naik ketika petang mulai hilang. Kamu mengeluh tidak enak badan, kalau bangunmu melebihi pukul tujuh pagi. Tapi kamu juga bersikeras bertahan, dan aku tahu meskipun kamu tidak bersikeraspun, kamu tidak  bisa tidak terjaga hingga malam melewati puncaknya. Kamu bercinta dengan pekerjaanmu, seharian. Tapi kamu juga mengeluh ingin menikmati setiap detik harimu, dengan ke-selo-an total. Tapi kamu pasti selalu pusing kalau tiada pekerjaan. Kamu mencari kesibukan. Tapi mencandui momen-momen puitis ketika kamu menikmati alam dan segala yang bergerak di sekitarmu; menikmati dengan ketotalan yang absolut akan membuatku mustahil mengusikmu.

Lalu, aku diam-diam terdiam. Apa sebenarnya yang kamu mau, hai kamu manusia paradoksial? Lalu, diam-diam aku mulai paham. Bukankah sebenarnya kita semua memiliki kecenderungan untuk menjadi kaum paradoksial? Ah, paradoks.

Homesick :(

Ternyata, tingkat kerasionalitasan saya berbanding lurus dengan frekuensi kepulangan. Semakin sering pulang, saya semakin rasional. Vice versa, kalau sudah lama nggak pulang, rasanya saya mati rasa. Saya sendiri juga heran, kenapa ya saya sungguh homesick-an sekali. Ceritanya sore ini saya sedang sedih. Rabu-Kamis-Jumat-Sabtu-Minggu-Senin nggak ada kuliah tapi nggak bisa pulang. Minggu depannya juga nggak bisa pulang karena harus ke Jakarta dan Bandung (geez, baru sadar sejak Desember tahun lalu kemarin saya tiap bulan selalu menginjakkan kaki ke Soetta. Kok saya jadi lebih rajin ke Jakarta daripada temen-temen yang asli sana ya -___-). Padahal saya sudah pengen pulang sekali sekarang, nggak nanti, nggak minggu depan atau juga minggu depannya lagi.

Heran juga sih. Kenapa saya bisa se-homesick-an ini. Apa kabar nanti kalau saya benar-benar nggak bisa pulang ke rumah dalam rentang periode yang cukup lama? Ada apa sih di rumah saya yang membuat saya benar-benar selalu ingin menginjakkan kaki dan membaui atmosfer di dalamnya?

A house is made of walls and beams; a home is built with love and dreams

Bukan rumahnya yang membuat rindu, tapi orang-orang yang ada di dalamnya. Orang tua, adik, bahkan juga si Mbak. Kadang saya juga bertemu kakak saya di rumah, kalau saya sedang beruntung. Saya jadi teringat momen ketika saya pertama dilepas di Yogyakarta. Sebenarnya momennya sedikit hiperbolis. Singkat cerita, orang tua mengantar saya ke Jogja. Malam hari mereka pulang ke rumah, dan siang hari besoknya saya menyusul pulang ke rumah. Sampai rumah saya langsung mencari Ibu dan memeluknya erat-erat. Tak mau lepas. Iya, saya lebay.

Saya adalah orang rumahan, sebenarnya. Kalau sedang di rumah, saya bisa seminggu nggak keluar rumah. Home is definitely my sanctuary. Di rumah saya melakukan segala ketidakproduktifan. Setiap hari adalah me time. Dari mulai main the sims sampai mabok, main WE, nonton film, nonton TV, tidur-tiduran, nulis, baca, duduk di teras atas melihat langit yang semula biru hingga oranye hingga berubah petang.

Adik saya ada 3. Namanya Salma, Rafly dan Marsha. Ketiganya unik dengan cara mereka masing-masing. Saya ingat sekali hari di mana mereka dilahirkan, dan momen-momen ketika saya memiliki adik baru. Semoga saja saya dan kakak bisa menjadi contoh yang baik untuk mereka (ini apa sih -__-). Btw, saya sayang banget sama adik-adik saya. Sayang banget banget juga sama orang tua saya. Juga sama kakak saya. Mereka adalah alasan saya untuk melakukan sekarang yang saya lakukan, dulu yang saya lakukan, dan nanti yang akan saya lakukan.

adik terakhir yang nakal, suka memukul dan suka menggigit: Marsha

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.